Siswa SMAN 2 Rambah Rohul Masih Belajar Beralaskan Lantai

Administrator - Selasa,04 Oktober 2016 - 12:02:09 wib
Siswa SMAN 2 Rambah Rohul Masih Belajar Beralaskan Lantai
Sebanyak 60 siswa SMAN 2 Rambah, hingga saat ini masih belajar beralaskan lantai. rtc
RADARRIAUNET.COM - Meski berada di Ibukota Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), namun tidak menjamin infrastruktur sekolah terpenuhi secara keseluruhan. Seperti Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Rambah, sekira 60 siswa dan siswi Kelas XI atau Kelas 2 di sekolah ini masih belajar beralaskan lantai.
 
Mirisnya lagi, SMAN 2 Rambah tak jauh lokasinya dari rumah dinas Plt Bupati Rohul H. Sukiman. Bahkan, sebagian besar siswa melewati rumah dinasnya saat akan berangkat atau pulang dari sekolah.
 
‎Kepala SMAN 2 Rambah Windra Yenni M.MPd, mengakui sekira 60 siswa Kelas XI terbagi di dua ruangan kelas belajar, masih belajar di lantai. Hal ini tentu jadi permasalahan dan harus segera diselesaikan, apalagi tidak sedikit orang tua siswa dan siswa sendiri mengeluhkan kondisi ini.
 
Yenni mengakui dirinya sudah jauh-jauh hari mengajukan pengadaan meubiler, yakni sarana dan prasarana berupa meja dan kursi untuk mendukung proses belajar mengajar siswa.
 
"Termasuk kelengkapan kantor. Namun hingga saat ini baik Pemkab (Rohul) dan Pemprov Riau jawabannya masih sama seperti lagu Ridho Roma 'Menunggu'," ujar Yenni saat ditemui awak media di kantornya di SMAN 2 Rambah, Senin (3/10/16).
 
Yenni mengakui sudah kesekian kalinya pihak sekolah mengajukan proposal untuk penyediaan kursi dan meja belajar siswa, baik ke Pemkab Rohul dan Pemprov Riau, namun sayangnya belum ada jawaban.
 
Saat pengalihan pimpinan, baik Kepala Daerah serta Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Rohul, perempuan ini sangat berharap ada penyediaan kursi dan meja belajar, namun belum juga terealisasi.
 
"Sempat sih saya pertanyakan ke Disdikpora (Rohul) ke Bidang Perlengkapan, namun diarahkan ke Bidang Sarana dan Prasarana, dan terakhir bertemu Pak Plt Kadis (Zulkifli), dan jawabanya tetap sama, yakni tunggu dulu, mana tau ada yang bisa dipinjam dari sekolah lain," ungkap Yenni.
 
Karena tak kunjung terealisasi, Yenni mengakui sempat memberikan ultimatum ke pihak Pemkab Rohul atau Pemprov Riau, bila tidak mampu sediakan kursi dan meja, maka pihak SMAN 2 Rambah akan memanggil pihak Komite Sekolah untuk ‎pengadaan kursi dan meja, meski langkah itu bertentangan dengan Surat Edaran Plt Kadisdikpora Rohul Zulkifli yang sudah melarang seluruh bentuk kutipan sekolah.
 
Yenni mengaku sedih melihat anak didiknya harus belajar di lantai, namun upaya mengajukan penyediaan kursi dan meja belajar yang sudah dilakukan sejak Maret 2016 silam belum juga terealisasi hingga saat ini.
 
‎"Saya sudah masukkan (proposal) ke provinsi, namun belum ada tanggapan dan belum ada jawaban yang pasti. Saya mau panggil wali murid ada rambu-rambu. Mau saya diamkan, orang tua bertanya-tanya. Ya ibarat buah simalakama lah," keluhnya.
 
Yenni juga mengakui tidak sedikit siswa dan siswi di sekolahnya yang mengeluhkan sulitnya harus belajar beralaskan lantai. Mereka mengakui tidak konsentrasi, karena sulit ketika menulis.
 
"Bahkan ada siswa yang belajar sampai tidur-tiduran. Ya mau bagaimana lagi. Ada yang ngaku lehernya sakit, dan sebagainya," ungkap Yenni lagi, dan mengakui ada siswa yang membawa tikar dan membawa meja lipat agar bisa menulis.
 
"Saya berharap ke pemerintah tidak muluk-muluk. Cukup bangku dan meja saja direalisasikan sudah cukup. Dan satu lagi jalan menuju ke sekolah tolong diperbaiki. Udah itu aja harapan kami," tandas Yenni.
 
Beberapa siswa yang ditanyai apa yang dirasakan di lantai mengaku sungguh tidak nyaman, dan membuat mereka tidak konsentrasi mengikuti proses belajar mengajar.
 
"Kami mau belajar seperti sekolah-sekolah lain. Pakai meja dan bangku," harap Murpi, siswa Kelas XI di SMAN 2 Rambah yang harus belajar di lantai.
 
 
rtc/radarriaunet.com