Ibu Satu Anak Berurai Air Mata Tinggalkan Mapolres Inhil

Administrator - Selasa,25 Agustus 2015 - 12:05:54 wib
Ibu Satu Anak Berurai Air Mata Tinggalkan Mapolres Inhil
Rusdawati bersama sang anak usai meninggalkan Mapolres Inhil

TEMBILAHAN (RRN) - Seorang Ibu satu anak, Rusdawati (38), asal KM 10, Desa Petalongan, Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, berurai air mata saat meninggalkan Mapolres Inhil.

Ia meninggalkan Mapolres tersebut usai mendatangi SPKT, dimana dirinya membuat laporan terkait penganiayaan dan pengrusakan yang dilakukan oleh Kepala Desa di tempat ia tinggal.

''Saya membuat laporan terkait pengrusakan dan penganiayaan, tapi saya malah di suruh kembali ke Subsektor,'' ujar Rusdawati.


Sebelumnya, ia mengakui telah membuat laporan di Subsektor Sencalang, namun karena laporan yang dibuat Subsektor itu tidak sesuai dengan yang terjadi, makanya ia mendatangi Mapolres Inhil untuk melaporkan kasus penganiayaan dan pengrusakan tersebut.

''Tapi sudah di sini, malah disuruh kembali lagi buat di Subsektor,'' ujarnya lagi.

Hal itulah yang diakuinya membuat ia bersedih, hingga meninggalkan Mapolres Inhil dengan mata berkaca-kaca. Untuk kasus yang dilaporkannya, ia mengatakan, bahwa, rumahnya telah didatangi sang Kades dengan beberapa orang lainnya sehingga mengakibatkan kerusakan. 

 
Kepala Desa (Kades) Petalongan, Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, Jazmarizan mengaku kaget saat dirinya dilaporkan oleh Rusdawati ke SPKT Polres Inhil terkait kasus pengrusakan dan penganiayaan. Kepada awak media, ia mengaku bahwa, baik pengrusakan maupun penganiayaan, dirinya tidak mengatahui itu sama sekali.

''Biar saja lah dia (Rusdawati), nantikan ada proses pemanggilan saksi-saksi, di sana akan terbukti, bahwa saya tidak ada melakukan hal-hal yang dia tuduhkan,'' jelas Jazmarizan.


Jazmarizan pun menceritakan bagaimana awal kejadian hingga dirinya dituduh melakukan pengrusakan dan penganiayaan.

''Awalnya, Rusdawati mengklaim soal tanah milik almarhum ayahnya, padahal tanah itu sudah dijual kepada warga sebelum ayahnya meninggal,'' ceritanya.


Tanah tersebut, sudah dibangun rumah oleh beberapa warga yang membeli tanah itu, sebagai Kades ia mengatakan hanya menengahi permasalahan antara warga yang sudah membeli tanah itu dengan Rusdawati.

''Tapi, saya malah dituduh yang menjual tanah milik orangtuanya itu,'' tambahnya.


Puncaknya, Kamis (20/8/2015), pengacara Rusdawati dikatakan Jazmarizan mendatangi rumahnya, dan sempat terjadi adu mulut. Setelah sang pengacara pulang, Jazmarizan mengaku, dia kemudian menuju rumah Rusdawati untuk meperjelas permasalahan ini.

''Saya datang ke sana (rumah Rusdawati), sendirian, tidak ada ajak siapa-siapa, tapi malah dikatakan saya bawa orang-orang suruhan saya,'' ungkap Jazmarizan.


Ia juga mengaku, tidak mengetahui, setelah dia berada di rumah Rusdawati, banyak masyarakat lainnya yang ikut ke rumah tersebut, termasuk para pemilik tanah yang telah membeli tanah dari orangtua Rusdawati.

''Ketika itu orangnya ramai, saya tidak tau pasti, tapi yang jelas, baik membalik meja apalagi melukai anaknya, bukan saya yang melakukan. Yang jelas, kita liat saja, semuanya bakalan terbukti setelah dilakukan penyelidikan oleh pihak kepolisian,'' tukas Jazmarizan.


 Sementara itu, Kasubsektor Sencalang, Iptu Erizal saat dikonfirmasi awak media terkait persoalan ini, membantah bahwa dirinya membuat laporan yang tidak sesuai dengan apa yang telah dilaporkan sebelumnya.

''Tidak sesuai apa, saya setelah terima laporan malahan langsung datang ke TKP, mencatat saksi-saksi dan lain-lainnya, kenapa malah saya yang dipermasalahkan,'' tukas Erizal. (teu/grc)