Tiga Agenda Perkotaan Digelar Menuju Konferensi Habitat III

Administrator - Sabtu,17 Oktober 2015 - 12:30:30 wib
Tiga Agenda Perkotaan Digelar Menuju Konferensi Habitat III
SHUTTERSTOCK Ilustrasi kemacetan ibukota.

JAKARTA (RRN) - Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam "2014 Revision of World Urbanization Prospects", jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan (urban) melesat dari 746 juta jiwa pada 1950 menjadi 3,9 miliar jiwa pada 2014. Sementara saat ini saja, sebanyak 54 persen penduduk dunia tinggal di perkotaan dan akan meroket 66 persen pada tahun 2050.

Di Indonesia, menurut Direktur Keterpaduan Infrastruktur Permukiman Direktorat Jenderal Cipta Karya Dwityo A Soeranto mengatakan, sebanyak 50 persen penduduknya tinggal di kota, khususnya kota-kota besar akibat urbanisasi.

"Urbanisasi akan terus terjadi. Proses ini tidak bisa dielakkan dan berlangsung terus. Urbanisasi merupakan tantangan ke depan. Kalau bisa dimanfaatkan, akan ada keuntungannya," ujar Dwityo di Jakarta, Jumat (16/10/2015).

Tantangan perkotaan di Indonesia, kata Dwityo, adalah sumber daya alam, finansial, sumber daya manusia, infrastruktur, modal sosial, dan institusi terbatas. Untuk itu, perlu ada penyusunan kebijakan perkotaan ke depan.

Urbanisasi sebaiknya tidak dilihat sebagai kendala. Sebaliknya, urbanisasi bisa memberikan nilai tambah dari sisi ekonomi lokal, pendidikan, kesehatan, teknologi yang lebih baik lagi. Hal inilah yang mendasari UN Habitat menggelar Agenda Baru Perkotaan 2015.

Ruang terbuka hijau di pinggir Waduk Pluit, Jakarta Utara, Jumat (6/2/2015). Ruang terbuka hijau menjadi salah satu penyeimbang dan oasis di tengah belantara gedung kota.


Dalam membahas Agenda Baru Perkotaan 2015, terdapat tiga rangkaian acara utama yakni Asia Pacific Urban Youth Assembly (APUFY) pada 17-18 Oktober 2015, Asia Pacific Urban Forum 6 (APUF 6) 19-21 Oktober 2015, dan Asia Pacific High Level Regional Meeting (HLM) for Habitat III 21-22 Oktober 2015. APUFY merupakan perkumpulan pertama dari organisasi dan kelompok kaum muda yang berbeda. Tujuannya adalah untuk melakukan diskusi seputar agenda perkotaan di tingkat regional. Perkumpulan ini menawarkan langkah-langkah penguatan kerjasama konstruktif dengan kaum muda sebagai pemangku kepentingan dari isu-isu perkotaan di kawasan Asia Pasifik.

Tahun ini, APUFY diselenggarakan Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR). Acara tersebut juga mendapat dukungan dari PBB untuk program pemukiman UN-Habitat dan Asian Development Bank (ADB). Mitra kerja lainnya yang ikut berpartisipasi termasuk organisasi pemuda, kelompok masyarakat, dan akademisi maupun lembaga ilmu pengetahuan.

Banjir merendam kawasan Boulevard Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (10/5/2015). Jakarta menghadapi masalah penurunan muka tanah. Kondisi itu diperparah oleh semakin minimnya daerah resapan air yang diganti dengan hunian dan gedung-gedung pencakar langit


APUFY akan melibatkan 300 peserta dari seluruh negara di Asia Pasifik. Setelah APUFY akan dipilih 50 perwakilan untuk mengikuti APUF 6. Selanjutnya, peserta terpilih akan mengikuti HLM.

Adapun, puncak acara dilaksanakan dalam bentuk pertemuan tingkat tinggi lanjutan PrepCom III untuk wilayah Asia Pasifik di Surabaya, Juli 2016. Serangkaian acara ini merupakan bagian persiapan negara-negara menuju Konferensi Habitat III, yang akan menyepakati agenda baru perkotaan atau "New Urban Area". (mtvn)