Waspadai Siklus 5 Tahunan DBD

Administrator - Kamis,01 Oktober 2015 - 12:46:44 wib
Waspadai Siklus 5 Tahunan DBD

BENGKALIS (RRN) - Puncak siklus lima tahunan penyebaran demam berdarah dengue diperkirakan terjadi tahun 2015, ditandai dengan peningkatan jumlah kasus penyakit tersebut di sejumlah daerah. Masyarakat pun diimbau waspada dan aktif mencegah perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang menularkan penyakit itu.


Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis melalui Kepala Bidang Pengendali Masalah Kesehatan Lingkungan, Irawadi SKM, mengatakan, siklus lima tahunan ini merupakan hasil pengamatan data jumlah kasus DBD dalam kurun waktu tertentu. Dari pengamatan data itu muncul sebuah pola DBD yang menunjukkan grafik naik atau turun.


Berdasarkan pengamatan tersebut, ada suatu masa yang menunjukkan pola jumlah kasus DBD yang lebih tinggi dibanding waktu-waktu lainnya, yang biasanya muncul setiap lima tahun. Inilah yang kemudian disebut dengan siklus lima tahunan DBD. Kalau memang itu terjadi maka ada kekhuatiran kasus DBD di Kabupaten Bengkalis akan meningkat drastis bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk diketahui, pada tahun 2014 lalu, ada 591 kasus DBD dengan kematian sebanyak 7 orang yaitu Kecamatan Bengkalis 4 orang kasus kematian, Kecamatan Mandau (Duri) 2 orang dan kecamatan Bukit Batu 1 orang. Tahun 2014, kasus DBD terjadi di 7 kecamatan dari 8 kecamatan. Satu-satunya yang tidak ada kasus DBD adalah kecamatan Rupat.


Irawadi mengatakan, sejauh ini belum diketahui penyebab pasti mengapa setiap lima tahun sekali kasus DBD meningkat drastis. Namun, dari sejumlah literatur, sikIus lima tahunan DBD disebabkan oleh sirkulasi virus dengue yang terdiri dari empat stereotip. Jika ada satu stereotip virus dengue yang dalam beberapa periode tidak muncul, maka ketika dia akhirnya menginfeksi manusia, diperkirakan jumlah korbannya akan banyak.


Pasalnya, orang yang sudah pernah terkena virus dengue stereotip lain pun rawan untuk terinfeksi kembali oleh virus dengan stereotip berbeda. Terlebih dengan kondisi asap saat ini dimana akibat dari suplai oksigen yang kurang menyebabkan daya tubuh, terutama anak-anak menurun. Hal itu akan menyebabkan virus DBD mudah menyerang. Hingga bulan September ini saja telah terjadi 22 kasus DBD dan semuanya anak-anak.


Menurut Irawadi, peningkatan kasus DBD di Bengkalis ini membuat Diskes Kabupaten Bengkalis terus melakukan fogging di area terdampak. ''Setiap hari kita fogging, tiada hari tanpa fogging,'' katanya seraya menambahkan, selain fogging, pihaknya juga gencar melakukan penyuluhan terkait DBD, khususnya di desa-desa yang muncul kasus DBD serta desa-desa berdekatan.


Pola hidup bersih menurut Irawadi sangat penting untuk mencegah munculnya DBD. Kemudian, sesegera mungkin membawa anak-anak yang mengalami demam panas ke Puskesmas atau RSUD agar tidak terlambat ditangani oleh petugas kesehatan kalau hasil diagnosa ternyata demam DBD. (teu/grc)