Tercatat 17.820 Kasus Riau dan 9 Provinsi Tertinggi DBD

Administrator - Jumat,13 Maret 2020 - 12:57:27 wib
Tercatat 17.820 Kasus Riau dan 9 Provinsi Tertinggi DBD
Ilustrasi demam berdarah dengue atau DBD. Foto shutterstock

RADARRIAUNET.COM: Pada saat ini, perhatian masyarakat terpusat pada isu virus corona atau Covid-19. Namun, tanpa disadari dan sangat mengejutkan adalah, kasus Demam Berdarah Dengeu ( DBD) di Indonesia awal tahun 2020 ini telah mencapai 17.820 kasus kesakitan. Hal ini diungkapkan dalam laporan yang diterima oleh Kementerian Kesehatan RI sejak awal Januari hingga Rabu, 11 Maret 2020, sebagaimana dilansir dari laman Kompas.com, Kamis (12/3).

 

Disampaikan oleh Direktur P2P Tular Vektor dan Zoonotik, Dr Siti Nadia Tarmizi, angka kasus DBD pada awal Januari 2020 lebih tinggi daripada tahun 2019.  "Tapi kalau dibandingkan data hingga 11 Maret, angka kejadian kasus DBD di Indonesia justru lebih rendah daripada tahun lalu (2019)," kata Nadia, di Gedung Kemenkes, Rabu (11/3).

 

Nadia juga menyampaikan 10 provinsi dengan jumlah kasus terbanyak hingga 11 Maret 2020. 10 provinsi itu adalah: 1. Lampung dengan 3.423 kasus, kematian 11 orang 2. Nusa Tenggara Timur dengan 2.711 kasus, kematian 32 orang 3. Jawa Timur dengan 1.761 kasus, kematian 13 orang 4. Jawa Barat dengan 1.420 kasus, kematian 25 orang 5. Jambi dengan 703 kasus, kematian 1 orang.

 

Selanjutnya, adalah 6. Jawa Tengah dengan 648 kasus, kematian 4 orang 7. Riau dengan 602 kasus, kematian 2 orang 8. Sumatera Selatan dengan 593 kasus, kematian 1 orang 9. DKI Jakarta dengan 583 kasus, tidak ada kematian 10. Nusa Tenggara Barat dengan 558 kasus, kematian 1 orang.

 

Sementara itu, berikut adalah 10 kabupaten/kota dengan jumlah kasus DBD tertinggi sampai 11 Maret 2020. 1. Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur mencapai 1.216 kasus 2. Kabupaten Lampung Selatan, Lampung mencapai 664 kasus 3. Kabupaten Pringsewu, Lampung mencapai 591 kasus 4. Kabupaten Lampung Tengah, Lampung mencapai 490 kasus 5. Kabupaten Lampung Timur, Lampung mencapai 378 kasus 6. Kabupaten Lampung Utara, Lampung mencapai 270 kasus 7. Kota Bandar Lampung, Lampung mencapai 270 kasus 8. Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung mencapai 256 kasus 9. Kota Bandung, Jawa Barat mencapai 256 kasus 10. Kabupaten Malang, Jawa Timur mencapai 218 kasus.

 

Kepada masyarakat, baik yang di wilayah yang disebutkan di atas atau tidak, diminta untuk terus waspada dan hati-hati terhadap potensi terjangkit DBD ini."Meskipun tren ini menurun dan tidak tahu sampai kapan tren DBD periode musim hujan ini berlangsung, kita harus waspada (karena) bisa jadi Maret ini puncaknya," kata dia.

 

Kenali 3 Fase DBD

Terkait sebaran DBD ini maka masyarakat diminta untuk mewaspadai dan mengenali 3 fase kasus DBD tersebut. Saat virus dengue penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) menyerang tubuh seseorang, maka imunitas atau sistem kekebalan tubuh akan terus berusaha melawan dan membunuh virus tersebut. Jika imunitas gagal melawan, maka gejala-gejala DBD akan mulai muncul.

 

Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Dr dr Leonard Nainggolan SpPD-KPT mengatakan bahwa pasien yang menderita DBD akan mengalami tiga fase. Yakni, 1. Fase Demam. Menurut Leo menyebutkan fase demam biasanya terjadi pada hari pertama hingga hari ketiga seseorang terinfeksi virus dengue. Pada fase ini juga, kunci gejala utama berupa demam tinggi mendadak akan dialami pasien. Disertai dengan dua atau tiga gejala penyerta seperti pegal, linu, sakit kepala dan lainnya.

 

Kemudian fase 2. Fase Kritis. Pada fase kritis biasanya terjadi pada hari keempat hingga hari keenam setelah pasien terinfeksi virus dengue. "Bukan berarti fasenya kritis, tetapi disitulah biasanya terjadi yang namanya kebocoran plasma," kata Leo. Kebocoran plasma ini terjadi akibat virus dengue itu berada di pembuluh darah pasien. Pembuluh darah pasien melebar, melonggar, dan terdapat celah antar sel pembuluh darah. Celah yang melebar di antara sel pembuluh darah itulah yang menyebabkan terjadinya kebocoran plasma atau cairan tubuh. "Sel pembuluh darah yang dengan satu lainnya harusnya nempel dekat, karena adanya virus dengue jadi melebar, sehingga terjadilah bocor," ujarnya.

 

Kebocoran plasma yang tidak dikendalikan dengan segera dapat membuat pasien akan mengalami gejala lebih berat atau shock. Untuk diketahui, 91 persen plasma terdiri dari air atau cairan. Jika celah antar sel pembuluh darah menganga, artinya air juga akan menjadi yang paling banyak keluar.  Sehingga yang terjadi adalah gangguan cairan atau kurangnya cairan dalam pembuluh darah yang menyebabkan hipopolemik dan memicu shock, serta kondisi yang lebih buruk lainnya.

 

Oleh sebab itu, kata Leo, kunci utama pada DBD adalah melihat tanda-tanda adanya kebocoran plasma. Mengetahui kebocoran plasma ini harus dilakukan pemeriksaan hematokrit, pemeriksaan USG, dan pemeriksaan albumin oleh tim medis. "Kalau lewat dari enam hari itu ada dua kemungkinan, sembuh atau meninggal," ucap dia.

 

Selanjutnya fase 3. Fase konvalesen (penyembuhan). Pada fase konvalesen ini disebut sebagai fase perbaikan atau penyembuhan. Pada fase ini, terlihat pasien sudah mengalami peningkatan kesehatan. Gejala-gejala yang diderita mereda, meningkatnya nafsu makan, dan organ tubuh berfungsi dengan normal. Pada kondisi ini juga, trombosit dan cairan tubuh perlahan kembali normal serta tidak terjadi kepekatan pada sel pembuluh darah.

 

RR/kps/zet