Korban Kabut Asap,

Balita 3 Tahun di Meranti Alami Pecah Pembuluh Darah, Mata Membengkak dan Membiru.

Administrator - Selasa,27 Oktober 2015 - 13:16:05 wib
Balita 3 Tahun di Meranti Alami Pecah Pembuluh Darah, Mata Membengkak dan Membiru.
FOTO: riauterkini

Asap kembali menelan korban. Seorang anak berusia 3 tahun di Meranti dikabarkan telah mengalami pecah pembuluh darah, mata membengkak dan membiru.

SELATPANJANG (RRN) - Bencana Kabut Asap akibat Kebakaran Lahan dan Hutan (Karlahut) kian menjadi momok mengerikan, satu balita berumur 3tahun di Kabupaten Kepulauan Meranti kini menjadi korban keganasannya.

Balita yang menjadi korban bernama Dini Aira Safana (3) anak dari pasangan Mardi (34) dan Sri Mulyani alias Cici (31) warga Jalan Perumbi Kanan, Banglas Barat, Kepulauan Meranti.

Dari informasi yang dihimpun ketika sejumlah awak media mengunjungi rumah kediaman korban, Jum'at (23/10/15), kondisi balita ini sangat mengkhawatirkan, Ia mengalami pembuluh darah pecah, di bagian matanya kian membengkak dan sudah membiru.

"Sebelumnya dia (Dini) hanya batuk-batuk biasa. Setelah dibawa ke rumah sakit (RSUD Meranti, red), dokter yang menanganinya menerangkan jika anak saya mengidap penyakit Ispa akibat kabut asap. Dalam jangka 100 hari pasti akan hilang,"terang orang tua korban.

Selanjutnya, kata Ibu Korban, batuk yang diderita anaknya tersebut tak juga berkurang. Lama kelamaan, lanjut dia, matanya mulai membengkak serta membiru.

"Setelah diperiksa, dokter yang menangani mengatakan jika Ispa yang diderita anak saya makin parah. Dimana akibat sering batuk keras, pembuluh darah pecah sehingga membuat keputih-putihan di mata menjadi merah, memar di bagian kelopak mata," sebut dia.

Menurut keterangan dokter yang menangani juga, lanjut Cici, di rumah sakit tersebut obatnya tidak ada, disarankan agar Dini dirujuk ke rumah sakit Santa Maria Pekanbaru. Disana katanya ada dokter spesialis mata dan anak.

"Kami juga sebenarnya ingin merujuknya ke rumah sakit di Batam. Pasalnya kan di Pekanbaru juga kabut asap terbilang pekat. Tapi, sudah disarankan di sana (pekanbaru, red), ya kita coba dulu meskipun belum tahu biayanya," terang dia.

Atas kejadian ini, lajut Cici, pihak keluarga mengharapkan penanganan khusus dari pemerintah. Pasalnya, sebut dia, Ispa dikarenakan kabut asap pekat dampak dari Karlahut.

"Seandainya bisa ditangani pihak pemerintah, diharapkan bisa ditangani dengan baik," harapnya. (rud/fn)