BNPB Kerahkan 25 Pesawat dan Helikopter Bom Udara

Operasi Udara Terbesar se Sumatera dan Kalimantan, Termasuk Riau

Administrator - Selasa,29 September 2015 - 09:48:24 wib
Operasi Udara Terbesar se Sumatera dan Kalimantan, Termasuk Riau
helikopter 'water bombing'

PEKANBARU (RRN) - BNPB menambah helikopter untuk operasi 'water bombing' (pemboman air) untuk padamkan api dan asap akibat karhutla di Wilayah Sumatera dan Kalimantan. Total ada 21 pesawat dan helikopter 'water bombing' untuk operasi udara. Diantaranya 19 heli water bombing, 2 pesawat Air Tractor water bombing, dan 4 pesawat hujan buatan. Dari 19 heli tersebar di Riau 3 unit, Jambi 4, Sumsel 5, Kalbar 2, Kalteng 3, dan Kalsel 2. Dua pesawat Air Tractor dari Kementerian LHK ditempatkan di Sumsel, sedangkan 4 pesawat hujan buatan digelar di Riau, Sumsel, Kalbar dan Kalteng.

 

"Operasi udara ini adalah yang terbesar dibandingkan tahun 2014 dalam mengatasi karhutla. Tahun 2014, operasi udara didukung 12 heli dan 3 pesawat hujan buatan," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Senin (28/9/2015).


Untuk operasi darat, saat ini dikerahkan 20.837 personil tim gabungan dari BNPB, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api dan lainnya. Sebanyak 3.773 personil TNI dari pusat diperbantukan di Riau 1.444 personil, Sumsel 1.294 personil, Kalteng 500 personil, dan Kalsel 535 personil. Sedangkan Polri dari satuan Brimob dan Penyidik dari pusat yang dikerahkan 770 personil.


Cuaca kering, terbatasnya air dan sarana prasarana serta luasnya wilayah yang terbakar menjadi kendala dalam pemadaman. Api yang sudah padam terbakar kembali karena gambut terbakar di bawah permukaan. Selain itu, pembakaran juga masih terjadi di lahan pertanian, perkebunan dan semak belukar. Kondisi demikian menyebabkan jarak pandang pendek. Pada Senin (28/9/2015) pukul 15.00 WIB, jarak pandang di Palangkaraya 400 m, Muara Teweh 100 m, Pontianak 600 m, Jambi 400 m, Pekanbaru 1.000 m, Rengat 300 m, Kerinci 400 m, dan Palembang 2 km. Kualitas udara seperti ISPU di Pontianak 705 (Berbahaya), Palangkaraya (Berbahaya), Palembang 261 (Sangat Tidak Sehat), dan Pekanbaru 208 (Tidak Sehat). Ancaman karhutla berpotensi hingga akhir November 2015 jika pencegahan tidak dilakukan dengan keras dan tegas.  (teu/grc)