Radarriaunet | Pekanbaru– Suasana berbeda tampak di pusat perbelanjaan Mal Pekanbaru pada Sabtu, 25 April 2026. Ruang publik yang biasanya dipenuhi aktivitas belanja berubah menjadi panggung apresiasi bagi anak-anak dengan autisme dan disabilitas lainnya dalam gelaran Festival Autisme Riau 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan World Autism Awareness Day 2026, yang setiap tahunnya mengangkat pentingnya penerimaan dan pemahaman terhadap individu dengan spektrum autisme.
Mengusung semangat kebersamaan dalam keberagaman, festival ini tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga sarana edukasi sosial. Anak-anak yang terlibat diberikan ruang untuk tampil dan menunjukkan kemampuan mereka di hadapan publik, sekaligus mematahkan stigma bahwa keterbatasan adalah penghalang untuk berkarya. Justru melalui panggung ini, terlihat jelas bahwa setiap anak memiliki potensi unik yang layak dihargai.
Acara ini terselenggara atas kolaborasi berbagai pihak, mulai dari dunia pendidikan hingga lembaga perlindungan anak. Pemerintah Kota Pekanbaru turut memberikan dukungan melalui kehadiran perwakilan dinas terkait yang secara resmi membuka kegiatan. Dalam sambutannya, disampaikan bahwa upaya membangun masyarakat inklusif tidak bisa berjalan sendiri, melainkan membutuhkan sinergi antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan komunitas.
Penanggung jawab kegiatan, Widiyono Javawinthsa atau yang akrab disapa Kak Widi, menegaskan bahwa festival ini dirancang sebagai ruang aman dan nyaman bagi anak-anak autis untuk berekspresi tanpa tekanan. Menurutnya, pendekatan yang tepat dapat membantu anak-anak mengembangkan kepercayaan diri sekaligus membuka peluang mereka untuk berprestasi di berbagai bidang.
Hal senada disampaikan oleh ketua pelaksana Gheodevi Hernanda. Ia menilai bahwa kegiatan seperti ini memiliki dampak jangka panjang, tidak hanya bagi peserta, tetapi juga bagi masyarakat luas. Ketika publik menyaksikan langsung kemampuan anak-anak berkebutuhan khusus, maka perspektif yang selama ini terbentuk perlahan dapat berubah menjadi lebih positif dan suportif.
Rangkaian acara diisi dengan berbagai penampilan kreatif, mulai dari tari, musik, vokal, pembacaan puisi, hingga pameran karya seni visual. Setiap penampilan menunjukkan karakter dan keunikan masing-masing peserta. Tak hanya itu, panitia juga menghadirkan layanan konseling gratis bagi orang tua sebagai bentuk dukungan praktis dalam menghadapi tantangan pengasuhan anak berkebutuhan khusus.
Partisipasi peserta yang datang dari berbagai daerah, termasuk luar Provinsi Riau, menunjukkan bahwa perhatian terhadap isu inklusivitas semakin meluas. Kehadiran komunitas disabilitas, tenaga profesional, serta relawan juga memperkuat pesan bahwa dukungan terhadap anak-anak autis harus menjadi gerakan bersama.
Festival ini sekaligus menjadi refleksi bahwa ruang publik dapat bertransformasi menjadi tempat yang ramah bagi semua kalangan. Dengan semakin banyaknya kegiatan serupa, diharapkan masyarakat tidak hanya memahami, tetapi juga menerima dan memberikan kesempatan yang setara bagi anak-anak dengan autisme untuk berkembang dan berkontribusi di tengah kehidupan sosial.