Strategi Wardan Manfaatkan Sabut Kelapa ke Industri Otomotif

Administrator - Kamis,28 November 2019 - 15:42:01 wib
Strategi Wardan Manfaatkan Sabut Kelapa ke Industri Otomotif
Bupati HM Wardan Memperhatikan Pemaparan Peneliti Terkait Pemanfaatan Sabut Kelapa. Foto: Humas

RADARRIAUNET.COM: Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir terus berupaya menghasilkan program dalam memajukan produktifitas masyarakat terutama dari segi perkebunan kelapa lokal.

Kelapa dinilai memiliki potensi yang sangat menarik diantaranya sabut kelapa yang selama ini banyak terbuang, ternyata memiliki nilai ekonomis bagi petani kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Hal itu disampaikan Bupati HM Wardan kepada awak media kemarin.

Menurut Wardan, disaat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) menandatangani nota kesepahaman bersama (MoU) dengan PT Rekadaya Multi Adiprima. Hal itu, d dalam penyediaan sabut kelapa untuk perusahaan yang bergerak di bidang otomotif tersebut.

Wardan mengatakan, penandatangan MoU ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan beberapa waktu lalu dan setelah perusahan melakukan peninjauan dan juga melihat langsung potensi sabut kelapa di Inhil yang sangat besar.

Dikatakannya, PT Rekadaya Multi Adiprima mengaku membutuh bahan baku sabut kelapa sebanyak 100 ton untuk berbagai keperluan di industri otomotif. "Dengan adanya kerja sama, maka sabut kelapa yang selama ini banyak terbuang akan memiliki nilai ekonomis bagi petani kelapa," kata Wardan.

Penandatanganan MoU tersebut, lanjut dia, merupakan upaya Pemkab Indragiri Hilir agar produk turunan kelapa berupa sabut itu memiliki nilai jual tinggi dan bisa meningkatkan nilai perekonomian petani setempat.

"Apalagi, saat ini sudah terbentuk Badan Usaha Milik Desa (BumDes) pada 197 desa di Kabupaten Indragiri Hilir. Nantinya, potensi kelapa lainnya ini juga akan ditampung dan juga diolah oleh badan usaha ini," katanya.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Rekadaya Multi Adiprima, Farri Aditya, ketika diminta tanggapan, menyatakan tertarik berinvestasi dalam pembelian dan pengolahan sabut kelapa di Kabupaten Inhil yang sangat besar dan dapat memenuhi pasokan bahan baku yang dibutuhkan perusahaan mereka.

“Penandatangan MoU ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan beberapa waktu lalu dan setelah perusahan melakukan peninjauan dan melihat langsung potensi sabut kelapa di Indragiri Hilir yang sangat besar,” kata Wardan seperti dikutip Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN).

PT Rekadaya Multi Adiprima membutuhkan bahan baku sabut kelapa sebanyak 100 ton untuk berbagai keperluan di industri otomotif. “Dengan adanya (kerja sama) perusahaan ini, maka sabut kelapa yang selama ini banyak terbuang akan memiliki nilai ekonomis bagi petani kelapa,” kata Wardan.

Penandatanganan MoU tersebut merupakan upaya Pemkab Indragiri Hilir agar produk turunan kelapa berupa sabut itu memiliki nilai jual tinggi dan bisa meningkatkan nilai ekonomi petani setempat.

“Apalagi, saat ini sudah terbentuk badan usaha milik desa (BumDes) pada 197 desa di Kabupaten Indragiri Hilir. Nantinya, potensi kelapa lainnya ini juga akan ditampung dan juga diolah oleh badan usaha ini,” katanya.

Sementara, Presiden Direktur PT Rekadaya Multi Adiprima, Farri Aditya, menyatakan mereka tertarik berinvestasi dalam pembelian dan pengolahan sabut kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir yang sangat besar dan dapat memenuhi pasokan bahan baku yang dibutuhkan perusahaan mereka.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian RI menegaskan akan mendorong sabut kelapa masuk industry sebagai isi jok mbil. Itu terutama untuk menampung produk-produk utrunan kelapa asal Kabupaten Halmahera Barat (Maluku Utara).

Besarnya potensi produksi sabut kelapa di Halmahera Barat yang mencapai 32.671 hektare dengan produksi buah kelapa sebesar 35.259 ton menjadikan ini sebagai alasan Kemenperin melirik Industri Kecil Menengah (IKM) kelapa terpadu di Halmahera Barat.

“Seperti salah satu usaha jok mobil yang ada di Bekasi, ternyata jok mobil Mercedes Benz berasal dari sabut kelapa. Nah ini yang akan kami dorong bagaimana sabut kelapa dari Halmahera Barat ini masuk ke perusahaan,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih saat membuka acara bimbingan teknis produksi dan bantuan mesin peralatan untuk para IKM pengolah kelapa di Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, yang dikutip Kompas.

Selama ini sabut kelapa dari Indonesia masih banyak yang diekspor dalam bentuk mentah, belum ada penambahan nilai ekonomi. Misalnya, sebanyak 90 persen serat kelapa yang diolah Koperasi Produksi Mitra Kelapa (KPMK), Pangandaran (Jawa Barat) diekspor.

Ketua KPMK Yohan Wijaya mengatakan, selama ini masyarakat belum memiliki pengetahuan dan teknologi cara mengolah sabut kelapa menjadi serat. Bahkan, tak jarang pula mereka menganggap sabut kelapa adalah sampah dan limbah. “Masyarakat kebanyakan membuang dan dibakar,” kata Yohan.

Indonsesia merupakan salah satu penghasil buah kelapa terbesar di dunia saat ini. Sehingga potensi serat kelapa jadi industri baru sangat besar. Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) Riau menyatakan siap mendampingi dan membantu memasarkan produk olahan sabut kelapa bagi pengusaha yang baru bergerak di bidang pengolahan sabut kelapa di Riau, khususnya Inhil.

Penegasan ini disampaikan Ketua AISKI Riau, Ady Indra Pawennari, sebagai wujud komitmen asosiasi ini membantu mendongkrak peningkatan nilai jual kelapa dan produk turunannya seperti sabut kelapa, maka pihak siap membantu memasarkannya.

"Kita siap membantu para pengusaha pemula yang bergerak di bidang pengolahan sabut kelapa untuk memasarkan produk mereka," ungkap Ketua AISKI Riau, Ady Indra Pawennari.

Beliau meminta pemerintah membantu membangun industri hilir bagi produk olahan sabut kelapa ini, karena selama ini kalau hanya membangun industri hulu, maka produk olahan sabut ini akan mandek dan tidak mampu memberi nilai lebih bagi produk turunan kelapa ini.

"Pemerintah harus membangun industri hilir yang memproduksi berbagai produk yang laku di pasar, yakni diolah menjadi bahan pengganti busa atau kapas untuk bantal, kasur, jok mobil, jok motor, spring bed, dan sofa.

Selama ini pemerintah hanya membantu mesin pengolahan sabut kelapa tanpa standar yang jelas, sehingga saat sampai di lapangan tidak dapat beroperasi secara maksimal dan menguntungkan petani.

"Selain itu kita juga siap memberikan pelatihan bagi mereka yang tertarik di bidang pengolahan sabut kelapa ini," imbuhnya.

Dalam rangka membantu petani mengatasi fluktuasi harga kelapa, Industri Cahaya Buana Group Sentul Bogor, akan membuat tempat pembelian sabut kelapa.
Rencana itu mendapat respon positif dari Bupati Indragiri Hilir (Inhil) HM Wardan.

Menurutnya, hal itu akan membawa dampak positif bagi dunia perkelapaan. Bahkan bisa meningkatkan perekonomian petani."Kita sudah melihat langsung pengolahan sabut kelapa perusahaan mereka. Cukup banyak yang kita bincangkan di sana," kata Bupati Inhil HM Wardan.

Dari hasil pembicaraan awal bupati bersama pemilik Industri Cahaya Buana Group, Atong, diketahui akan dibuka tempat penampungan sabut kelapa. Minimal pada daerah yang geografisnya berdekatan dengan Inhil.

"Untuk menghemat biaya, kemungkinan mereka akan bangun itu di kawasan Kabupaten Inhu. Kan tidak jauh dari daerah kita. Biaya transportasinya jelas lebih murah ketimbang harus membawa langsung ke luar provinsi," terangnya.

Selama ini dikatakan bupati, sabut kelapa di Inhil tidak memiliki nilai apa-apa. Jika Industri Cahaya Buana Group, jadi melakukan pembelian secara berkesinambungan maka otomatis sabut kelapa akan menjadi barang berharga.

"Bayangkan saja kalau mereka beli sabut kelapa dengan harga Rp 6.000/kg. Belum lagi turunan kelapa yang lainnya. Jadi kita tidak hanya terpaku pada kelapanya saja," sambung suami Zulaikhah itu.

Industri Cahaya Buana Group, biasanya menggunakan sabut kelapa yang sudah di olah untuk kasur dan jok mobil serta barang-barang lainnya.

Sebelumnya, lima orang mahasiswa Program Doktoral jurusan Design Teknik Lund University Swedia berkunjung ke Sungai Guntung, Kecamatan Kateman Kabupaten Inhil.

Sejumlah mahasiswa dari Universitas terkemuka Swedia ini, didampingi Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (Perpekindo) Riau, untuk melihat pemanfaatan sabut kelapa di Indonesia terutama Inhil, seperti serat sabut cocofibre untuk dijadikan bahan baku packaging yang bernilai tinggi di negara Eropa.

Para rombongan juga diajak mengunjungi pabrik sabut di Desa Penjuru, Kecamatan Kateman dan langsung di sambut langsung oleh pemilik satu satunya pabrik sabut di Inhil yaitu Adi.

Disamping menjelaskan proses industri sabut di tempatnya, Adi juga berharap kunjungan ini membuka peluang kerjasama dan riset tentang penggunaan sabut.

“Kami sangat bangga atar kunjungan ini apalagi kedatangan mahasiswa universitas terkenal dari swedia. Semoga akan memperkenalkan sabut kelapa kami ke negara eropa yang nantinya akan membuka peluang ekspor cocofiber dan cocopeat ke Eropa,” ujar Adi.

Bukan hanya pengolahan sabut, mereka juga melihat secara dekat pengelolaan kelapa dalam dan kelapa hybrida oleh masyarakat setempat, begitu juga pembuatan arang kelapa dan pembuatan kopra putih.Rombongan juga menyempatkan diri berkunjung ke desa Beringin Mulya, Kecamatan Teluk Belengkong.

Para mahasiswa disambut oleh bapak Biwi Suwito, pelaku usaha kopra putih Inhil yang telah memasarkan kopra putihnya ke India melalui Bangladesh. Ketua Perpekindo Riau, Burhanuddin Rafik menuturkan, di Tembilahan nanti tim ini akan bertemu dengan Bupati Inhil dan berkunjung ke tempat pembuatan gula kelapa, industri virgin coconut oil serta bertemu dengan civitas academika Universitas Islam Indragiri (UNISI).

“Semoga kunjungan ini membawa manfaat bagi petani kelapa khususnya dan masyarakat inhil pada umumnya,” harapnya.

Dalam kunjungan ini mahasiswa yang berasal dari berbagai negara itu di dampingi oleh Mr. Galih Batara Muda dari Jakarta dan dari PERPEKINDO Riau. Mereka langsung melihat pengolahan sabut kelapa.

Selanjutnya, para rombongan juga mengunjungi pabrik sabut di Desa Penjuru Kecamatan Kateman. Rombongan di sambut langsung oleh pemilik satu satunya pabrik sabut di inhil Mr. Adi.

Disamping menjelaskan proses industri sabut di tempatnya, Mr. Adi juga berharap kunjungan ini membuka peluang kerjasama dan riset tentang penggunaan sabut."Kami sangat bangga atar kunjungan ini apalagi kedatangan mahasiswa universitas terkenal dari swedia. Semoga akan memperkenalkan sabut kelapa kami ke negara eropa yang nantinya akan membuka peluang ekspor cocofiber dan cocopeat ke Eropa," harap Adi, pengusaha kelahiran inhil itu.

Bukan hanya pengolahan sabut, mereka juga melihat secara dekat pengelolaan kelapa dalam dan kelapa hybrida oleh masyarakat setempat. Juga pembuatan arang kelapa dan pembuatan kopra putih.

Sedangkan kunjungan di Desa Beringin Mulya Teluk Belengkong. Para mahasiswa disambut oleh bapak Biwi Suwito pelaku usaha kopra putih Inhil yg telah memasarkan kopra putihnya ke India melalui Bangladesh.

"Di Tembilahan nanti,  tim ini akan bertemu dengan Bupati Inhil, berkunjung ke tempat pembuatan gula kelapa, industri virgin coconut oil serta bertemu dengan civitas academika Universitas Islam Indragiri (UNISI).

Semoga kunjungan ini membawa manfaat bagi petani kelapa khususnya dan masyarakat inhil pada umumnya," ujar Burhanuddin Rafik ketua PERPEKINDO Riau didampingi Mr. Nawawi.

Berbekal informasi dari publikasi festival kelapa internasional dan dari berita kedatangan mahasiswa Lund University Swedia beberapa waktu lalu, perusahaan Atlantiss Group Singapura berkunjung ke Negeri Hamparan Kelapa Dunia, julukan Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).

Droston Tang, Sales & Marketing Direktor Atlantiss Group mewakili kedua rekannya,  Jackson dan Matt, mengatakan keinginannya berkunjung ke Negeri Hamparan Kelapa Dunia ingin mengunjungi pabrik sabut yang memproduksi cocopeat dan cocofibre milik Adi Putra di Guntung, serta melihat langsung perkebunan kelapa rakyat.

Perusahaan asal Singapura ini juga berkeinginan bertemu dengan Perpekindo (Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia). ahirnya niat pihak Atlantis Group mengunjungi Inhil terealisasi dengan dijemput langsung oleh pengurus Perpekindo.

"Setelah mereka datang ke Inhil, Mr. Droston mengunjungi pabrik sabut milik Mr. Adi Putra di Penjuru Kateman. Melihat langsung produk pengolahan sabut," ujar Burhanuddin Rafik Ketua Perpekindo Riau kepada awak media.

Bukan hanya mengunjungi pabrik sabut, Atlantiss Group Singapura ini juga mendatangi produksi pengrajin furnuture berbahan batang kelapa di tempat bengkel kerja Soleh kediaman Bapak Muslim Muhdar di Jl. M. Boya Tembilahan.

"Kami mampu membuat apa saja pesanan mereka, asalkan bentuk dan spesifikasi furniture tersebut diberikan kepada kami," terang Sholeh, pengrajin asal Jepara tersebut.

Selanjutnya mereka juga mengunjungi kerajinan berbahan tempurung kelapa yang dibuat oleh Ridin dari Enok, juga memberikan daya tarik luar biasa sehingga pihak Atlantiss Group memberikan tawaran pemasaran produk kerajinan lokal ini.

Hasil dari kunjungan ke Kecamatan Guntung, Kateman, Kecamatan Gaung serta Tembilahan, menghasilkan tawaran yang luar biasa dari Atlantiss Group, diyakini berdampak kepada pertumbuhan perekonomian petani kelapa.

"Pihak Atlantiss Grup memberikan tawaran kerjasama produksi turunan kalapa dan pemasaran berbagai produk dari sabut kelapa pembuatan pot, media tanam, handycraft dan bahan kontruksi," sambungnya

Sementara itu, Muhaemin Tallo Ketua Perpekindo Pusat menjelaskan, potensi investasi, teknologi dan talenta serta potensi pasar yang besar, diyakini kerja sama pengembangan produk perkelapaan akan membawa ekonomi masyarakat Inhil semakin melompat maju nantinya.

Maka dari itu Muhaemin berharap kepada semua pengurus Perpekindo Riau mampu mengakomodir serta memfasilitasi semua pengrajin di Inhil dapat mengembangkan hasil kerajinan tangannya serta memasarkan melalui kerjasama dengan pihak Atlantiss Group asal Singapura.

"Semoga kawan-kawan Perpekindo Riau dan Inhil mampu menjawab tantangan dari pihak Atlantiss Group. Ini merupakan peluang bagi kita semua petani kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir" ungkap Muhaemin Tallo yang datang dari Jakarta khusus untuk bertemu dengan Mr. Droston, didampingi oleh beberapa pengurus Perpekindo.

 

RR/RTC/CPL/R1/TRB/RP/ADV