Meriahnya, Tradisi Siat Yeh Warga Banjar Teba Jimbaran

Administrator - Jumat,08 Maret 2019 - 13:11:26 wib
Meriahnya, Tradisi Siat Yeh Warga Banjar Teba Jimbaran
Tradisi Siat Yeh Warga Banjar Teba Jimbaran. Merdeka.com pic

RadarRiaunet.com: Tradisi Siat Yeh kembali digelar oleh ratusan warga di Banjar Teba, Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Tradisi ini Siat Yeh ini bertepatan dengan Ngembak Geni, upacara sehari setelah Hari Raya Nyepi.

Tradisi Siat Yeh baru muncul kembali di daerah tersebut setelah 35 tahun tidak dilaksanakan dan tahun ini adalah tahun ke dua tradisi ini dilakukan.

"Kali ini kita mengangkat tema, 'Manadi Tunggal' atau persatuan. Selain itu, kita angkat tema, 'Life, Love and Peace' yang nantinya setelah Siat Yeh selesai, kita akan ada makan siang bersama, agar warga Banjar baik perempuan dan laki-laki penuh rasa kekompakan dan solidaritas," ucap Ketua Panitia, Anak Agung Bagus Cahya Dwi Janatha, seperti sitat Merdeka.com, Jumat (8/3/2019).


Rangkaian tradisi Siat Yeh ini dimulai dengan para ratusan warga Banjar Teba berjalan terpisah ke arah barat dan timur. Ada yang menuju ke Pantai Jimbaran atau arah Barat, dan ada juga yang berangkat ke rawa atau suwung yang berada di sisi timur banjar tersebut. Mereka mengambil air atau mendak tirta dari dua sumber berbeda untuk kebutuhan Siat Yeh.

Usai mengambil air, warga lalu kembali bertemu di jalan raya di depan Balai Banjar Teba dengan diiringi tabuh Baleganjur.

Selanjutnya, empat orang perempuan saling berhadapan, masing-masing meletakkan kendi di atas kepala. Kendi tersebut dibenturkan sampai pecah, kemudian air dari dua sumber berbeda itu bercampur. Prosesi tersebut, mengawali rangkaian kegiatan para pemuda yang tergabung dalam Sekaa Teruna Bhakti Asih sebelum saling menyiram.


Namun, sebelum saling menyiramkan dua mata air laut dan suwung itu, para pemuda menyanyikan bait-bait sederhana berirama ala medolanan, atau bernuansa permainan anak-anak. Lagu sederhana yang berjenis sekar rare tersebut menceritakan keriangan warga yang tinggal di kawasan pesisir.

"Idupe metanah pasih. Idupe metanah suwung pade alih, pade sikiang. Menadi tunggal apang nawang kangin kauh."

Kemudian, para pemuda saling menyiram air tersebut yang terbagi atas dua kelompok yang dihadapkan. Tubuh muda-mudi di sisi barat dilumuri pasir. Sedangkan sisi timur berlumur lumpur.


Hal tersebut sebagai simbolis sumber mata air yang mereka gunakan. Pasir sebagai lambang air dari laut. Adapun lumpur mencerminkan air yang diambil dari rawa atau suwung.

"Untuk makna lagunya, artinya kita hidup berdasarkan dari ibu Pertiwi. Air kan simbol kehidupan, artinya kita mencari kehidupan bahwa tanpa air kita tidak bisa hidup," ujar Wayan Eka Santa Purwita selaku Ketua Pelaksanaan Acara Siat Yeh.

Purwita juga menjelaskan, tradisi Siat Yeh diadakan berdasarkan daerah Jimbaran yang diapit oleh dua mata air. Yaitu, air laut dari sisi barat Pantai Jimbaran, kemudian air tawar dari sisi timur Suwung atau rawa untuk disatukan.


"Ini yang kita cari biar bisa menjadi satu. Artinya kita bisa menuju timur itu 'Kepala' dan kita menuju ke barat adalah 'Kaki. Jadi kepala dan kaki menyatu, kalu tidak ada kepala apa artinya kaki. Kalau tidak ada kaki apa artinya kepala," imbuhnya.

"Filosofinya biar kita bisa menyatu. Tujuannya pelestarian budaya, yang kita kembangkan dan berinovasi, dulunya kita hanya sekedar main-main air oleh para pemudah. Tetapi tdak lepas dari konteks spritualnya tetap jalan. Karena kita sebagai umat Hindu (Harus) ada spiritnya." ujar Purwita.


RRN/Merdeka.com