Radarriaunet | Wonosobo — Festival balon udara di Wonosobo, Jawa Tengah, kembali menjadi perhatian publik. Jika selama ini balon udara dikenal sebagai bagian dari seni dan kreativitas masyarakat, kali ini kemunculan sejumlah wajah pejabat pada balon justru memicu perdebatan di media sosial.
Sorotan tersebut mencuat setelah video yang diunggah akun TikTok @bapaknyass dengan judul “Netizen Kecewa Festival Balon Wonosobo yang Dulu Penuh Seni Kini Dipenuhi Wajah Pejabat” beredar luas. Unggahan itu menuai beragam tanggapan dari warganet.
Festival balon udara tersebut digelar pada Minggu, 9 Agustus 2026, sebagai bagian dari Tunas Bumi Fest 2026 sekaligus peringatan hari ulang tahun ke-3 Gerakan Mantap Pilih Prabowo (GMPP).
Ketua Kornas GMPP sekaligus panitia Tunas Bumi Fest 2026, Mantep Abdul Ghoni, menyebut penggunaan balon sebagai media untuk memperkenalkan program pemerintah kepada masyarakat.
Menurut Mantep, langkah tersebut dilakukan untuk menangkal informasi yang dinilai keliru mengenai program pemerintah.
“Banyak sekali misinformasi di masyarakat. Maka hari ini kami terbangkan semua program Pak Prabowo di balon,” ujar Mantep.
Namun, tayangan yang beredar menunjukkan bahwa balon udara tidak hanya memuat informasi mengenai program pemerintah. Sejumlah balon juga menampilkan wajah tokoh dan pejabat, di antaranya Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Ketua Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono, serta Mantep Abdul Ghoni.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai batas antara promosi program pemerintah, ekspresi seni, dan penggunaan tradisi lokal untuk kepentingan politik.
Pengamat: Jangan Kapitalisasi Tradisi
Pengamat seni sekaligus seniman kontemporer asal Semarang, Satrio Purbo, mengkritik penggunaan festival balon udara untuk menampilkan wajah pejabat dan kepentingan politik.
Menurutnya, tradisi balon udara Wonosobo memiliki nilai seni dan kearifan lokal yang semestinya dijaga agar tidak kehilangan identitasnya.
“Kalau niatnya mau kampanye program dan dukungan kepada pejabat, tidak harus dengan cara mengkapitalisasi tradisi dan seni,” ujar Satrio.
Ia menilai festival balon udara yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Wonosobo berpotensi tercemar apabila terlalu kuat dibawa ke ranah politik.
Satrio bahkan mempertanyakan efektivitas penggunaan balon udara sebagai sarana sosialisasi program pemerintah.
“Itu juga bukan sosialisasi program, tapi pamer pemborosan,” katanya.
Komunitas Balon Tegaskan Netral
Di tengah polemik tersebut, Ketua Komunitas Balon Udara Wonosobo, Agam Setyobudi, menegaskan bahwa komunitasnya tidak terlibat dalam politik praktis.
Agam menyatakan polemik yang berkembang di media sosial turut berdampak terhadap citra komunitas dan para perajin atau pembuat balon udara di Wonosobo.
“Kami ingin meluruskan bahwa Komunitas Balon Udara Wonosobo sejak awal bersikap netral, tidak terlibat dalam politik praktis, dan tidak terafiliasi dengan kelompok atau partai politik mana pun,” kata Agam saat dikonfirmasi, Selasa, 11 Agustus 2026.
Agam menyayangkan apabila tradisi balon udara yang selama ini menjadi ruang kreativitas masyarakat justru dikaitkan dengan kepentingan politik tertentu.
Menurut dia, festival balon udara semestinya dikembangkan sebagai ruang untuk menampilkan karya seni, kreativitas masyarakat sekaligus memperkuat daya tarik wisata Wonosobo.
“Festival balon udara sejatinya merupakan wadah pameran karya seni, kreativitas, serta daya tarik wisata daerah,” ujarnya.
Polemik ini pada akhirnya mempertemukan dua kepentingan yang berbeda: penggunaan balon udara sebagai media penyampaian pesan pemerintah dan kekhawatiran terhadap masuknya kepentingan politik ke dalam tradisi lokal.
Karena itu, klarifikasi dari pihak penyelenggara dan komunitas dinilai penting agar polemik tidak berkembang menjadi persoalan yang merugikan masyarakat maupun citra tradisi balon udara Wonosobo.
Hingga berita ini ditulis, media masih berupaya mendapatkan konfirmasi dari Ketua Kornas GMPP sekaligus panitia Tunas Bumi Fest 2026, Mantep Abdul Ghoni, terkait polemik tersebut.***