Sekilas Tentang Komunitas Tionghoa di Manokwari

Administrator - Selasa,11 Oktober 2016 - 16:33:25 wib
Sekilas Tentang Komunitas Tionghoa di Manokwari
Kuburan Tionghoa di Serui. arfaqmedia.blogspot
RADARRIAUNET.COM - Tidak banyak catatan sejarah tentang keberadaan etnis Tionghoa di Papua. Namun dari beberapa informasi yang didapat ternyata kehadiran mereka telah lama di pulau paling timur Indonesia ini. Mereka hidup berdampingan secara harmoni dengan penduduk setempat dan turut serta memajukan perekonomian di Papua. Sore itu saya menyambangi kediaman Bapak Kwance, salah seorang warga keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Manokwari. Pak Kwance mau berbagi informasi tentang komunitas Tionghoa yang ada di Kabupaten Manokwari.
 
Saat melihat perawakan beliau tidak terlihat seperti warga Tionghoa. Selain warna kulitnya yang lebih gelap, gaya bicaranya bercampur dengan logat Papua. "Kakek saya yang keturunan Tionghoa murni kalau saya dan bapak saya sudah bercampur dengan warga Indonesia," terangnya saat memulai percakapan. "Nama asli saya Tan Ming Kwan yang berarti marga saya Tan. Kakek saya merantau ke Indonesia dari Cina daratan sekitar tahun 1930-an sebagai pedagang dan menetap di Serui. Kemudian dia menikah dengan perempuan Papua bermarga Saiwini. Bapak saya lahir di Serui pada tahun 1939."
 
Pada zaman Belanda banyak perantauan Tionghoa yang mengadu nasib hingga wilayah timur Indonesia. Salah satunya adalah daerah Serui. Beberapa literatur mengungkapkan bahwa  kedatangan etnis ini dipicu oleh perdagangan hasil bumi seperti cengkeh, kayu cendana, dan kasuari. 
 
Namun, komoditi yang paling utama dalam perdagangan pada abad ke-17 dan ke-18 di Papua adalah budak dan bulu burung Cendrawasih yang saat itu sedang marak dikalangan bangsawan Eropa dan Amerika. Ketika para pedagang Tionghoa datang, yang dijadikan sebagai alat tukar mereka adalah keramik, kain, pisau, dan porselin. Pada dasawarsa berikutnya keramik tersebut dikumpulkan dan menjadi pusaka bagi keluarga di Papua, karena kelak dijadikan mas kawin dari keluarga mempelai laki-laki kepada keluarga perempuan.
 
Di Serui, kabupaten Kepulauan Yapen, Papua (saat ini), berkembang satu perkumpulan besar bernama Toroa. Mereka yang tergabung dalam perkumpulan ini rata-rata bermarga Tan, namun ada pula marga The, Oei, Soe, Yo, Sie, Goan, Thung, Chung, Cheng, Chi dan Bong. Lebih lanjut Faktor alam yang menantang khususnya di daerah pesisir membuat orang Tionghoa menetap di daerah tersebut. Keberagaman suku Papua memberi pengaruh bagi etnis Tionghoa dalam hal berdagang. Sehingga membuat mereka melakukan banyak cara untuk berbaur dengan masyarakat setempat. Seperti belajar mengerti bahasa setempat, memperkenalkan tekonologi baru dan amalgamasi dengan perempuan Papua.
 
Kembali ke Pak Kwance, ia mengisahkan bahwa kakek-neneknya datang ke Manokwari pada tahun 1965 beberapa tahun setelah PEPERA. Saat itu selain Tionghoa-Serui juga ditemui etnis Cina lain yang datang dari Fakfak dan Kaimana. Sebagaimana hasil dari PEPERA, Papua diakui menjadi bagian dari NKRI dan mengharuskan Belanda angkat kaki. Ada beberapa keluarga Tionghoa yang memilih ikut dengan Belanda keluar dari Papua. Namun keluarga Tan tetap tinggal di Manokwari. Pak Kwance sendiri kemudian lahir di Manokwari di tahun 1968.
 
Sebagian besar komunitas Tionghoa di Manokwari adalah pedagang. Beberapa toko yang melayani kebutuhan masyarakat di sekitar Sanggeng adalah milik mereka. Diantaranya Toko Namian, Hongkong Store, dan Happy Store . Pada perkembangannya, Toko Happy Store berganti nama menjadi toko Sanggeng. Pergantian nama pun dialami oleh Toko Namian yang berganti nama menjadi Toko Harapan. Umumnya pemilik toko di daerah Sanggeng pada masa itu adalah Cina Hongkong. Toko Happy Store yang kemudian berganti nama menjadi toko Tengah atau pada masa kini kerap disingkat menjadi ‘Toteng’. Komoditas perdagangan yang dijual pada masa itu antara lain barang–barang kelontongan seperti piring, gelas, peralatan mencuci dan mandi,  makanan  & minuman kaleng serta barang dagangan lainnya. Ada juga yang memiliki kapal untuk mengangkut komoditi barang antar pulau di Papua.
 
Komunitas Tionghoa di Manokwari secara rutin melakukan pertemuan dengan istilah "Chin Beng" baik itu peranakan asli (Cina totok) maupun campuran. Chin Beng ini dimanfaatkan sebagai wadah silaturahmi sekaligus panitia perkumpulan yang sewaktu-waktu dibutuhkan khususnya saat kedukaan. "Chin Beng ini tidak memandang agama karena selain nasrani dan budha, ada juga warga Tionghoa beragama Islam seperti saya," ujarnya. 
 
Saat ditanya berapa jumlah penduduk Tionghoa di Manokwari ia berkata sekitar 800an orang. "Keberadaan kami senantiasa dicatat mulai dari anak kecil hingga orang tua, baik itu Tionghoa asli atau campuran. Kami akui kalau kebudayaan dan ritual Tionghoa di Papua tidak sepenuhnya dipelihara namun identitas kami tetap sebagai etnis Tionghoa," tutupnya.
 
 
arfagmedia.blogspot/fn/radarriaunet.com