Dari Maut ke Hidup

Administrator - Senin,06 Januari 2020 - 11:17:29 wib
Dari Maut ke Hidup
Ilustrasi.internet

Yohanes 5:19-47: Konflik antara orang Yahudi dan Yesus muncul pertama kali ketika Yesus merayakan Paskah di Yerusalem (2:18). Pada hari raya itu, kehadiran Yesus memunculkan konflik yang menegangkan. Konflik itu memicu mereka untuk membunuh-Nya (5:18).

Konflik memanas karena Yesus mengajarkan tentang siapakah Dia yang berkuasa “merombak” di Bait Allah (2:13-25). Kini, Ia “menyamakan diri-Nya” dengan Allah. Yesus menyebut diri-Nya Anak (Inggris: The Son, artikel “the” menunjukkan satu-satunya, tidak ada yang lain). Status Anak Allah ini menyatakan kesatuan Allah Bapa dan Yesus. Bapa memercayai Anak dan menyerahkan penghakiman atas manusia berdosa kepada-Nya. Posisi Anak ini seharusnya membuat mereka menghormati-Nya, sebagaimana mereka menghormati Bapa. Kesamaan dengan Bapa ditunjukkan Anak dengan mengerjakan pekerjaan Bapa-Nya.

Tanda-tanda datangnya Mesias yang sudah dinubuatkan para nabi digenapi oleh Yesus yang disebut Anak Manusia. Segala kuasa ada pada-Nya (Dan 7:13-14). Ia berkuasa menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati (Yes 35:5; Ul 32:39; 1Sam 2:6). Tidak hanya memberikan hidup dalam kesementaraan dan kefanaan, Anak Manusia juga mempunyai hidup dalam diri-Nya. Ia menjamin akan memberikan hidup kekal kepada mereka yang mendengar perkataan-Nya dan percaya kepada Bapa yang mengutus-Nya.

Ia mengatakan ada kesaksian manusia tentang diri-Nya, yaitu Yohanes, Musa, dan Kitab Suci. Tetapi, kesaksian-kesaksian itu terbatas dan tidak dapat membawa manusia yang mendengar mempunyai hidup kekal. Hidup kekal yang disaksikan oleh Yohanes, Musa maupun Kitab Suci harus direspons dengan mendengar kebenaran dan perkataan yang disampaikan serta percaya pada Yesus, Anak Manusia, yang telah dijanjikan berabad-abad lamanya. Ia adalah Mesias itu.

Doa: Tolong kami bukan hanya menjadi penyelidik Kitab Suci, tetapi juga datang dan memercayakan diri kepada Kristus. [IKS]

 

RRN




Berita Terkait