Pentolan ISIS Baghdadi Tewas, Ideologinya Masih Hantui Indonesia

Administrator - Rabu, 30 Oktober 2019 - 11:04:17 wib
Pentolan ISIS Baghdadi Tewas, Ideologinya Masih Hantui Indonesia
Foto Baghdadi

RADARRIAUNET.COM: Amerika Serikat terus membanggakan operasi militernya yang diklaim berhasil menewaskan pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi. Namun, sejumlah pihak menganggap ideologi ISIS masih akan terus menghantui Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara. Kepolisian Indonesia sendiri mengakui bahwa kabar mengenai kematian Baghdadi justru meningkatkan kewaspadaan aparat dalam negeri.

"Kematian al-Baghdadi sudah diumumkan dunia internasional dan itu menjadi kewaspadaan kami," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Polri, Asep Adi Saputra, sebagaimana dikutip Antara, Senin (28/10). Menurut Asep, kematian Baghdadi tak serta merta mengindikasikan ISIS di Suriah melemah. Detasemen Khusus 88 pun tak akan lengah mengawasi pergerakan sel-sel teroris di Indonesia. Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irfan Idris, juga mengatakan bahwa Baghdadi bisa saja mati, tapi ideologi ISIS perlu terus diwaspadai.Tak hanya Indonesia, Malaysia juga siaga karena sejumlah ahli mengindikasikan kemungkinan gelombang loyalis ISIS ke negara-negara Asia Tenggara, terutama Filipina.

"Selama ideologi ISIS tak luntur, selama kelompok-kelompok lain yang menganut ideologi jihadi Salafi tak dimusnahkan, ancaman teror masih akan terus ada," ucap kepala divisi kontra-terorisme kepolisian Malaysia, Said Ayob Khan Mydin Pitchay seperti dilansir South China Morning Post. Profesor Zachary Abuza dari National War College di Washington juga mengatakan bahwa Filipina merupakan tempat ideal bagi militan ISIS yang lari dari Suriah dan Irak.

"Kepemimpinan ISIS memang memerintahkan militan Asia Tenggara untuk ke Filipina. Dengan kematian Baghdadi, akan lebih banyak militan mengurungkan niat ke Irak dan Suriah, jadi Mindanao akan menjadi pilihan mereka," tutur Abuza. Juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina (AFP), Edgard Arevalo, pun mengakui bahwa pihaknya langsung siaga tinggi setelah kabar kematian Baghdadi merebak.

"[AFP] tetap siaga tinggi akan kemungkinan upaya untuk menunggangi perkembangan ini. AFP akan terus melakukan segala daya upaya untuk mencegah atau melawan ekstremis teroris yang masih mengancam negara kami," katanya. Lebih jauh, Abuza menganggap kematian Baghdadi juga tak akan mengubah operasional lapangan sel teror di Asia Tenggara.

"Tebakan saya sel-sel Asia Tenggara yang berbaiat ke ISIS akan terus melakukan apa yang mereka lakukan, tak peduli apa yang terjadi di Suriah. Sel pro-ISIS di Indonesia selama dua sampai tiga tahun ini saja sudah menarget polisi, bahkan politikus," ucap Abuza merujuk pada serangan terhadap mantan Menko Polhukam, Wiranto. Abuza mengatakan bahwa sistem komandi ISIS, terutama di Asia, tidak terpusat. Kebanyakan sel di Asia Tenggara tak punya markas tersendiri. "Di Asia Tenggara, kelompok itu lebih cair. Individu-individu berpindah di antara kelompok-kelompok," tuturnya.

Senada dengan Abuza, profesor ilmu politik dari Northeastern University, Max Abrahms, juga menganggap sistem operasi ISIS tak seperti Al Qaidah di bawah pimpinan Osama Bin Laden. Menurutnya, ISIS selama ini menjalankan sistem operasi tak terpusat. "Ketika Bin Laden tewas, pertanyaan mengenai siapa yang menggantikannya lebih relevan karena Bin Laden lebih mengendalikan Al Qaidah ketimbang Baghdadi di ISIS," tutur Abrahms.

Charlie Winter, peneliti dari King's College, London, juga mengamini pernyataan Abrahms. Menurutnya, ISIS menerapkan struktur birokrasi terbuka sehingga mereka tak benar-benar kewalahan ketika pemimpin hilang. "Kelompok jihadi itu mungkin akan bertahan atau lebih kuat melalui kehilangan pemimpin jika mereka punya sistem birokrasi dan struktur," kata Winter kepada AFP. Secara terpisah, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD merespons tewasnya pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi. Namun, ia memilih tidak berkomentar banyak. "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun," kata Mahfud di Kompleks Kantor Gubernur DIY, Senin (29/10).

Mahfud pun mengatakan akan menjalankan program deradikalisasi. Hal tersebut merupakan pesan Presiden Joko Widodo dalam menghadapi paham radikalisme yang terjadi di Indonesia.   "Itu salah satu pesan residen, kita diminta melakukan deradikalisasi," katanya. Ia menegaskan, kelompok radikal bukan berarti orang Islam. Ia pun mengajak agar pemikiran bahwa orang yang radikal merupakan orang Islam, untuk diubah. "Kelompok radikal itu bisa Islam bisa tidak. Dimana-mana banyak orang radikal. Oleh sebab itu jangan dibelok-belokkan. Karena radikalisme bukan orang Islam juga, jadi jangan dikacaukan," katanya.

Ia menjelaskan, radikalisme berarti gerakan atau paham yang ingin menawarkan alternatif lain terhadap ideologi dengan cara kekerasan. Untuk itu perlu adanya upaya deradikalisasi.  "Radikal itu lawannya gradual. Gradual itu bertahap," lanjut Mahfud. Sementara itu, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) mengatakan berhasil membunuh juru bicara ISIS Abu Hassan al-Muhajir di Suriah utara pada Ahad (27/10). Dia terbunuh hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan tewasnya pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi.

 

RR/ant/cnni/zet