Kisah Asmara Jusuf Kalla dan Jinak-Jinak Merpati Sang Istri

Administrator - Selasa,29 Agustus 2017 - 13:29:07 wib
Kisah Asmara Jusuf Kalla dan Jinak-Jinak Merpati Sang Istri
Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta keluarga. Ant Pic/Cnni

Jakarta: Wakil Presiden Jusuf Kalla mengenang kembali masa-masa awal berpacaran dengan istri, Mufidah Kalla, puluhan tahun silam. Pria kelahiran Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan 15 Mei 1942 itu menceritakan kembali kisah sulitnya menggaet hati Mufidah yang disebutnya jinak-jinak merpati.

Semua curhatan dan nostalgia JK itu dia utarakan lewat puisi yang ia tulis sendiri. Puisi itu berjudul Setengah Abad yang Indah dan menjadi kado untuk pernikahan dengan Mufidah yang sudah berusia 50 tahun, Jumat pekan lalu (25/8).

JK muda jatuh hati pada kesederhanaan Mufidah, adik kelasnya sewaktu di SMA. Namun, kerasnya hati Mufidah membuat JK harus berjuang ekstra keras untuk mendapatkannya.

Bahkan di tengah perjuangannya meraih cinta, JK kerap harus dibuat berlapang dada dengan beberapa penolakan Mufidah ketika hendak pergi berkencan. Misalnya ketika Mufidah enggan dibonceng JK dengan Vespa miliknya. Atau ketika Mufidah menolak berduaan dengan JK ketika kencan, sebab sang kekasih selalu membawa 'paspampres' yang tak lain adiknya.

"Engkau seperti jinak-jinak merpati, sama dengan nama jalan di depan rumahmu. Kemana-mana kau dikawal oleh adik adikmu kayak paspampres saja," kata JK dalam puisinya.

"Walaupun aku punya vespa tapi kamu enggak pernah mau dibonceng. Selama tujuh tahun kita hanya sekali nonton bioskop, itupun dengan teman-temanmu, sehingga untuk bisa memegang tanganmu saja sangat sulit."

Lulus SMA pun JK kuliah sembari bekerja dengan menyesuaikan waktu agar bisa bertemu dengan Mufidah yang juga kuliah sambil kerja. JK bahkan rela menjadi asisten dosen di kelas Mufidah tanpa dibayar sepeser pun. Semua demi melihat senyum Mufidah.

"Sekali seminggu aku minta menjadi asisten dosen dan mengajar di kelasmu tanpa honor. Semua itu agar bisa bertemu denganmu dan melihat senyummu," ujar JK.

Meski begitu, JK tetap teguh hati dan yakin bawha semua usahanya akan berakhir manis. Dan itu terbukti ketika lamaran orang tuanya diterima oleh orang tua Mufidah. Mereka pun menikah meski dengan dua adat yang berbeda, Bugis dan Minang.

JK sadar diri bukan pria yang romantis. Sebagai orang Bugis dengan adat yang keras, ia tak pandai merangkai kata-kata cinta. Namun JK mencintai Mufidah dengan segala kesederhanaannya lewat tindakan dan perbuatan. Semua itu tercermin selama 50 tahun JK dan Mufidah mengarungi bahtera rumah tangga.

"Karena itu aku minta maaf kepadamu, karena selama 50 tahun aku tak pernah memberi bunga sambil berucap I love you," ujar JK.

gil/cnni