Patuh di Dalam Bahaya

Administrator - Senin,03 Oktober 2016 - 16:14:17 wib
Patuh di Dalam Bahaya
ilustrasi. ddfong
Bacaan: Kejadian 19:15-29
Demikianlah pada waktu Allah memusnahkan kota-kota di Lembah Yordan dan menunggangbalikkan kota-kota kediaman Lot, maka Allah ingat kepada Abraham, lalu dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah tengah tempat (Kejadian 19:29)
 
Bacaan Setahun: Matius 7-9
 
Ketika Sodom dan Gomora dihancurkan oleh api belerang, istri Lot jadi tiang garam karena ia menoleh ke belakang gara-gara tak rela hartanya hilang di makan api tadi. Eh, benarkah demikian? Apakah cerita istri Lot ini memang kritik pada orang yang terikat oleh harta atau tentang hal lain?
 
Karena janji Tuhan kepada Abraham, Lot diselamatkan dari kepunahan kota Sodom dan Gomora. Namun, istri Lot tak terselamatkan. Mengapa? Karena ia tak patuh kepada perintah Tuhan melalui ucapan malaikat: "Larilah, selamatkanlah nyawamu, janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di lembah Yordan... supaya engkau jangan mati lenyap" (ay. 17). Ketika Tuhan menulahi Sodom dan Gomora, istri Lot menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam (ay. 26). Kita tidak dapat memastikan alasannya. Beberapa orang menduga karena ia menyayangi hartanya. Namun, tidak ada keterangan tentang motivasi ini. Yang jelas, tindakan itu merupakan pengabaian terhadap pesan Tuhan. Mengabaikan pesan Tuhan, apalagi dalam situasi segenting saat itu sungguh fatal akibatnya.
 
Kita belajar perlunya menaati Tuhan dalam segala situasi. Semakin bahaya situasi, semakin kepatuhan itu berharga. Bila di saat genting, malah kepatuhan mengendor, bahaya lebih dekat mengancam. Kendor dan eratnya kepatuhan pada Tuhan, dalam kisah ini, rupanya bermuara pada kebaikan untuk diri kita sendiri dalam menjalani kehidupan yang sarat misteri dan sarat bahaya ini. --DKL/Renungan Harian
 
JUSTRU DALAM BADAI, KEPATUHAN MENJADI SEMAKIN BERARTI.



Berita Terkait