Yunani Dibanjiri 28.000 Pengungsi Anak, 1.500 Anak di Antaranya Tanpa Orangtua

Administrator - Kamis,15 September 2016 - 14:40:27 wib
Yunani Dibanjiri 28.000 Pengungsi Anak, 1.500 Anak di Antaranya Tanpa Orangtua
Pengungsi anak sedang bermain di salah satu pusat penampungan pengungsi khusus untuk anak dan remaja di Amygdaleza, Yunani, yang dikelola oleh lembaga pegiat kemanusiaan. kps

RADARRIAUNET.COM - Yunani dibanjiri membutuhkan lebih banyak bantuan untuk menangani 28.000 pengungsi anak, yang membanjiri negara itu. Sekitar 1.500 orang di antaranya adalah anak yatim piatu, yang terdampar di negara tersebut tanpa ditemani orangtua mereka.

Komisioner Uni Eropa untuk Keadilan, Vera Jourova, mengungkapkan hal itu pada Senin (12/9/2016), seperti dilaporkan Xinhua. Sedangkan The Guardian menambahkan, 3.000 pengungsi anak di Yunani ditampung di tenda-tenda dalam kondisi 'menyedihkan',  kekuarangan makanan dan fasilitasnya terbatas.

“Tak seorang pun di antara kami yang ingin berada di sini," kata Ahmed Kamshle, anak berusia 14 tahun dari Suriah.

Jourova menyampaikan pernyataan itu bersamaan dengan munculnya unjuk rasa di pusat penampungan kepulauan Laut Aegean yang saat ini telah kelebihan kapasitas.
“Yunani membutuhkan bantuan untuk menangani 1.500 pengungsi anak yang tidak mempunyai orangtua maupun saudara yang bisa merawat mereka,” kata Jorouva.

“Mereka harus mendapatkan bantuan dari Eropa sehingga dapat hidup dengan aman," kata Jourova setelah bertemu sejumlah perwakilan Yunani di pusat penampungan pengungsi di Athena.

Menurut perhitungan UNICEF, ada setidaknya 28.000 pengungsi anak yang terjebak di Yunani. Sebanyak sebanyak 1.500 di antaranya harus hidup tanpa orangtua. Di luar itu, hanya 30 persen di anak-anak pengungsi itu yang tinggal di perumahan formal.

Otoritas di Yunani sudah sering memprotes Uni Eropa karena sejauh ini hanya merelokasi sekitar 3.000 pengungsi ke negara-negara lain dari 33.000 yang direncanakan sampai awal 2017. Sementara ketegangan muncul di sejumlah tempat penampungan pengungsi yang ditinggali oleh 60.000 orang.

Mereka terjebak di Yunani setelah negara-negara di kawasan Balkan menutup rute ke kawasan Eropa tengah sejak Februari lalu.

Senin (12/9/2016) pagi waktu setempat, sekelompok anak-anak pengungsi di penampungan Pili, Pulau Kos, membakar sejumlah kasur dan matras. “Mereka juga memprotes buruknya standar pelayanan dan penundaan proses permintaan suaka, demikian kantor berita AMNA melaporkan.

Kerusuhan serupa juga terjadi di Moria, Pulau Lesvos. Di tempat itu, para pengungsi selama beberapa hari ini terus menggelar unjuk rasa dengan alasan yang sama.

Juga beredar rumor yang belum bisa dipastikan kebenarannya bahwa delapan pengungsi tewas, sehingga menambah kekhawatiran. "Saya dan teman-teman terjebak di sini selama berbulan-bulan," kata pemuda berusia 25 tahun asal Pakistan, Ali Gohman, kepada Xinhua.

"Di sini makanan yang disediakan tidak pernah mencukupi bagi banyak orang yang tinggal. Air juga tidak cukup di tempat penampungan. Kami bahkan tidak bisa mandi," kata Mombar Inno (31), pendatang lain asal Afghanistan. Di Lesvos, lebih dari 5.150 pengungsi dan pendatang harus tinggal berdesakan di sejumlah tempat penampungan yang hanya berkapasitas total 3.500 orang, demikian data dari Greek Refugee Crisis Management Coordination Body.

Kondisi yang sama juga terjadi di Kepulauan Laut Aegean. Tempat penampungan yang berkapasitas 7.500 harus ditinggali 13.000 orang.


kps/fn/radarriaunet.com