Ketika Tersadar

Administrator - Selasa,13 September 2016 - 14:31:26 wib
Ketika Tersadar
ilustrasi. pendoasiaon
Bacaan: Lukas 15:11-32
Lalu ia menyadari keadaannya. (Lukas 15:17)
 
Bacaan Setahun: Yehezkiel 43-45
 
Di ruang praktik seorang dokter, ada poster dengan tulisan, "Good health is a golden crown on every man's head no body see it but the sick man." Kesehatan yang baik sangatlah berharga. Tetapi, orang tak sedikit pun melihat atau mengakuinya, apalagi menghargai dan mensyukurinya. Orang baru menyadari betapa berharganya kesehatan ketika ia sakit. Persis begitulah Si Bungsu. Merasa di rumah bapanya tiada hal yang menyenangkan, ia memilih pergi. Belakangan, ketika di rantau derita menderanya, barulah ia menyadari betapa membahagiakan rumah bapanya. "Lalu ia menyadari keadaannya" (ay. 17).
 
Si Bungsu adalah kita. Tuhan menganugerahkan berlimpah hal yang berharga. Tetapi, kita tidak menyadarinya, tidak menggubrisnya, tidak mengakuinya, tidak mensyukurinya. Bahkan--seperti Si Bungsu--kita merendahkannya, dan baru mengakui betapa berharga semuanya itu ketika anugerah itu entah bagaimana diambil dari kita.
 
Demikianlah. Ketika sakit, barulah kita menyadari betapa bernilainya kesehatan. Ketika berjauhan, barulah kita menyadari indahnya kebersamaan. Ketika terkucil, barulah kita melihat betapa berartinya orang lain. Ketika perselingkuhan meluluhlantakkan keluarga, barulah kita mengakui betapa kesetiaan itu membahagiakan. Ketika peluang untuk mengasihi tak lagi ada, barulah kita menyadari betapa berharga kesempatan yang selama ini tersia-siakan. Alangkah membahagiakan hati jika kita menyadari dan mensyukuri pemberian-Nya sejak sekarang, dan tidak menunggu deraan keadaan seperti Si Bungsu. --Eko Elliarso/Renungan Harian
 
 
BERBAHAGIALAH MEREKA YANG MENGAKUI BETAPA BERHARGANYA CAHAYA MENTARI, 
DAN MENSYUKURINYA TANPA MENUNGGU AWAN KELAM DATANG MENUTUPI LANGIT.



Berita Terkait