Kampus STAI Akan Luncurkan Film Daerah

Administrator - Jumat,05 Agustus 2016 - 16:10:18 wib
Kampus STAI Akan Luncurkan Film Daerah
ilustrasi. bsns
RADARRIAUNET.COM - Sekolah Tinggi Agama Islam Ar-Ridha Bagansiapiapi, berencana akan melakukan launching film Rokan Hilir Negeri Seribu Kubah pada Oktober 2016.
 
"Dijadwalkan Oktober nanti bersamaan Wisuda Angkatan ke II. Jadi kami ingin menghasilkan film Negeri Seribu Kubah dan ini merupakan sumbangan STAI Ar-Ridha karena di kampus ini memiliki Jurusan Ilmu Komunikasi dan Studio TV," kata Ketua Umum Yayasan STAI Ar-Ridha Bagansiapiapi Rusli Effendi, Jumat (5/8/2016).
 
Menurutnya launching yang dilakukan nanti mengungkap sedikit sejarah Kabupaten Rokan Hilir pemaknaan dari Negeri Seribu Kubah.
 
"Film ini juga akan kami bukukan dengan judul buku yang sama. Ini merupakan bentuk sumbangsih kami kepada Pemkab Rohil," katanya.
 
Secara akademik pihaknya juga sudah menugaskan Forum Pengembangan Partisipasi Masyarakat (FPPM) untuk membuat naskah akademik tentang Negeri Seribu Kubah. Kemudian nantinya akan diserahkan kepada Pemkab Rohil untuk diajukan ke DPRD sebagai dasar untuk membuat peraturan daerah.
 
"Sebagai lembaga perguruan tinggi kami sangat mendukung, tapi jangan bias pemaknaan dari Negeri Seribu Kubah tersebut," tuturnya.
 
Ia menjelaskan motto Negeri Seribu Kubah merupakan simbol Masjid dan berkaitan dengan agama. Sebagai daerah yang berbudaya dan mayoritas Islam tentu kemasan aktivitas kebijakan publik pemerintah daerah harus pro terhadap kegiatan kebudayaan maupun keagamaan.
 
Masyarakat Rokan Hilir yang mayoritas beragama Islam bukan berarti keagamaan tidak memberi prioritas pemerintah dan budaya sebagai akar budaya melayu Rohil harus juga diangkat dengan sungguh-sungguh.
 
"Jadi yang dijual tidak hanya Bakar Tongkang saja tapi juga budaya-budaya Melayu seperti lukah gilo, berzikir dan lainnya, budaya itu yang harus diangkat," kata Sekretaris Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat ini.
 
Rusli mengaku banyak daerah yang dia kunjungi bahkan negara bahwa sebagian besar yang dijual itu adalah budaya.
 
"Saya belajar tidak banyak tapi banyak juga negara yang saya kunjungi. Di daerah Indonesia saja seperti Jogja yang dijual itu budaya bukan wisata bahari. Bali sekalipun dengan adanya pantai yang dijual juga budaya. Kalau di luar Negeri seperti Thailand, Jepang, Cina juga demikian. Jadi intinya budaya itu lebih mahal," katanya.
 
Ia menilai Bakar Tongkang yang digelar setiap tahunnya di Rokan Hilir bukan budaya melainkan ritualnya masyarakat Tionghoa. Namun karena dilakukan secara berulang-ulang maka dijadikan sebagai budaya.
 
"Sebenarnya tidak kapasitas saya menyatakan bahwa Bakar Tongkang itu tidak perlu didukung oleh pemerintah daerah, tapi menurut saya perlu dipertimbangkan kembali bahwa cukup memberdayakan saja dengan memberi dukungan yang selayaknya dan tidak menjadi kegiatan yang sungguh-sungguh di APBD, sementara budaya melayu sendiri tidak diangkat," kata Rusli Effendi. 
 
 
Rusdy/radarriaunet.com