Lydia Malinda, Menjaga Harkat Tenun Sasak

Administrator - Jumat,22 Juli 2016 - 13:45:44 wib
Lydia Malinda, Menjaga Harkat Tenun Sasak
Pengerjaan tenun sasak. kps
RADARRIAUNET.COM - Kurangnya penghargaan terhadap tenun sasak, bahkan oleh penenunnya sendiri, membuat Lidya Malinda (36) prihatin. Dia berjuang mengangkat harkat tenun warisan leluhur itu. Seiring terangkatnya harkat tenun, terangkat pula kesejahteraan para perajinnya, yakni kaum perempuan Sasak.
 
Lidya ingat betul falsafah hidup yang diajarkan orangtuanya. Salah satunya, perempuan Sasak harus pandai menenun atau menyesek. Keterampilan menenun bahkan menjadi syarat utama bagi perempuan untuk memasuki jenjang pernikahan atau layak dipersunting laki-laki.
 
Setelah menikah dan mulai membina rumah tangga baru, perempuan Sasak hanya dibekali alat tenun dan bahan benang. Masyarakat suku Sasak percaya, dengan menenun, kaum perempuan mampu mencapai kemandirian ekonomi. Mereka tak perlu bergantung pada suami.
 
Di tempat tinggal Lydia, di Dusun Bun Mudrak, Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, hampir semua perempuannya bisa menenun. Mereka bekerja dari pagi hingga sore hari dan hanya istirahat saat makan atau waktu shalat.
 
Setiap penenun memerlukan waktu dua minggu hingga sebulan untuk menghasilkan selembar kain, tentu saja tergantung motif dan bahan benang. Setiap motif memiliki kerumitan tersendiri. Begitu pula dengan bahan benang, memiliki tantangan berbeda pada setiap jenisnya, seperti benang sutra dan benang emas.
 
Kain tenun yang sudah jadi lazimnya dijual kepada pengumpul (sebutan untuk pengepul barang).Namun, harga jual tenun tak menentu. Dalam kondisi terdesak kebutuhan ekonomi, penenun kerap mengabaikan harga, dan lebih mengejar uang.
 
Selembar kain tenun motif kembang komaq, misalnya, pada kondisi normal dijual Rp 250.000-Rp 300.000 per lembar. Namun, dalam keadaan terdesak kebutuhan, terkadang penenun melepas kainnya dengan harga di bawah Rp 200.000 bahkan Rp 150.000 per lembar. Alhasil, mereka hanya mengantongi Rp 90.000 hingga Rp 140.000 karena dipotong modal beli benang Rp 60.000.
 
Dengan proses pembuatan yang memakan waktu dua minggu atau 14 hari, tenaga dan kreativitas mereka hanya dihargai Rp 10.000 per hari. Ini lebih rendah dari buruh di sawah yang upahnya Rp 20.000 per hari. Rata-rata penenun bekerja delapan jam dalam sehari.
 
Hasil penjualan kain tenun itu harus dibelikan benang baru agar mereka bisa kembali bekerja. Hanya sebagian kecil yang dipakai belanja kebutuhan rumah tangga. Itu pun hanya cukup beli lauk dan barang kebutuhan harian.
 
Lydia prihatin dengan rendahnya daya tawar penenun Sasak. Dia pun terpanggil membantu mengembalikan daya tawar perempuan Sasak dan harkat tenun agar tak makin merosot. Awalnya, dia membantu sang ibu mengumpulkan kain dari para penenun.
 
”Kain-kain tenun itu dibeli secara tunai, tidak kredit. Banyak pengumpul yang baru memberikan uang setelah kainnya laku, tetapi kami tidak. Ibu juga membelinya dengan harga di atas harga yang diberikan oleh pengumpul, sehingga penenun tertarik melepas kainnya,” ujar Lydia.
 
 
kps/fn/radarriaunet.com