Ini Penyebab Terbanyak Gagal Ginjal Akut

Administrator - Kamis, 24 November 2022 - 22:06:07 wib
Ini Penyebab Terbanyak Gagal Ginjal Akut
Juru Bucara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Mohammad Syahril. Foto: Ist

RADARRIAUNET.COM: Juru Bucara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Mohammad Syahril, mengatakan, kasus gagal ginjal akut yang menyasar 324 anak.

Hingga saat ini penelitiannya masih terus berlangsung.

Karena untuk sampai pada kesimpulan final, membutuhkan waktu yang panjang. Namun untuk kasus ini, dipastikan penyebab utamanya adalah intoksikasi kendati secara medis, gagal ginjal dapat juga
disebabkan oleh faktor lain.

"Apakah saat ini Kemenkes melakukan penelitian, iya. Namanya case control study. Jadi ada 90 kasus normal yang diteliti, sementara kasus yang sakit 30.  Nah ini sudah 50 persen terkumpul. Untuk saat ini masih dilakukan penelitian sekitar 100an obat.  Tentu saja secara ilmiah nanti, kita ingin mendapatkan hasil atau kesimpulan yaitu ada kaitannya antara gagal ginjal dengan intosikasi etilen glikol dan dietilen glikol," terangnya dalam diskusi daring yang digelar Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertema "Perkembangan Hasil Penelitian Obat
Mengandung EG dan DEG pada Kasus Gagal Ginjal Akut" pada Kamis, 24 November 2022.

Syahril juga mengungkapkan, bagi pasien yang sudah dinyatakan sembuh, secara teori akan sembuh total dan tidak akan berpotensi mengalami gejala atau keluhan kesehatan di waktu yang akan datang.

"Kenapa sebagian anak kok tidak kena walaupun pernah minum obat yang sama. Memang satu faktornya adalah kadar yang diminum dan juga lama periode mengkonsumsi obat tersebut. Untuk anak yang sudah sembuh masih dalam pemantaun kami (Dinkes-red). Kalau menurut teori, bahwa keracunan ini jika sudah diatasi, maka pasien dapat sembuh total.
Tidak ada gejala-gejala sisa," ucapnya.

Menurutnya, kasus gagal ginjal akut misterius pada anak di Indonesia mengalami penurunan yang signifikan. Bahkan, kasus yang dikenal dengan istilah Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) ini tidak menunjukan adanya penambahan selama dua pekan terkahir.

"Kami informasikan bahwasanya kita sangat bersyukur karena sejak dua minggu lalu sampai sekarang, tidak ada lagi penambahan kasus," kata Syahril.

Dalam kesempatan tersebut, Syahril menyebutkan, Kemenkes mencatat terdapat total 324 kasus GGAPA pada anak dengan rincian sebanyak 200 pasien dinyatakan meninggal dunia.

Sementara terdapat 113 dinyatakan sembuh.

Namun kasus GGAPA yang menyebar
hingga ke-27 provinsi di Indonesia ini menyisakan 11 kasus yang terdapat di 3 provinsi dan masih dalam perawatan. 

Adapun ketiga provinsi tersebut yakni DKI Jakarta dengan total 9 kasus yang dirawat di RSUPN Cipto Mangungkusumo, Kepulauan Riau 1 kasus, Sumatera Utara 1 kasus.

“Hingga saat ini kasus gangguan ginjal akut pada anak yang masih dirawat tersisa 11 orang. Ini merupakan upaya bersama di mana angka penambahan tidak ada dan angka kematian juga tidak ada lagi.
Yang ada adalah angka kesembuhan,” kata Syahril.

Syahril berharap, pasien GGAPA pada anak yang masih dirawat di RSCM dapat sembuh kembali setelah pemberian obat antidotum atau penawar pemberian fomepizole.

Meski anak telah dinyatakan sembuh, Syahril menegaskan, Kemenkes melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) masih melakukan pemantauan untuk mengetahui perkembangan selanjutnya. Menurutnya, pemerintah
mempunyai kewajiban untuk melakukan pemantauan.

“Kita terus kontrol untuk melihat perkembangannya, mungkin ada suatu efekefek atau masalah-masalah kesehatan selanjutnya,” ucapnya.

Gagal Ginjal Bukan Kasus Baru Syahril menambahkan, kasus gagal ginjal akut bukan baru di Indonesia. Namun baru ramai dibicarakan sekarang, yakni pada pertengahan bulan Agustus setelah
dilakukan penyelidikan terkait adanya pencemaran atau impuritis dari pelarut yakni Etilen Glikoll (EG) dan Dietilen Glikol (EDG).

Kasus ini menyeruak, jelas Syahril, setelah dilakukan penyelidikan bahwa ada kemungkinan pencemaran atau impuritis dari pelarut yang biasa digunakan pada obat sirup tersebut.

Penggunaan pelarut tersebut melebihi ambang batas yang ditentukan.

"Tapi dengan cepat kita kerjasama dengan IDAI, IDI dan profesi kedokteran yang lain, kita menyisir dan menemukan kemungkinan-kemungkinan itu. Nah pengalaman ini akan membuat kita respon cepat
terhadap hal-hal yang memang tidak diduga sebelumnya," tambahnya. RR