BMKG Deteksi 30 Titik Panas di Riau

Administrator - Senin,31 Juli 2017 - 18:09:50 wib
BMKG Deteksi 30 Titik Panas di Riau
Asap membumbung dari lahan gambut yang terbakar di kawasan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, Jumat (28/7). Ant Pic

Pekanbaru: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi 30 titik panas yang mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau, Senin (31/7).

"Titik panas dengan confidence 50 persen ke atas terpantau di sembilan kabupaten dan kota di Provinsi Riau," kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Pekanbaru, Slamet Riyadi di Pekanbaru, seperti dilansir dari Antara.

Puluhan titik panas yang terpantau satelit Terra dan Aqua tersebut mayoritas terpantau di Kabupaten Bengkalis dengan total 10 titik. Selanjutnya ada enam titik panas terpantau di Rokan Hilir dan empat titik panas di Rokan Hulu.

Siak terpantau sebagai kabupaten penyumbang titik panas ke empat dengan total tiga titik. Diikutri Meranti dan Indragiri Hulu masing-masing dua titik. Serta Pelalawan, Indragiri Hilir dan Kota Dumai satu titik.

Dari 30 titik panas di Riau, 11 titik lainnya dipastikan sebagai titik api dengan tingkat kepercayaan diatas 70 persen. Titik api terbanyak terpantau di Bengkalis enam titik, Rokan Hilir tiga titik, serta satu titik lainnya di Siak dan Indragiri Hulu.

Luas lahan yang terbakar sepanjang Januari hingga Juli 2017 sudah mencapai 548,72 hektare. Lahan yang terbakar itu menyebar di sejumlah titik di Provinsi Riau.

Di antara wilayah yang mengalami kebakaran cukup masif sejak awal tahun ini adalah Rokan Hilir, Bengkalis, Dumai, Meranti, Rokan Hulu, Pelalawan, Siak, Indragiri Hilir. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir kebakaran berkisar dua hingga puluhan hektare terjadi di wilayah pesisir Riau, seperti Rokan Hilir, Dumai, Bengkalis dan Meranti.

"Hingga kini kami terus mengantisipasi kebakaran meluas menyusul masuknya musim kemarau," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Riau Edwar Sanger.

Selain 30 titik panas di Riau, BMKG juga memantau ada 22 titik panas di Sumatera Selatan, 12 titik di Sumatera Utara, empat titik di Bangka Belitung, tiga titik masing-masing di Bengkulu dan Sumatera Barat.

Kemudian titik panas turut terpantau di Jambi dan Kepulauan Riau masing-masing dua titik, serta Aceh satu titik.

Kebakaran Hutan Aceh Barat

Terpisah, Kepolisian Resort Aceh Barat, Polda Aceh, masih melakukan pemeriksaan terhadap 14 orang masyarakat sipil sebagai saksi dalam kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) di wilayah hukum setempat.

Kapolres Aceh Barat AKBP Teguh Priyambodo Nugroho, di Meulaboh, Senin, mengatakan pemeriksaan saksi tersebut untuk memenuhi unsur dua alat bukti guna ditingkatkan status penegakan hukum dari penyelidikan ke penyidikan.

"Totalnya sudah ada 14 orang saksi kita minta keterangan, terutama si pemilik lahan, dari Kecamatan Johan Pahlawan lima orang, Kecamatan Samatiga enam orang dan Kecamatan Arongan Lambalek tiga orang," katanya.

Dalam penyelidikan itu pihaknya juga memeriksa seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat, sebagai pemilik lahan yang terbakar di Kecamatan Arongan Lambalek.

Kapolres Teguh menjelaskan, selama penanganan Karhutla di wilayah setempat pihaknya telah melakukan berbagai langkah seperti pengendalian (preemtif).

Langkah pengendalian dilakukan lewat imbauan dengan memasang spanduk bertuliskan larangan buka lahan dengan membakar di kawasan-kawasan dipetakan rawan terjadi Karhutla, maupun di titik tempat kejadian perkara (TKP) kebakaran lahan gambut.

Pihak kepolisian juga mencantumkan ancaman hukuman agar bisa dibaca oleh semua lapisan masyarakat.

Selain itu, polisi melakukan langkah pencegahan (preventif) terjadinya penyimpangan sosial dalam karhutla dengan patroli gabungan bersama TNI dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat, serta Sat Pol PP.

"Semua upaya itu telah dan akan terus kita lakukan bersama tim gabungan. Pada semua titik kebakaran dan rawan terjadi kebakaran kita pasangkan imbauan dan ancaman pidana kepada siapapun yang melakukan pembakaran lahan," tegasnya.

Kebakaran hutan dan lahan di area lahan gambut melanda enam kecamatan Aceh Barat dalam dua pekan terakhir dengan luasan lahan terbakar sekitar 79 hektare. Akibatnya,  asap pekat menyelimuti sehingga mengganggu roda pemerintahan, sosial dan ekonomi masyarakat.

Dalam satu pekan terakhir, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan dua unit Helikopter "Water Bombing" melakukan pengeboman air di titik kebakaran. Kabut asap sudah menghilang pada Minggu (30/7).

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mendesak penegak hukum tegas dan menangkap pemilik maupun pembakar lahan gambut. Ia tidak percaya bahwa kebakaran lahan di wilayah itu karena api terpatik sendirinya.

"Polisi harus tegas, menindak pelaku agar ke depan tidak ada lagi yang coba-coba membakar lahan. Dari dulu saya sudah bilang, jangan tebang hutan, jangan bakar lahan, kalau sudah kejadian semua rugi," Irwandi saat berkunjung ke Meulaboh, Minggu siang.

lex/cnni/gil/rrn