Sungkeman 5.359 Murid PAUD di Rohul, Pecahkan Rekor MURI

Administrator - Kamis,24 Oktober 2019 - 16:40:14 wib
Sungkeman 5.359 Murid PAUD di Rohul, Pecahkan Rekor MURI
Sungkeman massal oleh 5.359 murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kabupaten Rokan Hulu (Rohul). Foto: Hrc

RADARRIAUNET.COM: Sungkeman massal oleh 5.359 murid dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Rabu (23/10/19), memecahkan rekor dunia dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Sungkeman massal ribuan murid PAUD Rohul bersempena Gebyar PAUD Kabupaten Rohul tahun 2019, di lapangan Kantor Bupati Rohul. Bahkan yang tidak disangka, ternyata Manager MURI, Triyono mengumumkan tradisi sungkeman massal dilakukan ribuan anak PAUD se-Kabupaten Rohul, berhasil memecahkan rekor dunia MURI.

Piagam penghargaan? pemecahan rekor dunia MURI diserahkan? langsung oleh Manager MURI ke Bupati Rohul Sukiman, Bunda PAUD Kabupaten Rohul Hj Peni Herawati, serta Kepala Disdikpora Kabupaten Rohul Drs H Ibnu Ulya M.Si.

Gebyar PAUD Rohul di lapangan Kantor Bupati? dibuka Bupati Rohul H. Sukiman, juga dihadiri Direktorat Pembinaan Anak Usia Dini Pendidikan Masyarakat Kemendikbud Drs Maryana? M.Pd, Forkompinda, Sekda Rohul H Abdul Haris S.Sos, M.Si.

Juga hadir Manager MURI? Triyono, Praktisi PAUD Nasional Drs Sinong Widodo, Kreator Lagu Nasional Rosyid, Kepala PAUD dan Diknas Riau Akhyar S.Pd, M.Pd dan rombongan. Para Asisten, Staf Ahli, Kepala Badan/ Dinas, para Camat dan Bunda PAUD Kecamatan, serta para Kades/ Lurah bersama Bunda PAUD Desa.

Usai kegiatan, Manager MURI Triyono mengatakan sungkeman massal ini hanya dilakukan simbolis diwakili enam anak kepada Bupati Rohul dan pejabat Forkompinda dan tamu undangan. Tapi untuk selebihnya, ribuan anak PAUD se-Rohul juga melakukan sungkeman kepada orang tua dan gurunya masing-masing di tenda disediakan panitia.

Menurutnya, sungkeman sebelumnya sudah pernah dilakukan di Lapas Anak Tangerang Selatan yang dengan peserta sekira 3.000 anak. Tapi pesertanya itu, tidak sebanyak sungkeman di Kabupaten Rohul dengan peserta mencapai 5.359 anak PAUD.

?Jelasnya, sungkeman massal anak PAUD se-Rohul bisa masuk rekor dunia MURI, karena sungkeman sudah dianggap sebagai khas dari budaya Indonesia, dan juga sudah masuk bahasa baku di Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI.

"Sebetulnya, memang dilihat dari sejarah, sungkeman identik? dengan dari keluarga-keluarga kerajaan di pulau jawa biasanya. Keraton-keraton mereka selalu melakukan itu," ujar Triyono, dilansir halloriau.com.

Triyono mengaperesiasi kegiatan yang diadakan Pemkab Rohul, karena melihat telah terjadi degradasi moral? atau kemunduran langsung bereaksi mengadakan sungkeman massal kepada orang tua dan guru tersebut.

"Diharapkan setelah besar nanti akan membekas dan mereka selalu hormat kepada orang tua, guru, atau orang yang lebih tua. Oleh karenanya MURI memberikan apresiasi sebagai rekor dunia," ucap Triyono.?

Sementara itu, Bupati Sukiman mengaku, awalnya tidak menyangka bila sungkeman massal anak PAUD berhasil memecahkan rekor dunia MURI. Bahkan, Sukiman mengaku sempat menanyakan pada Manager MURI mengapa bisa menerima rekor dunia MURI.

Dikatakannya, budaya sungkeman merupakan salah satu budaya Indonesia yang masih lestari, dan biasanya dilakukan saat-saat hari tertentu seperti hari hari keagamaan. Tujuan dilakukan ini diharapkan berdampak positif bagi generasi muda di Kabupaten Rohul, sehingganya menghormati orang yang lebih tua.

"Berharap generasi muda kita, anak-anak kita ini bisa memaham tentang budaya?-budaya sendiri. K\alaupun ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. Tetapi itu janganlah budaya kita dihilangkan, dan tidak terpengaruh budaya asing," harap Bupati Sukiman.

Sementara, Direktorat Pembinaan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud, Maryana?, mengapresiasi dan mengucapkan sukses kepada Pemkab Rohul yang telah sukses menyelenggarakan Gebyar PAUD, terutama dengan tema Sungkeman Bagi Anak ke Orang Tua dan Guru.

"Ini merupakan wujud atau implementasi pendidikan karakter. Yuk, kita tanamkan dari anak usia dini kita membiasakan supaya anak didik, anak dari usia nol sampai enam (tahun) memberikan suatu penguatan pendidikan karakter," kata Maryana.

 

RR/DAI