Banjir di Rokan Hulu Belum Surut, Sekolah Diliburkan

Administrator - Rabu,04 Desember 2019 - 14:07:16 wib
Banjir di Rokan Hulu Belum Surut, Sekolah Diliburkan
Kasi PMD Kecamatan Bonai Darussalam, M Yamin meninjau sekolah yang digenangi banjir di Desa Bonai, Kecamatan Bonai Darussalam, Kabupaten Rohul, Riau, Senin (2/12/2019).(Foto: KOMPAS.COM)

RADARRIAUNET.COM: Banjir merendam empat sekolah di Desa Bonai, Kecamatan Bonai Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, mengakibatkan kegiatan belajar mengajar terganggu. Sejak Senin (2/12/2019), ketinggian air di pekarangan sekolah mencapai 80 sentimeter, sehingga menyebabkan siswa terpaksa diliburkan.

Kasie Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kecamatan Bonai Darussalam M Yamin mengatakan, empat sekolah yang diliburkan terdiri dari tiga Sekolah Dasar (SD) dan satu Sekolah Menengah Pertama (SMP). "Siswa yang diliburkan akibat banjir yakni SD Negeri 005, SD Negeri 007, satu SD swasta dan satu SMP Negeri 5," kata Yamin dilansir Kompas.com, Selasa (3/12).

Dia mengatakan, pemerintah kecamatan sedang mencari solusi supaya anak bisa kembali belajar, mengingat beberapa hari mendatang siswa akan mengikuti ujian semester. "Kita berharap dalam dua hari ini banjir surut, supaya anak-anak bisa kembali belajar. Tanggal 5 Desember ini sekolah ujian semester. Kalau banjir di sekolah tidak surut, kami akan carikan ruangan sementara untuk anak-anak sekolah," ucap Yamin.

Sementara itu, Yamin mengatakan, untuk di Desa Bonai jumlah warga yang terdampak tercatat sebanyak 1005 kepala keluarga (KK). Ketinggian air di permukiman warga mencapai 40 sentimeter hingga 1 meter. "Desa Bonai ini menjadi desa terakhir dilanda banjir. Karena air dari Desa Sontang menumpuk di Desa Bonai," tuturnya.

Yamin menambahkan, banjir masih merendam di beberapa desa di Kecamatan Bonai Darussalam. "Untuk banjir di  Desa Sontang, Desa Kasang Mungkal dan Desa Teluk Sono udah jauh surut. Warga sudah mulai beraktivitas. Kemudian 2 KK yang mengungsi di posko sudah kembali ke rumahnya," pungkas Yamin.

Diberitakan sebelumnya, banjir mengepung ribuan rumah warga di sejumlah kecamatan di Kabupaten Rohul, Riau. Banjir tersebut terjadi sejak, Minggu (24/11) pekan lalu.

Luapan air sungai menjadi pemicu banjir tersebut. Sebab, curah hujan di bagian hulu sungai di wilayah Sumatera Barat sangat tinggi. Tercatat, sekitar 1,940 kepala keluarga terpaksa mengungsi, lantaran rumahnya tergenang banjir dengan ketinggian bervariasi mulai dari 60 sentimeter hingga 3 meter. Sementara di beberapa titik, banjir nyaris menenggelamkan rumah warga serta ruas jalan lintas provinsi penghubung Riau-Sumut hanya bisa dilewati truk tronton.

Hingga kini sudah sepekan banjir mengepung permukiman rumah warga di Desa Bonai, Kecamatan Bonai Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau. Selama kebanjiran, kebanyakan korban tidak mau mengungsi. Mereka lebih memilih tetap bertahan di rumah.

Darmi (22) salah seorang warga yang masih bertahan di tengah banjir. Dia tinggal di sebuah rumah panggung terbuat dari kayu. Meski rumahnya sudah dibangun setinggi lebih kurang satu meter, namun air masih menjangkau lantai rumahnya. Di depan rumahnya terdapat jembatan kayu kecil untuk keluar masuk. Karena seluruh pekarangan rumahnya digenangi air.

Saat ditemui Selasa (3/12) siang, Darmi mengaku sudah sepekan dikepung banjir. "Banjir di sini sudah sepekan. Air sudah sampai ke dalam rumah," kata dia. Di rumah itu, Darmi tinggal bersama suaminya, Fauzar (30) dan dua orang anaknya.

Mereka masih betah bertahan di rumah ketimbang mengungsi ke posko pengungsian yang telah disediakan pemerintah di halaman Kantor Camat Bonai Darussalam. Alasan Darmi tidak mau mengungsi, karena sudah biasa kebanjiran. "Kalau banjir kami sudah biasa. Karena setiap tahun banjir terus di sini. Rumah saudara banjir juga. Mereka juga tidak mengungsi," ucap Darmi.

Seluruh peralatan masak dan pakaian di dalam rumahnya sudah dinaikkan ke tempat yang lebih tinggi. Sedangkan untuk tempat tidur, tampak dibuat dari kayu berbentuk seperti meja. "Tempat tidur kami buat pangkin. Kalau airnya naik, pangkinnya ditinggikan lagi," sebut Darmi.

Darmi tergolong warga yang kurang mampu. Suaminya sehari-hari bekerja sebagai nelayan dan juga sesekali panen sawit orang. Tetapi, selama banjir melanda, suaminya tidak bisa panen, karena hampir semua kebun sawit di desa itu direndam air.

"Kalau sekarang ini suami saya cuma cari ikan saja. Kadang dapat ikan banyak kadang dikit. Tapi kami tetap bersyukur," ungkap dia. Darmi juga bersyukur telah diberikan bantuan sembako, yang disalurkan Pemerintah Desa Bonai beberapa hari lalu. Bantuan tersebut, sementara cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

"Alhamdulillah, bantuan dari desa sudah ada. Kemarin saya juga dikasih bantuan sama bapak-bapak polisi (Polres Rohul). Ya, dicukupin saja yang ada sekarang. Cari uang susah kalau sudah banjir gini," ucap Darmi.

Hal yang sama dirasakan Asnimar (38). Ibu rumah tangga ini tak bisa berbuat banyak dikala banjir datang.  "Ya, kayak ginilah. Tiap tahun banjir," ujar dia.

Asnimar juga masih bertahan di rumah yang dibangun permanen itu. Meski ketinggian air di dalam rumah mencapai sekitar 40 sentimeter. Dia tetap memilih bertahan di rumah karena juga sudah biasa kebanjiran. 

"Sudah biasa banjir. Enggak pernah ngungsi kalau masih bisa tidur di pangkin dalam rumah. Kalau banjir di sini mau kadang sampai sebulan lebih. Sekarang baru satu minggu," kata Asnimar.

Sementara itu, Kasi Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kecamatan Bonai Darussalam, M Yamin menyampaikan, banjir di Kecamatan Bonai masih merendam dua desa. "Desa Bonai dan Desa Kasang Padang masih banjir. Akses ke sana juga masih sangat sulit dilalui, karena jalan penghubung desa digenangi air dibeberapa titik," kata Yamin.

 

RR/kps/zet