Jakarta (RRN) - Gameloft adalah salah satu studio sekaligus penerbit game mobile yang menawarkan segudang pilihan game strategi. Belum lama ini mereka merilis March of Empires. Kita sendiri mengetahui bahwa banyak sekali game-game strategi yang beredar di beranda layanan platform masing-masing. Pada akhirnya gamer akan memilih satu game strategi yang smapai saat ini masih menjadi favorit, Clash of Clans. Benarkah March of Empires tidak bisa mencuri perhatian gamer CoC?
March of Empires adalah game yang mengusung gaya permainan yang serius. Hal ini sudah bisa dilihat dari penggunaan latar waktu fantasi dengan nuansa abad pertengahan.
Game ini menyediakan tiga faksi yang terdiri dari Tsar, Sultan, dan King. Sebagai gambaran, Tsar memiliki bangunan dan unit pasukan bernuansa Rusia, Sultan seperti perwakilan dari dunia Timur Tengah, dan King menggunakan baju zirah seperti kesatria dari benua Eropa. Selain perbedaan desain bangunan dan pasukan, mereka memiliki kemampuan khusus masing-masing yang bisa memperngaruhi perkembangan kerajaan.
Angka, angka, dan angka, ini adalah tiga hal yang saya selalu lihat dalam March of Empires. Berhubung bertema serius, game ini memang menekankan pada manajemen kerajaan yang berujung pada data statistik, seperti jumlah sumber daya yang terkumpul, kekuatan tempur pasukan, seberapa berkembang bangunan yang ada, dan pengaruh kerajaan Anda terhadap kerajaan lain. Namun, tidak sepenuhnya teks dan angka, game ini masih menyajikan visual yang menarik.
Sebenarnya, ada dua game seperti ini yang sudah tersedia lebih dulu, Clash of Kings dan Game of War. Namun, keduanya tidak memiliki sistem manajemen yang sekompleks March of Empires. Game ini menyediakan sistem leveling untuk hero, pasukan, dan bangunan dengan jenjang yang cukup panjang.
Menekankan aspek pengembangan, diplomasi dan peperangan, March of Empires menawarkan sistem PvP yang tampil beda. Pemain bisa menjalin aliansi dengan kerajaan alias pemain lain, atau berjuang sendiri mendirikan kerajaan besar. Menjalin aliansi memang lebih disarankan karena game ini menawarkan perang dalam skala besar. Sebuah aliansi juga bisa menciptakan misi khusus yang bisa mengajak semua pemain di dalamnya untuk bekerja sama.
Sayangnya, pemain tidak akan bisa melihat setiap pertempuran secara langsung. Hasil pertarungan yang dipamerkan melalui data statistik saja. Pengaturan formasi pasukan memang tersedia, tetapi pada dasarnya game ini sudah memiliki daftar formasi secara umum.
Pemain tinggal menempatkan jenis pasukan apa di posisi yang tepat. Sudut tampilan portrait yang terkunci saya pastikan menjadi kelemahan kedua karena penuhnya data yang muncul akan membuat area permainan sangat sempit.
Game mobile yang dipatok gratis pastinya menawarkan fitur in-app purchase. Saya akui, March of Empires menawarkan fitur pay to win dalam tahap yang wajar. Setiap bangunan memiliki tingkatan level yang cukup banyak, contohnya Academy yang berguna untuk pengembangan pasukan atau bangunan lainnya, yang memiliki tingkat sampai 30 level. Menggunakan fitur in-app purchase bisa mempercepat waktu untuk upgrade, yang tadinya memakan waktu 2 hari menjadi 10 jam saja.
Semakin jauh pemain berkembang, target yang harus dicapai dalam March of Empires memang semakin sulit. Sulit di sini bukan berarti memiliki tingkat kesulitan tinggi, melainkan waktu yang diperlukan untuk mengelola kerajaan pemain menjadi lebih banyak. Namun, saya tetap menyukai gameplay yang dihadirkan. March of Empires bisa menjadi salah satu alternatif untuk Anda yang merasa jenuh dengan Clash of Clans. (mtvn/n)