TITIK BUTA

Administrator - Rabu,29 Juni 2016 - 12:20:19 wib
TITIK BUTA
ilustrasi. mc
Bacaan: Mazmur 139:7-24
Lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! (Mazmur 139:24)
 
Bacaan setahun: Ayub 17-20
 
Pernahkah Anda berpikir apa yang terjadi jika seorang petinju juara dunia bertanding melawan pelatihnya sendiri? Siapakah yang akan menang? Kemungkinan besar si petinju. Tetapi, mengapa ia tetap mau dilatih oleh orang yang bisa dengan gampang dikalahkannya? Ia membutuhkan seseorang yang bisa melihat kekurangan yang luput dari perhatiannya sehingga ia bisa membenahi diri untuk menjadi petinju yang unggul.
 
Ya, kita semua memiliki titik buta, kelemahan atau kekurangan yang tidak dapat kita lihat. Sehebat-hebatnya dan sepintar-pintarnya seseorang, ia tidak akan bisa melihat lalat yang menempel di dahinya. Padahal, lalat itu sangat dekat dengan matanya. Ia perlu orang lain untuk menunjukkannya.
 
Untuk itu, kiranya kita dijauhkan dari kesombongan dan bersedia merendahkan hati untuk menerima masukan dan koreksi dari sesama. Yang lebih utama, seperti pemazmur, kita berseru kepada Allah untuk "memeriksa kita dan menuntun kita ke jalan yang kekal." Jika ia menempuh jalan yang salah, Allah akan memperlihatkan dan menyadarkannya. Selanjutnya ia memohon Allah menuntunnya di jalan yang benar, jalan yang kekal, meneguhkan dan menguatkannya. Jalan yang kekal adalah jalan yang baik dan benar, menyukakan hati Allah, dan mendatangkan kesejahteraan bagi kita.
 
Dengan mempersilakan Allah menuntun kita dan terbuka terhadap masukan sesama, kiranya kita semakin berkembang menjadi pribadi yang lebih unggul. Kiranya hidup kita memuliakan Allah dan memberkati sesama. --Gigih Dwiananto/Renungan Harian
 
 
TITIK BUTA MENYADARKAN BAHWA KITA TIDAK DAPAT HIDUP SENDIRI, 
TETAPI MEMERLUKAN TUNTUNAN ALLAH DAN MASUKAN SESAMA.



Berita Terkait