Mahasiswa Bimbingan Dea Mustika, S. Pd., M. Pd Lakukan Penelitian Tematik di SDN 182 Pekanbaru

Administrator - Rabu,24 November 2021 - 20:51:11 wib
Mahasiswa Bimbingan Dea Mustika, S. Pd., M. Pd Lakukan Penelitian Tematik di SDN 182 Pekanbaru
Suasana wawancara dengan guru di SDN 182 Pekanbaru: Foto: Ist

Penulis: Ayu Permatha Shiddiq (206910118)
Dini Febryanda (206910561)
Niken Nisrinaa Lay (206910557)
Santi Rusmita (206910719)

Dosen Pembimbing: Dea Mustika, S. Pd., M. Pd

RADARRIAUNET.COM: Pembelajaran tematik melapangkan jalan bagi terciptanya suatu kesempatan untuk siswa mengamati dan menyusun keterkaitan konsep informasi antar bidang studi.

Hal ini sangat membantu dalam meningkatkan keterampilan berpikir holistik (menyeluruh) dan kebermaknaan belajar.

Pengetahuan yang diterima siswa dapat tersimpan dengan lebih baik karena informasi yang masuk ke alam bawah sadar pikiran siswa melalui proses yang logis dan alami dari tema-tema yang disajikan.

Pembelajaran tematik juga membantu siswa agar lebih lebih dekat dengan objek yang sedang dipelajarinya.Berdasarkan wawancara mahasiswa dibawah bimbingan dosen Dea Mustika, S. Pd., M. Pd terhadap guru Sekolah Dasar Negeri 182 Pekanbaru Novia Susanti. S. Pd diperoleh sejumlah temuan diantaranya:
untuk mengajarkan tematik guru menggunakan cara pembelajaran lebih mengedepankan tampilan mengajar harus menarik.

"Misal tema, Merdeka Belajar. Jadi siswa tidak monoton dengan guru di kelas, membebaskan siswa dengan menyampaikan pendapatnya dengan bertanya jawab. Peran Guru di dalam kelas bukan hanya sekedar berceramah, bisa juga berdiskusi kelompok. Intinya adalah Mardeka Belajar, lalu dikembangkan," papar Novia Susanti. S. Pd guru Sekolah Dasar Negeri 182 Pekanbaru saat diwawancarai di ruangannya.

Mengingat aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selama dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang amat sulit terasa sulit.

Dalam hal semangat kadang semangatnya tinggi tapi kadang juga sulit untuk menggandakan konsentrasi belajar. Demikian kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktivitas belajar.

Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik.

“Dalam keadaan di mana anak didik/siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya,” itulah yang disebut dengan “Kesulitan Belajar”.

Berikut hasil wawancaranya:

Mahasiswa: Apa saja yang menjadi hambatan ibu ketika menerangkan pembelajaran tematik kepada siswa?

Guru: Tematik adalah pembelajaran sambung yang mencakupi beberapa mata pelajaran. Hambatan dalam menerangkan pembelajaran Tematik tersebut kurangnya waktu penjelasan pada materi yaitu pada saat Guru menerangkan satu mata pelajaran IPA, menjadi terpotong karena di lanjutinya materi mata pembelajaran lain sehingga siswa belum paham. Jadi bagusnya, Guru menerangkan materi membutuhkan waktu 1 jam saja. Kemudian masih ada siswa yang takut atau kurang keberanian dalam mengeluarkan ide/pendapat ketika di tanya oleh guru. Itu menjadi salah satu perubahan yang harus dikembangkan oleh gurunya.

Mahasiswa: Fenomena apa saja yang ibu alami ketika proses pembelajaran tematik sedang berlangsung?

Guru: Fenomena baik yang dialami guru yaitu siswa lebih antusias ketika gurunya memberikan proses pembelajaran menarik. Misalnya di dalam kelas menggunakan media pembelajaran infokus atau adanya permainan dalam pembelajaran.

Jadi membebaskan siswa agar tidak monoton. Guru menerangkan, siswa mengerjakan tugas. Contoh permainan yang menjadi musim yaitu tanya-jawab, dengan memberi pertanyaan kepada siswa. Namun jika siswa tidak dapat menjawab, maka akan mendapat hukuman, hukuman tersebut yaitu hukuman yang mendidik.

Seperti menghafal perkalian, atau yang lainnya. Fenomena yang Negatif/ kurang yaitu Siswa kurang berinteraksi di karena materi yang terpotong dengan materi yang akan di lanjuti oleh guru.

Mahasiswa: Bagaimanakah cara ibu menerangkan kepada siswa pada saat covid 19?

Guru: Guru mencoba bermacam cara yaitu salah satunya dengan mengirimkan video materi yang di buat oleh guru lalu di kirim kepada siswa dalam waktu minggu itu. Guru mengadakan Zoom dengan siswa serta menanyakan bagaimana perkembangan hasil belajarnya.

Selain Zoom, juga menggunakan Google Meet. Pengumpulan tugas yang di berikan kepada siswa semisalnya menggunakan Google Form yaitu untuk penilaian harian, kemudian Classroom untuk pengumpulan tugasnya, ada juga Kuis permainan di Quizee.

Jadi, tidak hanya pada satu aplikasi saja yang akan digunakan guru agar siswa senang dalam mengerjakan tugas. Seperti kemarin ada Zenius yaitu tempat pelatihan, reaksi siswa menjadi senang dan asyik pada aplikasi tersebut, adapun aplikasi yang langsung memberikan penilaian pada saat siswa selesai mengerjakannya.

Jadi siswa akan berkembang terus. Pada awal dulu, mereka memfotokan tugas lalu mengumpulkan ke guru, setelah itu guru memberi penilaian.

Hal tersebut menjadi hambataan ketika Memorie Hp guru menjadi penuh. Lalu guru memikirkan cara lain.

Guru harus enovatif dan kreatif dalam mencari cara. Contohnya Ibu terkadang menggunakan cara otodidak.

Lalu dulu membuat video dengan rekaman layar, dan sekarang sudah ada tampilan lain yang menarik.

Sekarang pun walaupun sudah tatap muka 2x dalam seminggu guru memberikan materi di dalam kelas. Namun tugas-tugasnya tetap menggunakan Classroom, Zenius, dan lain-lain. Itulah Pembelajaran pada masa Pandemi.

Mahasiswa: Solusi apakah yang dapat ibu lakukan pada saat pembelajaran tematik di masa Pandemi?

Guru: Permasalahan pada saat pandemi yaitu Tidak ada paket, adanya Paket dari Pemerintahan namun habis, baru adanya pemerlangsungan pembelajaran.

Terkadang ada orang tua yang mau menfasilitasi anaknya dengan memasangkan Wi-Fi dirumah, sehingga pada saat Zoom siswa bisa join. Ada juga beberapa siswa yang tidak mempunyai HP. Jadi salah satu cara guru yaitu mendatangi rumah siswa dengan menanyakan masalah nya apa atau kurangnya perekonomian orang tua.

Mungkin punya HP 1 namun anaknya banyak yang sekolah jadi misalnya si abangnya egois dan tidak meminjamkan HP ke adeknya, dan mengumpulkan di hari-hari tertentu datang kesekolah. Itu solusi mereka bagi yang tidak punya alat elektronik tadi. Tapi kalau dihari-hari yaitu memberikan dari YouTobe dengan membuat sendiri videonya atau melakukan Zoom.

Di dalam kelas, siswa ada yang tidak dapat menjawab karna kurang berani dan ada yang PD dalam menjawab namun tidak sesuai dengan pertanyaan guru ataupun materinya namun itu tidak masalah bagi guru dan guru dapat meluruskan saja atau memperbaiki.

Guru juga tidak harus memberikan hukuman berdiri di depan kelas dan memberikan hukuman seperti memberishkan taman, menyiram bunga, membuang sampah dan lain-lain.

Namun itu juga bukan salah satu hukuman, bisa menjadi kepedulian. Ada juga penerangan Guru melalui gambar atau Peta, dengan cara menyuruh mereka menebak dan menganalisis dengan berbagai macam jawaban, paling tidak mereka mengeluarkan pendapatnya.

Kalaupun tidak nyambung,setidaknya ada yang nyambung dengan kata-katanya. Karena anak SD juga di tanya 1 jawabnya juga 1 beda dengan mahasiswa yang pertanyaannya 1 namun harus bisa menjawab banyak dengan berbagai macam jawaban. Untuk anak SD kita tidak bisa membuat banyak pertanyaan karena mereka tidak bisa berpikir kritis. RR