Indikator dan Tujuan Pembelajaran Tematik

Administrator - Rabu,03 November 2021 - 20:16:22 wib
Indikator dan Tujuan Pembelajaran Tematik
Ilustrasi. Foto: Int

Penulis: Annisa Hasdianti, Meysa Andriani, Lestari Dewi Sanda, Fehmita Miranti
Mahasiswa Program Studi PGSD Angkatan 2020
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Islam Riau
Dosen Pengampu Dea Mustika, S.Pd., M.Pd.

RADARRIAUNET.COM: Indikator dan tujuan pembelajaran tematik sebagai model pembelajaran termasuk salah satu jenis pembelajaran terpadu.

Istilah pembelajaran tematik pada dasarnya merupakan model pembelajaran terpadu menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.

Penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai perubahan perilaku yang dapat di ukur mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan inilah yang menjadi bagian penting dalam capaian pembelajaran.

Selanjutnya indikator tersebut dikembangkan dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan Pendidikan, potensi daerah, dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan dapat di observasi.

Hal ini yang menjadi dasar pengembangan materi yang dilakukan Mahasiswa Program Studi PGSD Angkatan 2020 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau yang terdiri dari Annisa Hasdianti, Meysa Andriani, Lestari Dewi Sanda, Fehmita Miranti.

Pengembangan materi bersumber dari Runita, S.Pd. B. Guru yang berasal dari SDN 003 Setumuk Desa Setumuk Kecamatan Pulau Tiga Barat Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau.

Fungsi indikator hasil belajar yaitu : 1. Pedoman dalam pengembangan materi pembelajaran. 2. Pedoman dalam mendesain kegiatan pembelajaran. 3. Pedoman dalam mengembangkan bahan ajar. 4. Pedoman dalam merancang dan melaksanakan penilaian hasil belajar.

Menurut hasil pengembangan materi tersebut, menunjukkan pembelajaran pada masa lalu, lebih mengutamakan pada pentingnya penguasaan bahan bagi siswa dan pada umumnya dikembangkan melalui pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (Teacher-centered).

Pembelajaran tematik sebagai model pembelajaran memiliki arti penting dalam membangun kompetensi peserta didik karena pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya.

Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang dipahaminya.

Pembelajaran pada metode ini lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan memengaruhi kebermaknaan belajar siswa.

Pengalaman belajar yang menunjukan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif.

Namun seiring dengan pergeseran teori dan cara pandang dalam pembelajaran, tujuan pembelajaran yang semula lebih memusatkan pada penguasahan bahan.

Selanjutnya bergeser menjadi penguasaan kemampuan siswa atau biasa dikenal dengan sebutan penguasaan kompetensi atau performa.

Rumusan tujuan pembelajaran yang dilakukan guru diantaranya, melalui tanya jawab peserta didik. Contohnya, guru menanyakan kepada siswa, sebutkan 3 contoh nama suku bangsa yang ada di Indonesia.

Kemudian, melalui diskusi kelompok peserta didik. Seperti membentuk kelompok dan berdiskusi tentang materi yang telah dibagikan oleh guru.

Selanjutnya, siswa diharapkan mengembangkan informasi yang diperolehnya. Berikutnya, siswa diharapkan mampu mempraktikkan atau mempresentasikan hasil belajarnya.

Dengan demikian, operasional didalam tematik meliputi aspek kognitif, aspek Psikomotor. a. Meniru dengan cara menafsirkan rangsangan (stimulasi).
Kepekaan terhadap rangsangan.

b. Manipulasi dengan cara menyiapkan diri secara fisikc. Presisisi dicapai dengan cara berkonsentrasi untuk menghasilkan ketepatan.

Artikulasi maksudnya adalah mengkaitkan beberapa keterampilan, bekerja berdasarkan pola. Naturalisasi artinya menghasilkan karya cipta. Melakukan sesuatu dengan ketepatan tinggi.

Pembelajaran dengan menerapkan metode ini yakni melakukan kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling memengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Manusia dalam hal ini guru, terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya.

Material meliputi buku-buku, papan tulis, dan kapur, fotografi, slide dan film, audio dan video tape.

Fasilitas dan perlengkapan terdiri dari ruangan kelas, perlengkapan audiovisual, juga komputer. Prosedur meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian dan sebagainya.

Tujuan metode ini adalah tercapainya perubahan perilaku pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.

Sedangkan fungsi pembelajaran adalah memudahkan dalam mengomunikasikan, maksudnya kegiatan belajar mengajar kepada siswa dapat dilakukan lebih mandiri.

Melalui penerapan metode ini, dapat memudahkan guru dalam memilih dan menyusun bahan ajar.

Membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran. Memudahkan guru dalam mengadakan penilaian.

Rumusan indikator yang benar tergantung kepada kemampuan guru dalam memahami ketentuan ketika merumuskan indikator pencapaian kompetensi dasar.

Perumusan indikator akan menjadi tolak ukur keberhasilan siswa mencapai kompetensi yang diharapkan.

Dalam merumuskan indikator tersebut, perlu diperhatikan sejumlah hal diantaranya, indikator dirumuskan dari kompetensi dasar.

Menggunakan Kata Kerja Operasional (KKO) yang dapat di ukur.

Indikator dirumuskan dalam kalimat yang simpel, jelas dan mudah di pahami. Tidak menggunakan kata yang bermakna ganda.

Hanya mengandung satu tindakan dan satu materi.

Memperhatikan karakteristik mata pelajaran, potensi dan kebutuhan siswa, sekolah, masyarakat, dan lingkungan.

Tulisan ini dimuat untuk memenuhi tugas Dosen Pengampu Dea Mustika, S.Pd., M.Pd.

RR