Lingkungan tak Bersih, UPTD Puskesmas Rambah Ungkap 43 Warga Terjangkit DBD

Administrator - Senin,25 November 2019 - 15:36:08 wib
Lingkungan tak Bersih, UPTD Puskesmas Rambah Ungkap 43 Warga Terjangkit DBD
Ilustrasi. Foto: Int

RADARRIAUNET.COM: Pihak UPTD Puskemas Rambah mengakui, saat ini sudah terdata 43 warga sejumlah desa/kelurahan di Kecamatan Rambah, Rohul, yang terserang Demam Berdarah Dengue (DBD). Itu ditegaskan Kepala UPTD Puskesmas Rambah, Syafri Maldi, didampingi Pj Upaya Kesehatan Masyarakat Juli Supriadi. Namun hal itu tidak menutup kemungkinan akan adanya tambahan data warga yang terserang DBD.

Seperti musim pancaroba atau pergantian musim panas ke musim penghujan di waktu sebelumnya, sering terjadi DBD yang menyerang warga. Bahkan untuk di Rambah, DBD yang terjadi di daerah endemik DBD, seperti kawasan Desa Koto Tinggi kini warga terserang DBD capai 11 orang dari 43 kasus.

"Termasuk di Kelurahan Pasir Pangaraian, ditemukan 6 kasus, Rambah Tengah Barat 6 kasus serta Desa Pematang Berangan 3 kasus. Ini disebabkan tingkat kesadaran dari masyarakat bersihkan lingkungan tempat tinggalnya minim. Padahal dengan melakukan pembersihan lingkungan dengan menerapkan 3M, maka akan jauh dari wabah DBD," ujar Syafri Maldi, dilansir halloriau.com.

Syafri Maldi juga menegaskan, bahwa sudah dipastikan warga terserang DBD kawasan lingkungannya kotor. Juga banyak ditemukan botol kosong, ember atau barang elektronik, ban bekas yang dapat menampung air hujan dan jadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aides Agepty penyebab DBD.

"Kita sudah berikan himbauan bahaya DBD di musim pancaroba, sosialisasi kesehatan ke masyarakat, dan lainnya. Namun yang ampuh agar tidak berkembang biaknya nyamuk DBD hanya dengan cara membersihkan lingkungan tempat tinggalnya masing- masing," ucap Syafri Maldi yang akrab disapa Efi.

Juli Supriadi juga menjelaskan, warga yang dikategorikan terserang DBD apablia trombosit di bawah 100 ribu. Pihaknya mendata warga terkena DBD dari data yang masuk, dapat berita dari hasil labor pasien, dan DBD tergantung daya tahan tubuh pasien itu.

"DBD merupakan penyakit perkotaan, karena pola hidup masyarakatnya yang kurang peduli terhadap lingkungannya. Kalau di daerah transmigrasi, masyarakatnya setiap minggu gelar gotong royong bersihkan lingkungan, sehingga DBD tidak berkembang biak," ucap Juli.

Juli juga menyatakan, penyakit DBD sebenarnya penyakit berbahaya daripada HIV atau AIDS. Karena orang terkena HIV atau AIDS bisa bertahun - tahun baru meninggal. Sedangkan penderita DBD bila kekebalaan tubuhnya tidak ada, maka dalam seminggu bila tidak ditangani dengan benar, maka penderita bisa meninggal dunia.

 

RR/DAI