Kejati 'Jemput Paksa' Ketua KONI Kampar

Administrator - Minggu,12 Desember 2021 - 19:51:53 wib
Kejati 'Jemput Paksa' Ketua KONI Kampar
Ketua KONI Kampar Surya Darmawan. Foto: RTC

RADARRIAUNET.COM: Kejaksaan Tinggi Riau terus mengumpulkan sejumlah bukti untuk membongkar kasus korupsi di RSUD Bangkinang.

Untuk mengungkap kasus tersebut, Kejati Riau telah melakukan pemanggilan sejumlah saksi. Namun terdapat saksi yang telah berulang kali dipanggil namun enggan hadir memberikan keterangan.

Akibatnya, Kejati bakal menjemput paksa saksi, diantaranya Ketua KONI Kampar Surya Darmawan.

Penyidikan perkara ini dilakukan berdasarkan surat perintah penyidikan (sprindik) nomor : PRINT-03/L.4/Fd.1/01/2021.

Surat itu ditandatangani pada 22 Januari 2021 oleh Kepala Kejati (Kajati) Riau kala itu, Mia Amiati.

Sejauh ini, penyidik telah menetapkan dua orang tersangka. Mereka masing-masing berinisial MYS selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan RA, Team Leader Management Konstruksi (MK) atau Pengawas pada kegiatan pembangunan ruang instalasi rawat inap di RSUD Bangkinang.

Keduanya dipanggil untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi. Hari itu juga, penyidik meningkatkan status keduanya menjadi tersangka, dan langsung dilakukan penahanan.

Keduanya dititipkan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Pekanbaru untuk 20 hari ke depan. Kendati begitu, penahanan bisa saja diperpanjang, sesuai kebutuhan penyidikan perkara.

Dalam proses penyidikan ini, ada saksi yang telah tiga kali dipanggil, namun memilih tak hadir. Dari informasi yang didapat, salah satu saksi itu adalah Surya Darmawan, Ketua KONI Kabupaten Kampar. Teranyar dia dipanggil untuk menjalani pemeriksaan pada Rabu 24 November 2021 lalu.

Atas sikap tak kooperatif tersebut, tim penyidik akan mengambil sikap. "Kita nanti akan berkoordinasi dengan Intel. Kita upayakan maksimal, kita tidak bisa ekspos terlalu jauh. Kita bekerja sama dengan Intel untuk mencari orang itu," ujar Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Riau, Tri Joko.

Menurut Tri Joko, pemanggilan 3 kali terhadap saksi untuk diperiksa, itu sudah jumlah maksimal. Untuk itu, dia mengimbau agar saksi, bisa kooperatif memenuhi panggilan jaksa.

Disinggung apakah nanti saksi akan dijemput paksa, Tri Joko tak menampiknya. "Itulah jalan terakhir kita nanti," tegas Tri Joko.

Sikap tidak kooperatif tidak kali ini saja ditunjukkan Surya Darmawan. Saat perkara ini masih dalam tahap penyidikan umum, dia pernah beberapa kali mangkir dari pemeriksaan dengan alasan penyidik salah menuliskan namanya. Barulah pada Rabu 10 Maret 2021 lalu, dia hadir memenuhi panggilan penyidik.

Sebelumnya, Tri Joko pernah mengatakan kalau jumlah tersangka dalam perkara ini dimungkinkan bertambah. Hal itu tergantung proses penyidikan yang dilakukan pihaknya.

"Tidak menutup kemungkinan ya (bertambahnya jumlah tersangka)," kata Tri Joko belum lama ini.

Terbukanya kemungkinan itu tergantung dari proses penyidikan yang masih berjalan. Pihaknya masih mengagendakan pemeriksaan saksi-saksi untuk membuat terang perkara ini.

"Karena berdasarkan fakta-fakta dalam proses penyidikan, sementara kita baru menemukan dua orang tersangka yaitu PPK dan Pengawas," sebut Tri Joko.

"Kita akan melakukan pemeriksaan kembali terhadap saksi-saksi yang ada. Tidak menutup kemungkinan akan ditetapkan sebagai tersangka (baru)," sambung mantan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kudus itu.

Diketahui, kegiatan pembangunan ruang Irna kelas III di RSUD Bangkinang dilakukan dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Kementerian Kesehatan. Pagu anggaran Rp46.662.000.000.

Kegiatan pembangunan dilaksanakan oleh PT Gemilang Utama Allen selaku pemenang lelang dengan nilai kontrak sebesar Rp46.492.675.038.

Perusahaan ini diduga pinjam bendera. Management Konstruksi (pengawas) dilaksanakan oleh PT Fajar Nusa Konsultan selaku pemenang lelang.

Sampai dengan berakhirnya jangka waktu pelaksanaan 22 Desember 2019 sesuai kontrak, pekerjaan tidak dapat diselesaikan penyedia.

Selanjutnya dilakukan perpanjangan waktu 90 hari kalender (sampai 21 Maret 2020) yang dituangkan dalam Addendum Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan.

Akan tetapi pembangunan tetap tidak dapat diselesaikan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik oleh ahli fisik terdapat item-item pekerjaan sesuai kontrak yang tidak dikerjakan oleh penyedia.

Seperti kamar mandi, lift yang belum dikerjakan, ada beberapa item yang tidak sesuai spek.

Dari perhitungan kerugian keuangan negara oleh auditor diperoleh nilai kerugian sebesar Rp8.045.031.044,14. Audit dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Riau.

Sebelumnya, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kampar, Surya Darmawan, kembali mangkir dari panggilan jaksa penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, Rabu 24 November 2021 lalu.

Surya Darmawan tidak memberi alasan kenapa tidak hadir.

Sedianya Surya Darmawan akan diperiksa sebagai saksi dugaan korupsi proyek pembangunan ruang instalasi rawat inap (Irna) Kelas III di RSUD Bangkinang Tahun Anggaran 2019.

Namun hingga sore, pria yang akrab disapa Surya Kawi itu tak kunjung datang ke Kejati Riau.

"Bersangkutan (Surya Darmawan, red) belum hadir," ujar Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejati Riau, Marvelous, Rabu sore.

Selain Surya Darmawan, jaksa penyidik juga memanggil saksi dari pihak rekanan yang mengerjakan proyek Irna Kelas III RSUD Bangkinang berinisial F dan KA. Keduanya juga tidak hadir.

Marvelous mengatakan, jaksa penyidik akan menentukan sikap jika kepara para saksi yang tidak hadir.

"Tim penyidiknya akan menentukan langkah apa yang akan diambil setelah mereka briefing. Kita tunggu saja, mungkin dipanggil lagi," tutur Marvelous.

Dalam perkara ini, jaksa penyidik sudah menetapkan dua orang tersangka yakni MYS selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan RA, Team Leader Management Konstruksi (MK) atau Pengawas pada kegiatan pembangunan ruang instalasi rawat inap di RSUD Bangkinang.

Kedua tersangka ditahan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Pekanbaru usai diperiksa pada Jumat 12 November 2021. Penahanan dilakukan selama 20 hari, dan bisa diperpanjang sesuai kebutuhan penyidikan.

Ketika itu, jaksa penyidik juga dikabarkan memanggil Surya Darmawan tapi dia tidak datang tanpa memberikan keterangan.

Sebelum perkara ditingkatkan ke penyidikan, ia juga sudah beberapa kali mangkir dengan alasan jaksa penyidik salah menuliskan namanya dan baru hadir.

Sebelumnya, Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Riau, Tri Joko mengatakan, jumlah tersangka dalam perkara ini bisa bertambah. tergantung proses penyidikan yang dilakukan. Pemeriksaan saksi-saksi terus dilakukan untuk membuat terang perkara.

"Berdasarkan fakta-fakta dalam proses penyidikan, sementara kita baru menemukan dua orang tersangka yaitu PPK dan Pengawas. Kami akan melakukan pemeriksaan kembali terhadap saksi-saksi yang ada. Tidak menutup kemungkinan akan ditetapkan sebagai tersangka (baru)," jelas Tri Joko.

Kegiatan pembangunan dilaksanakan oleh PT Gemilang Utama Allen selaku pemenang lelang dengan nilai kontrak sebesar Rp46.492.675.038. Perusahaan ini diduga pinjam bendera. Managemen Konstruksi (pengawas) dilaksanakan oleh PT Fajar Nusa Konsultan selaku pemenang lelang.

Sampai dengan berakhirnya jangka waktu pelaksanaan 22 Desember 2019 sesuai kontrak, pekerjaan tidak dapat diselesaikan penyedia.

Selanjutnya dilakukan perpanjangan waktu 90 hari kalender (sampai 21 Maret 2020) yang dituangkan dalam Addendum Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan.

"Akan tetapi pembangunan tetap tidak dapat diselesaikan. Kedua tersangka, diduga tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya," kata Tri Joko.

Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik oleh ahli fisik terdapat item-item pekerjaan sesuai kontrak yang tidak dikerjakan oleh penyedia. Seperti kamar mandi, lift yang belum dikerjakan, ada beberapa item yang tidak sesuai spek.

Dari perhitungan kerugian keuangan negara oleh auditor diperoleh nilai kerugian sebesar Rp8.045.031.044,14. Audit dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Riau.

Sebelumnya, korupsi RSUD Bangkinang sudah menjerat dua tersangka, Rif Helfi Arselan dan Mayusri. Penyidik Kejati Riau sudah menahan keduanyapada Jum'at, 12 November 2021.

Panggilan terhadap Ketua KONI Kampar ini merupakan yang kedua kali. Pekan lalu, Surya tidak datang memenuhi panggilan penyidik untuk memberikan keterangan sebagai saksi.

Sementara pada panggilan kedua ini, yang bersangkutan juga tidak datang. Penyidik sudah menunggunya hingga petang hari tapi dirinya tak kunjung datang.

Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Riau Marvelous membenarkan pemanggilan saksi ini. Dia menyebut ada sejumlah saksi yang dijadwalkan diperiksa selain Surya pada korupsi RSUD Bangkinang.
"Benar, yang bersangkutan belum hadir," kata pria disapa Marvel ini.

Saksi lain, tambah Marvel, juga tak datang memenuhi panggilan penyidik. Saksi tersebut berinisial E dan KA yang merupakan rekanan proyek RSUD yang tak kunjung selesai dibangun hingga kini.

Menurut Marvel, penyidik akan mengambil sikap terkait ketidakhadiran para saksi dimaksud. Hanya saja tidak disebut sikap seperti apa yang diambil, apakah memanggil lagi atau ada upaya jaksa.

Sementara itu, Ketua KONI Kampar Surya Darmawan dikonfirmasi wartawan melalui pesan Whatsapp tidak memberikan jawaban kenapa dirinya tidak hadir memenuhi panggilan penyidik.

Sebagai informasi, sejumlah saksi tidak kooperatif mulai terjadi sejak kasus ini masih penyelidikan. Sejumlah orang tidak datang tanpa keterangan meskipun dipanggil sebagai saksi, bukan tersangka.

Sebelumnya, Asisten Pidana Khusus Kejati Riau Trijoko SH menjelaskan, pembangunan RSUD Bangkinang dilaksanakan PT Gemilang Utama Alen selaku pemenang lelang. Perusahaan ini diduga pinjam bendera untuk mendapatkan proyek tersebut tapi kemudian dikerjakan perusahaan lain.

Adapun manajemen konstruksi proyek ini dilaksanakan oleh PT Fajar Nusa Konsultan. Sesuai kontrak, proyek dimulai pada 17 Mei 2019 dan berakhir pada 22 Desember 2021.

Hingga tanggal itu, pekerjaan tidak selesai sehingga dilakukan adendum selama 90 hari kalender atau sampai 22 Maret 2020. Proyek ini bersumber dari APBD tahun 2019 bernilai Rp46 miliar lebih.
"Namun pembangunan tetap tidak dapat diselesaikan," kata Trijoko.

Berdasarkan hasil pemeriksaan oleh ahli fisik, terdapat item-item pekerjaan yang tidak dikerjakan oleh penyedia. Di antaranya kamar mandi, lift dan beberapa ruangan lainnya.

"Banyak pekerjaan tidak sesuai spek dan banyak yang tidak terpasang," kata Trijoko.

Hingga kini, bangunan di Jalan Lingkar Bangkinang itu tidak bisa dipakai masyarakat. Selain belum serah terima, bangunan tidak mampu dikerjakan oleh kontraktor.

"Berdasarkan perhitungan kerugian keuangan negara oleh auditor dari BPKP diperoleh nilai kerugian keuangan negara sebesar Rp8.045.031.044,14," kata Trijoko.

Meski telah menahan dua tersangka, Trijoko menyebut kasus ini masih dikembangkan. Tak menutup kemungkinan adanya tersangka baru karena proyek ini melibatkan sejumlah pihak.

Isu mencuat, proyek ini menggunakan jasa makelar. Hal tersebut menguat setelah pemenang tender proyek ini hanya pinjam bendera kemudian diberikan kepada perusahaan lain untuk mengerjakan.

Sebelumnya, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau memang sudah menahan dua tersangka korupsi pembangunan ruangan instalasi rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang, Kabupaten Kampar. Namun sepertinya pengusutan masih berlanjut sehingga membuka peluang adanya tersangka baru.

Hal ini mengemuka sebelum tersangka Rif Helfi Arselan dan Mayusri ditahan penyidik pidana khusus Kejati Riau. Pasalnya pada Jumat itu, 12 November 2021, ada sejumlah orang dipanggil tapi mangkir.

Asisten Pidana Khusus Kejati Riau Trijoko kepada wartawan menyebut memang ada saksi lain dipanggil sebelum kedua tersangka ditahan. Hanya saja, Trijoko tidak menyebut siapa saja beberapa orang yang tidak mengindahkan panggilannya itu.

"Masih terus berlanjut sehingga kemungkinan ada tersangka baru," kata Tri.

Informasi dirangkum, satu di antara pihak yang mangkir merupakan petinggi di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kampar berinisial DS.

Dia diduga sebagai broker atau makelar proyek bernilai Rp46 miliar itu.

Saat kasus korupsi RSUD Bangkinang masih penyelidikan, DS juga pernah mangkir dengan alasan tidak menerima surat panggilan.

Namun pada panggilan berikutnya, DS datang untuk memberikan keterangan.

Terkait adanya pihak yang mangkir karena takut langsung ditahan oleh Kejati Riau, Asisten Intelijen Raharjo Budi Kisnanto tak menampiknya. Dia menyebut penyidik tengah mempersiapkan panggilan ulang.

"Lagi dipersiapkan surat panggilannya," kata Raharjo.

Terkait nama DS yang sudah tiga kali mangkir setelah kasus ini naik ke penyidikan, Raharjo hanya menjawab singkat.

"Tunggu saja tanggal mainnya," tegas Raharjo.

RR/CPL/HRC/L6/RMC