Kejari Kuansing 'Mendapat' Papan Bunga

Administrator - Sabtu,08 Agustus 2020 - 00:49:42 wib
Kejari Kuansing 'Mendapat' Papan Bunga
Papan bunga dukungan ke Kejari Kuansing untuk mengusut sejumlah kasus dugaan korupsi di Kuansing. Foto: Tribunpekanbaru

RADARRIAUNET.COM: Kejaksaan Negeri (Kejari) Kuansing pada Rabu pagi (5/8/2020) mendapat kiriman tiga papan bunga dari pihak yang tidak dikenal, yang isinya dukungan atas pengusutan sejumlah dugaan kasus korupsi di Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau. Namun ditemukan ada yang janggal dalam papan bunga tersebut.

Papan bunga pertama berbunyi, "Kejari semangat tuntaskan kasus korupsi hotel Kuansing 2015. Mahasiswa Kuansing"

Papan bunga kedua berbunyi, "Pak Kejari sikat aktor besar yang memonopoli paket proyek di Disdikpora 2017-2020. Aktivis Kuansing".

Papan bunga ketiga berbunyi, "Kejari hebat. Usut tuntas kasus korupsi pengadaan alat Disdikpora 2019. Masyarakat Kuansing"

Dugaan korupsi di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kuansing yang sedang diusut Kejari Kuansing yakni proyek pengadaan alat peraga IPA Sains SD Berbasis Digital Interaktif untuk tahun 2019.

Kasus ini baru naik ke tahap penyidikan pada Senin (27/7/2020) lalu.

Besar anggaran untuk kegiatan tersebut yakni Rp 4,5 Miliar. Belum diketahui kerugian negara dalam kasus ini. Tersangka pun belum ditetapkan.

Sedangkan kasus hotel Kuansing yakni proyek pembangunan ruang pertemuan Hotel Kuansing khusus pengadaan moubiler yang naik ke tahap penyidikan pada 20 Juli lalu. Anggaran sebesar Rp 13.100.250.800 yang bersumber dari APBD 2015.

Dalam kasus hotel ini, besaran kerugian negara belum diketahui. Tersangka juga belum ditetapkan.

Kejanggalan dalam dukungan papan bunga tersebut yakni mahasiswa, aktivis dan masyarakat pengirim papan bunga tersebut, tidak mengikutkan dan/atau memasukkan kasus dugaan korupsi di Sekretariat Daerah (Setda) Pemkab Kuansing tahun anggaran APBD 2017 dan 2018 untuk dukungan ke Kejari Kuansing. Padahal kasus ini cukup menyedot perhatian publik.

Dugaan korupsi itu di Bagian Umum Sekretariat Daerah (Setda) Pemkab Kuansing lima tersangka yang sudah ditahan, mulai dari pejabat Pemkab Kuansing, seperti mantan Plt Sekda dan juga mantan Kabag Umum.

Dari segi kerugian negara, kasus dugaan korupsi di anggaran Setda 2017 ini sangat bombastis. Nilai proyek Rp 13.300.600.000. Dan sedangkan perhitungan untuk realisasi anggaran pada proyek tersebut Rp 13.209.590.102. Temuan penegak hukum, realisasi kegiatan hanya sebesar Rp 2.449.359.263 dan pajak sebesar Rp 357.930.313. Sehingga terdapat selisih bayar atau kerugian negara Rp 10.462.264.516. Dari kerugian negara tersebut, sudah dikembalikan sebesar Rp 2.951.225.910. Sisa kerugian negara yang belum dibayarkan Rp 7.451.038.606.

Bisa di total, berapa persentase anggaran yang diduga dikorupsi jika dibandingkan dengan yang digunakan untuk melaksanakan proyek ini.

Pihak yang diduga dipusaran kasus ini juga bukan sembarangan.

Bupati Mursini serta wakilnya Halim, pernah diperiksa pihak Kejari Kuansing. Bahkan anggota DPRD Kuansing periode 2014-2019 juga ikut diperiksa.

Selain itu, juga ada kasus dugaan korupsi pada proyek biaya konsumsi makan dan minum di bagian Setda Pemkab Kuansing tahun anggaran 2018.

Dari temuan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK), ada kerugian negara sebesar Rp 574 juta - sudah dibayar sebagian dimana sisa yang belum dibayar Rp 259 juta. Polanya, anggaran 2018 digunakan untuk membayar kegiatan 2017 yang tidak ada dasar hukumnya.

Sebagai informasi tambahan, dalam kasus ini sempat menyita perhatian publik pada Juli lalu bahwa dalam proses pemeriksaan yang dilakukan oleh Kejari Kuansing terhadap Setda Kuansing saat ini, Dianto Mampanini sempat melaporkan Kasi Pidsus yang memeriksa saat itu, Muhammad Gempa Awaljon Putra SH, MH ke Kejati Riau dengan dugaan pemerasan.

 

RRN/Tribunpekanbaru