Red Velvet Cake, Nama Asli Android 11?

Administrator - Senin,27 Juli 2020 - 08:04:38 wib
Red Velvet Cake, Nama Asli Android 11?
Tim pengembangan internal Google sebut Android 11 dengan kodenama Red Velvet Cake. Medcom

RADARRIAUNET.COM: Google mengejutkan penggemar Android pada tahun lalu, dengan mengumumkan skema penamaan yang menggunakan nama makanan penutup untuk menandai perilisan versi utama baru dari Android, dihadirkan sesuai urutan huruf alfabet.

Mengutip Phone Arena, Google melanjutkan skema penamaan yang telah dilakukannya sejak Android 1.5 ini dalam urutan alfabet setiap tahunnya hingga Android 10 yang dirilis tahun 2019 lalu. Berdasarkan pola tersebut, Google diperkirakan akan menggunakan nama makanan penutup lain, dimulai dengan huruf Q.

Sehingga pada tahun 2019 lalu, Google menghentikan skema penamaan dengan makanan penutup dan mengklaim skema ini tidak lagi akan digunakan. Menariknya, skema penamaan lama ini masih digunakan Google pada versi beta dari Android yaitu Android R.

Vice President of Engineering Android Dave Burke menyebut bahwa tim teknisi software internal Android tetap menggunakan nama makanan penutup untuk mengidentifikasi versi terbaru dari sistem operasi ini. Burke menyebut bahwa tim teknisi tengah mengembangkan versi berkodenama RVC, atau Red Velvet Cake.

Pada tahun lalu, Burke menyebut bahwa Android 10 akan disebut akan mengusung nama Queen Cake namun kemudian dikenal oleh pihak internal pengembang Android sebagai Quince Tart.

Riwayat skema penamaan dengan nama makanan penutup Google dimulai sejak Android 1.5 yang dirilis pada tahun 2009, mengusung nama Cupcake.

Setelahnya, Google menamai Android 1.6 dengan Donut, Android 2.0 dengan Eclair, Android 2.2 dengan Froyo, Android 2.3 dengan Gingerbread, Android 3.0 dengan Honeycomb, Android 4.0 dengan Ice Cream Sandwich, Android 4.1 dengan Jelly Bean, Android 4.4 dengan KitKat, Android 5.0 dengan Lollipop, Android 6.0 dengan Marshmallow, Android 7.0 dengan Nougat, Android 8.0 dengan Oreo, dan Android 9.0
dengan Pie.

Sebelumnya, Google akan melarang iklan yang mempromosikan teori konspirasi terkait virus corona, menghapus iklan dari halaman yang mempromosikan teori ini, dan melakukan demonetisasi seluruh situs yang kerap melanggar kebijakannya, mulai tanggal 18 Agustus.

Larangan tersebut melengkapi kebijakan pelarangan yang telah diterapkan Google sebelumnya terkait monetisasi informasi medis yang berbahaya. Perwakilan Google mengonfirmasi kebijakan baru ini akan mencakup halaman yang bertolak belakang dengan konsensus ilmiah autoritatif menyoal pandemik virus corona.

 

 

RRN/medcom