Arogan

Administrator - Jumat,17 Januari 2020 - 11:43:31 wib
Arogan
Ilustrasi.internet

Yohanes 7:45-52: Jika teliti membaca pasal tujuh ini, kita akan menemukan dua hal yang dicatat berulang. Pertama, pertentangan orang banyak mengenai siapakah Yesus (10-13, 40-42). Kedua, usaha pemuka agama untuk menangkap Yesus (1, 13, 20, 25, 30, 44).

Kedua hal itu sekarang berpusat di lingkaran para pemuka agama. Seharusnya, para pemuka agama bisa melihat bahwa Yesus adalah Mesias. Namun, Yesus justru dianggap penyesat. Para penjaga Bait Allah yang diperintahkan menangkap Yesus (32) tidak membawa-Nya ke hadapan pemuka agama (45). Mereka tidak melihat Yesus sebagai penyesat (46). Nikodemus, salah seorang pemuka agama yang pernah datang kepada Yesus, mengingatkan agar rekan-rekannya menjalankan hukum Taurat dengan adil (51). Ia juga melihat Yesus secara berbeda. Tampaknya, percakapan dengan Yesus dalam Yohanes pasal 3 memberikan dampak positif bagi Nikodemus.

Tentu saja hal ini membuat pemuka agama lainnya marah. Kemarahan itu membangkitkan sifat arogan. Mereka menganggap orang yang percaya Yesus tidak mempelajari hukum Taurat (49). Mereka merasa superior dan paling benar di antara yang lain, bahkan Yesus.

Arogansi membuat orang merasa lebih tinggi. Arogansi menciptakan kebanggaan palsu yang merusak mental. Arogansi menjadikan mata rohani buta sehingga tidak melihat kebenaran Allah yang sejati. Arogansi menulikan telinga terhadap berita kebenaran tertinggi. Arogansi menumpulkan pikiran sehingga tidak mengerti kebenaran hakiki. Akhirnya, arogansi menghancurkan hidup manusia.

Jangan arogan! Sebaliknya, rendahkanlah diri serendah-rendahnya di hadapan Tuhan. Biarlah kebenaran-Nya mengubah hidup kita. Jangan menjadi tuhan atas hidup sendiri. Tuhankanlah Yesus Kristus dalam hidup kita. Itulah kebenaran yang sesungguhnya: Yesus adalah Tuhan, Sang Mesias.

Doa: Bebaskan kami dari kesombongan agar kami bisa melihat kebenaran-Mu yang sejati. [JPH]ut 0.

 




Berita Terkait