Penyair, Sastrawan dan Seniman Rayakan Hari Puisi dengan Kenduri Budaya di Muara Bio Kampar

Administrator - Rabu,09 Oktober 2019 - 14:12:27 wib
Penyair, Sastrawan dan Seniman Rayakan Hari Puisi dengan Kenduri Budaya di Muara Bio Kampar
Goriau.com pict

PEKANBARU: Puluhan penyair, sastrawan, budayawan dan seniman dari berbagai provinsi di Indonesia, bahkan mancanegara mengikuti Kenduri Budaya di Desa Muara Bio, Kecamatan Kamparkiri Hulu, Kabupaten Kampar, dikutip dari GORIAU(9/10/2019).

 

Kegiatan yang digagas dan dilaksanakan  oleh Komunitas Seni Rumah Sunting Pekanbaru ini, didukung berbagai pihak, antara lain Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, WWF Indonesia, Yayasan Peduli Konservasi Alam (Yapeka),  Papala Padang Sawah, dan yang paling penting didukung Kepala Desa dan masyarakat Desa Muara Bio serta kepala desa di sepanjang alir Subayang, seperti Desa Gema, Tanjung Belit, Aur Kuning dan Pangkalan Serai. Kepala desa tersebut selain hadir, juga membantu perahu untuk kepentingan transportasi  dari Desa Gema menuju Muara Bio.

Kepala BBKSDA Riau, Suharyono SH, MHum, MSi hadir sebagai salah satu pembicara dalam Kenduri Budaya tersebut. Ada juga Rini Intama, penyair dan sasterawan asal Banten, Kepala Desa Aur Kuning Adamri. Dialog dimoderatori langsung oleh Kunni Masrohanti, pembina sekligus pimpinan Komunitas Seni Rumah Sunting.

Sastrawan dan penyair yang hadir antara lain, Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri (Jakarta), Ihsan Subhan (Jawa Barat), Ujang Saepuddin (Jawa Barat), Nik Mansour Nik Halim (Vietnam), Y Nidie Nie (Vietnam), Dr Malim Gazali (Kuala Lumpur, Malaysia), M Rosli Bakir dan Hamzah Hamdan (Johor, Malaysia), Dr Hermawanan, Dr Endut Achadiat, Muhammad Subhan, Muhammad Ibrahim Ilyas, Arbi Tanjung, Syarifuddin Arifin, Yeyen Kiram (Sumbar), Ubaidillah Al Ansori, Suyadi San, Tantowi Panggabean (Medan), Erlina (Kepri), Abinya Umar (Palembang) dan masih banyak lainnya.

Para peserta menikmati kemolekan alam Rimbang Baling dan Sungai Subayang dengan naik perahu (piaw), bebas mengeksplore kebudayaan masyarakat Muara Bio, makan bajamba, mengikuti dialog sastra budaya, membaca puisi di panggung terbuka, melihat lebih dekat prosesi tembak ikan hingga api unggun, bakar ikan dan udang di tengah malam.

Dialog sastra dan budaya malam itu mengusung tema Mancokau Puisi dalam Lubuk Tradisi. Kunni Masrohanti, pembina sekaligus pimpinan Komunitas Seni Rumah Sunting, menjelaskan, tema itu sengaja dikedepankan agar penyair yang datang melihat, mendengar dan merasakan keistimewaan adat, budaya dan tradisi di sana, lalu menuliskan  dalam karya puisi.

"Mancokau itu artinya membongkar. Kami berharap penyair yang datang akan membongkar informasi dari dalam lubuk tradisi yang mereka dengar dan rasakan, lalu menulisnya menjadi puisi,'' kata Kunni.

Kenduri Budaya malam itu juga dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kampar Zulia Darma, Ketua Genpi Kampar Dody Rasyid Amin dan Wakil Ketua DPRD Kampar Repol S.Ag.

Sutardji Calzoum Bachri yang mengikuti rangkaian kegiatan sejak sehari sebelumnya di Pekanbaru, mengatakan, Kenduri Budaya merupakan cara yang diberikan Kunni dan Rumah Sunting agar para penyair tidak hanya mengetahui bagaimana adat dan tradisi sebagai sumber inspirasi puisi, tapi juga melihat dan merasakan langsung.

"Menulis puisi dengan sumber inspirasi yang hanya diketahui berbeda dengan yang dilihat dan dirasakan. Kunni mengajak penyair dengan Kenduri Budaya di Muara Bio menjadi tidak hanya  mengetahui, tapi juga mengajak penyair untuk melihat dan merasakan sendiri, "kata Sutardji.


RRN/GORIAU