Studi: Diet Vegetarian Tingkatkan Risiko Stroke

Administrator - Selasa,10 September 2019 - 15:31:49 wib
Studi: Diet Vegetarian Tingkatkan Risiko Stroke
Ilustrasi. Studi terbaru menemukan, diet vegetarian dapat meningkatkan risiko stroke.cnni pic

Jakarta : Banyak orang beramai-ramai menjalankan pola hidup sehat dengan menghindari konsumsi daging. Namun, studi teranyar justru menemukan risiko kesehatan terkait diet vegetarian. Risiko stroke termasuk di dalamnya.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal medis BMJ ini menyebut, mereka yang tidak mengonsumsi daging lebih berisiko terkena penyakit stroke. Namun, pada saat yang bersamaan, mereka juga diketahui memiliki risiko yang lebih rendah terkait penyakit jantung koroner.

"Jika kita melihat angka absolut, risiko jantung koroner [pada mereka yang tidak mengonsumsi daging] lebih rendah, tapi risiko stroke lebih tinggi," ujar pemimpin studi, Tammy Tong, yang merupakan ahli gizi Oxford University seperti sitat CNN Indonesia.

Studi ini merupakan yang pertama kali mengaitkan risiko stroke dengan diet vegetarian. Penelitian menemukan bahwa diet vegetarian memiliki risiko stroke 20 persen lebih tinggi dan risiko penyakit jantung koroner 22 persen lebih rendah daripada para pemakan daging.

Stroke hemoragik diketahui terkait dengan diet jenis ini. Stroke ini merupakan kondisi pecahnya salah satu arteri yang memicu pendarahan di sekitar otak. Hal itu membuat aliran darah pada sebagian otak terputus.

Peneliti memantau lebih dari 48 ribu partisipan di Inggris dengan rata-rata usia 45 tahun selama 18 tahun periode studi. Partisipan dibagi ke dalam tiga kelompok: pemakan daging, pescetarian, dan vegetarian. Hasilnya, ditemukan sebanyak 2.820 kasus penyakit jantung koroner dan 1.072 kasus stroke pada partisipan.


Namun, studi tak menemukan alasan yang melatarbelakangi tingginya risiko stroke pada mereka yang tidak mengonsumsi daging. Tong menduga, kaitan tersebut disebabkan oleh kadar kolesterol yang sangat rendah pada diet satu ini.

"Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa kadar kolesterol rendah dikaitkan dengan risiko stroke hemoragik," ujar Tong.

Kendati menjadi pionir, namun penelitian ini diragukan oleh sejumlah ahli. Ahli gizi Mark Lawrence dan Sarah McNaughton, dalam tajuk rencana pada jurnal yang sama, menulis bahwa hasil penelitian tak berlaku untuk semua kaum vegetarian secara global.

"Peserta semua berasal dari Inggris, di mana pola diet dan perilaku gaya hidup cenderung saling berbeda di setiap negara," tulis keduanya.

Ahli diet dari British Heart Foundation, Tracy Parker mengatakan bahwa penelitian baru bersifat observasional. "Penelitian tak memberikan cukup bukti," katanya.

Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mendukung hasil temuan tersebut dan mencari penyebab keterkaitan antara risiko stroke yang lebih tinggi pada mereka yang menjalani diet vegetarian.


RRN/CNNI