3 Faktor Penyebab Turunnya Kualitas Udara Jakarta

Administrator - Selasa,16 Juli 2019 - 15:00:28 wib
3 Faktor Penyebab Turunnya Kualitas Udara Jakarta
Kualitas udara Jakarta. cnni pic

Jakarta : Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan menurunnya kualitas udara Jakarta belakangan ini disebabkan oleh tiga faktor yakni polusi kendaraan, pembangunan, dan musim kemarau.

Kabid Diseminasi Informasi Iklim & Kualitas Udara BMKG Hary Tirto Djatmiko mengatakan musim kemarau turut memperburuk kualitas udara karena ketiadaan hujan untuk mengurangi pengendapan polutan di udara.

"Pada musim kemarau, terutama pada hari-hari sudah lama tidak terjadi hujan, udara yang stagnan, cuaca cerah, adanya lapisan inversi suhu, atau kecepatan angin yang rendah memungkinkan polusi udara tetap mengapung di udara suatu wilayah dan mengakibatkan peningkatan konsentrasi polutan yang tinggi," ucap Hary seperti sitat CNNIndonesia.com, Selasa (16/7/2019).

Hary menerangkan kondisi udara yang kabur merupakan hasil reaksi kimia antara udara dengan kontaminan. Peningkatan konsentrasi partikel polutan PM10 (particullate matter) dan PM2.5 menurutnya meningkat sepanjang Juni hingga awal Juli, terutama dalam 20 hari terakhir. Hal ini mengindikasikan peningkatan partikel polutan.


Partikel PM10 (particulate matter) punya diameter kurang dari 10 mikrometer dan PM2,5 berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer. Partikel-partikel tersebut diyakini oleh para pakar lingkungan dan kesehatan masyarakat sebagai pemicu timbulnya infeksi saluran pernapasan, karena partikel padat PM10 dan PM2,5 dapat mengendap pada saluran pernapasan, seperti dikutip dari laporan IPB.

Selain dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan, partikel debu juga dapat mengganggu daya tembus pandang mata dan juga mengadakan berbagai reaksi kimia di udara.

"Nilai konsentrasi tertinggi mencapai 190 mikrogram/m3 pada jam-jam tertentu. Untuk Jakarta, konsentrasi partikel polutan memiliki variasi harian pada jam-jam tertentu mencapai nilai konsentrasi tinggi," lanjut Hary.

Menurutnya, pada jam-jam sibuk di pagi hari nilai konsentrasi partikel PM10 tinggi lantaran beban transportasi. Sementara konsentrasi partikel PM2.5 akan menurun jelang tengah hari.

Regulasi keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 45 tahun 1997 terkait Standar Pencemar Udara di Indonesia (ISPU), perhitungan kadar pencemaran udara dihitung salah satunya dari konsentrasi PM10. Untuk mengukur kualitas udara di Jakarta telah dipasang alat pengukur konsentrasi PM10 dan PM2.5.


RRN/CNNI