Selama Bertugas Cegah Karhutla Riau, 1.512 Personel Digaji Rp145 Ribu Perhari

Administrator - Rabu,10 Juli 2019 - 16:28:05 wib
Selama Bertugas Cegah Karhutla Riau, 1.512 Personel Digaji Rp145 Ribu Perhari
Ilustrasi. cakaplah.com pic

PEKANBARU : Meski kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau belum masuk kategori darurat namun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menurunkan tim gabungan TNI/Polri dan unsur masyarakat sebanyak 1.512 orang untuk pencegahan Karhutla di Riau.

Tim gabungan ini akan diturunkan ke desa-desa rawan Karhutla di kabupaten/kota se-Riau untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat soal bahaya membakar lahan.

Bahkan setiap personel akan mendapat upah Rp145 ribu setiap harinya kepada 1.512 orang tersebut selama misi pencegahan dilakukan, yakni selama kemarau di Provinsi Riau berakhir yang diperkirakan sampai September 2019.

"Setiap orang akan menerima anggaran resmi dari pusat untuk pencegahan, jadi satu orang itu Rp145 ribu," kata Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo seperti sitat CAKAPLAH.COM, Rabu (10/7/2019) di Pekanbaru.

Doni mengatakan, pemberian anggaran tersebut tidak hanya untuk 1.512 orang tim gabungan pencegahan Karhutla Riau. Tapi juga untuk lima provinsi  yang sudah menetapkan status siaga Karhutla. Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimatan Selatan.


"Jadi anggaran itu berlaku sama, setiap hari mendapat alokasi anggaran Rp145 ribu per orang. Anggaran itu bukan hanya untuk TNI/Polri, tapi ada untuk unsur LSM, media, budayawan, ulama, dan penyuluh pertanian yang tergabung dalam tim gabungan," paparnya.

Lebih lanjut Doni mengatakan, setiap provinsi terdapat tim gabungan 1.512 orang. Dimana 1.000 personel TNI, 205 personel Polri, kemudian sisanya tim gabungan dari LSM, Media dan lainnya.

"Jadi mereka ini turun ke desa-desa memberi penyuluhan kepada masyarakat, melakukan berbagai hal yang positif, supaya tidak dipengaruhi orang untuk membakar lahan," ujarnya.

Tim tersebut, kata Doni, nanti akan difasilitasi oleh Satgas untuk berada di  dibagi tugasnya di desa-desa. Misalnya media tugasnya bisa menyampaikan informasi ke publik, apa sebenarnya yang terjadi di lapangan.

"Karena tanpa kerjasama, seperti melibatkan media mungkin hasilnya tidak akan maksimal dalam upaya pencegahan Karhutla," pungkasnya.


RRN/CKP