Perjuangan Membangun 'Benteng' Mangrove di Tongke-Tongke

Administrator - Senin,17 Juni 2019 - 16:37:46 wib
Perjuangan Membangun 'Benteng' Mangrove di Tongke-Tongke
Ilustrasi. cnni pic

Jakarta : Menghasilkan sesuatu yang besar, tidak selamanya harus dilakukan secara masif dan memiliki modal tak bertepi. Hal inilah yang terjadi dengan hutan mangrove (bakau) Tongke-Tongke di Desa Tongke-Tongke, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Sulawesi Selatan.

Kawasan hijau seluas 173,5 hektare (ha) yang terletak sekitar tujuh kilometer dari pusat kota Sinjai ini merupakan hutan mangrove terluas dan terapat di Indonesia.

Tak heran jika hutan mangrove Tongke-Tongke, yang telah berusia 25 tahun ini, menjadi referensi destinasi ekowisata nasional.

Kisah 'terciptanya' hutan mangrove Tongke-Tongke ini, bermula dari asa sederhana seorang lelaki Desa Tongke-Tongke bernama Taiyeb.

Desa yang menjadi tempatnya berpijak bersama warga lainnya, kerap diterpa banjir rob dan hantaman ombak besar menyapu bibir pantai.

Kondisi itu memicu Taiyeb mencari cara bertahan hidup di desanya tanpa lari dari masalah.


Pada suatu hari ia mengamati desa tetangga, yakni Desa Samataring yang memiliki banyak tambak dan dipagari pohon mangrove.

Ia kemudian menanyakan cara menanam, hingga meminta bibit tanaman mangrove untuk memulai langkahnya.

Berangkat dari pengetahuan praktis dan sederhana, Taiyeb bersama 17 warga Desa Tongke-Tongke mulai menanam mangrove di sepanjang bibir pantai di desanya.

"Awalnya memang banyak kendala, tidak semuanya tumbuh dengan baik, tapi kami tidak putus asa, kami mencoba dan terus mencoba," ujar Taiyeb, seperti sitat CNN Indonesia, Senin (17/6/2019).

Kegigihan Taiyeb bersama para kerabat akhirnya membuahkan hasil setelah empat tahun. Pada tahap awal, mereka sudah menghasilkan hutan bakau "kecil" seluas 90 hektare.


Mereka sama sekali tidak terpikirkan untuk 'diganjar' penghargaan apalagi dipuja-puja, namun apa yang dilakukannya ternyata membuat pihak pemerintah Indonesia menjadikannya contoh untuk warga negara yang lain.

Pada tahun 1995, mereka diundang ke Istana Negara mendapatkan penghargaan bidang lingkungan "Kalpataru" oleh Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto.

Namun penghargaan itu tak membuatnya berpuas diri, namun menjadi pemacu untuk berbuat lebih banyak dalam mengembangkan hutan mangrove Tongke-Tongke.

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sinjai pada 2017, hutan mangrove Tongke-Tongke memiliki luas sekitar 173,5 ha.

Atas upayanya itu Taiyeb pun kebanjiran undangan untuk membantu pembibitan dan pengembangan tanaman mangrove di kabupaten lain di Sulsel, seperti Kabupaten Wajo, Kota Parepare hingga keluar Provinsi Sulsel yakni di Timika, Papua.

"Saya diajak Prof Nurdin dari Universitas Hasanuddin untuk menanam 57 ribu bibit bakau di Timika selama tiga bulan di sana dan saat itu dibantu 12 orang Papua," ujarnya.


Menurutnya selalu ada kepuasan batin ketika membantu daerah lain mengembangkan hutan mangrove. Baginya berbagi pengetahuan dan pengalaman adalah hal yang sellau menyenangkan untuk dilakukan, tanpa ada rasa khawatir jika hutan mangrove Tongke-Tongke yang dirintisnya mendapat pesaing baru.

Ia mengaku hanya ingin menular asa yang dimilikinya untuk menjaga lingkungan dan daerah dari bencana abrasi dan banjir rob.

Baginya mengembangkan bibit dan terus menanam tanaman mangrove sudah menjadi jalan hidupnya.

"Setidaknya apa yang kami lakukan ini dapat dinikmati bersama, sekaligus menjadi sumber pendapatan bagi warga desa, khususnya janda-janda untuk menyekolahkan anaknya dari hasil pembibitan mangrove," kata Taiyeb.

Kini hutan mangrove yang diprakarsai Taiyeb telah menjadi kawasan Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove (PRPM) Tongke-Tongke, sehingga selain menjadi objek ekowisata juga menjadi laboratorium bagi para peneliti baik dalam dan luar negeri.

Hutan mangrove ini juga menjadi tempat berkembangnya biota laut, di antaranya adalah kepiting bakau, udang dan ikan-ikan kecil untuk bertelur sebelum ke laut lepas.


RRN/CNNI