GERAKAN PETANI CIOMAS BOGOR DI MASA PEMERINTAHAN KOLONIAL BELANDA

Administrator - Rabu,15 Mei 2019 - 15:11:31 wib
GERAKAN PETANI CIOMAS BOGOR DI MASA PEMERINTAHAN KOLONIAL BELANDA
wendy

RADARRIUANET.COM: Peran gerakan petani dalam perjuangan membebaskan rakyat dari penindasan dan penghisapan Kolonial Belanda di Bumi Indonesia sangat besar,sebagaimana mayoritas penduduk Indonesia bermata pencarian  menjadi petani, tanah merupakan modal dasar untuk mempertahankan hidup bagi Rakyat Pribumi diwariskan secara turun – temurun kepada anak – cucu sebagai tempat tinggal dan  lahan pertanian ditanami berbagai jenis tanaman sebagai kebutuhan pangan, obat – obatan dan bahan baku untuk berbagai macam kebutuhan hidup lainnya.

Begitulah kehidupan rakyat pribumi dalam menjalani hidup mengandalkan tanah sebagai penunjang kehidupan secara keberlanjutan, maka lahan tanah bagi manusia Indonesia menjadi faktor utama dibidang sosial –ekonomi, kekayaan seseorang diukur dari luasan kepemilikan tanah dan bangunan rumah, kadang – kadang ditingkat keluarga seringkali memicu konflik antara kakak – adik disebabkan perebutan harta warisan peninggalan Orangtua yang biasanya adalah tanah dan bangunan rumah.

Bisa kita lihat munculnya dalam satu keluarga disebabkan pembagian dari luasan tanah dikarenakan ketidak puasan salah satu pihak merasa tidak seimbang atau tidak adil, sehingga menimbulkan konflik diantara keluarga sendiri, bahkan bisa terjadi kekerasan fisik yang mengakibatkan kehilangan nyawa dari salah satu pihak, merasa sama – sama punya hak untuk memiliki bagian lebih besar dan menganggap aturan hukum agama ataupun negara mengenai hak waris tidak menguntungkan salah satu pihak.


Gambaran tersebut adalah konflik dari susunan terkecil masyarakat dalam tingkatan keluarga yang disebabkan kepemilikan tanah membuat orang lupa daratan, sudah tidak melihat lagi sanak – saudara yang dihadapi karena persoalan pembagian luasan tanah, kepemilikan luasan tanah menentukan tingkatan kelas dalam masyarakat dan harga diri seseorang, jadi tidak heran apabila tanah menjadi penyebab konflik di Bumi Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencarian sebagai petani, menjadi corak tersendiri bangsa ini dalam perlawanan terhadap kolonial Belanda bermula dari penguasaan tanah secara sepihak.  

Semenjak abad 19-an sejarah mencatat bagaimana perlawanan rakyat terhadap pemerintah kolonial Belanda dilatar belakangi penguasaan tanah, pemungutan pajak dan tanam paksa yang membuat rakyat hidup menderita, menurunkan masyarakat pribumi menjadi kelas paling bawah sebagaimana terjadi didaerah Bogor setelah diberlakukannya aturan kebijakan tanah partikelir oleh Pemerintah Kolonial Belanda dibawah perintah Gubernur Jendral Herman Willem Daendels dan Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles,

Kebijakan Tanah Partikelir ini sebuah aturan kebijakan yang mengatur penjualan tanah bisa dibilang memaksa rakyat Pribumi menjual tanah dan tanaman serta menyerahkan wilayah juga penduduk diatasnya dalam jangka waktu tidak ditentukan batasnya dan memberikan hak – hak istimewa kepada para Tuan Tanah, Tanah – tanah tersebut berlokasi disekitar Batavia, dan sebagaian besar berada di daerah pedalaman antara Batavia dan Bogor, daerah Banten, Karawang, Cirebon, Semarang, dan Surabaya. Pada awal kekuasaan VOC tanah tadi dihadiahkan kepada penanggung jawab kententraman dan keamanan di sekitar daerah Batavia, sedangkan sebagian kecil ada yang diberikan kepada kepala – kepala pribumi.


Kekuasaan para tuan tanah karena adanya hak – hak istimewa dari Pemerintah Kolonial Belanda membuat para tuan tanah bertindak sewenang – wenang terhadap penduduk yang bermukim disana membuat menderita dan sengsara petani diperas tenaganya dan tanaman yang dihasilkan sepenuhnya dikuasai para tuan tanah – tuan tanah tersebut,para petani diwajibkan membayar pajak dengan harga tinggi dan bekerja rodi selama lima hari dalam setiap bulannya dengan mengerjakan pekerjaan – pekerjaan berat, merasa diperas dan dihisap petani oleh para tuan tanah – tuan tanah tersebut, pada tahun 1886 para petani di lereng bagian  Gunung Salak menggalang kekuatan melakukan perlawanan terhadap para tuan tanah – tuan tanah yang selama ini menghisap dan menindas mereka.
 
Gerakan perlawanan petani ini lebih dikenal dengan nama Gerakan Pemberontakan Petani Ciampea sebagai kebangkitan gerakan petani didaerah Bogor yang tumbuh secara terorganisir menyisir kekuatan massa petani mencapai kurang lebih 2.000 orang sebagai bentuk protes yang dilatar belakangi melawan sistem penghisapan dan perbudakan yang dilakukan oleh para Tuan tanah yang diberikan hak istimewa oleh pemerinta Kolonial Belanda melalui kebijakan tanah partikelir yang sangat – sangat  merugikan kehidupan petani.   
   
Gerakan perlawan petani Ciomas yang dipimpin langsung oleh Mohammad Idris  bercorak kedaerahan berawal dari situasi sosial ekonomi didaerah Ciomas, para petani dihadapkan pada   kondisi sosial ekonomi yang tidak menguntungkan karena tenaganya dieksploitasi oleh tuan tanah, para pengawas, dan petugas tuan tanah lainnya yang menuntut pelayanan kerja yang berat serta pemenuhan pajak yang tinggi.


Gerakan perlawanan petani Ciomas memperlihatkan adanya spontanitas baik waktu timbul maupun selama masa berkembangnya, yang ditunjang juga dengan iklim atau situasi politik yang benar – benar telah diperhitungkan akan timbulnya gerakan perlawanan. Peristiwa perlawanan petani Ciomas merupakan suatu corak atau model perjuangan yang berlatar belakang perbedaan kepentingan dan tujuan antara tuan tanah, pemerintah, dan pegawai – pegawai lainnya dengan kaum petani di lain pihak. Pertentangan kepentingan dan tujuan itu, pada akhirnya dapat dilakukan dalam bentuk perlawanan secara keras dari pihak petani sebagai protes akibat tekanan – tekanan yang berat.

Dari kondisi-kondisi yang di alami oleh para petani tersebut, atas nama perikemanusian yang menuntut keadilan, akhirnya meletus sebuah pemberontakan para petani untuk terlepas dari jerat penindasan para tuan tanah yang di awali pada tanggal 22 Februari 1886, ketika mereka membunuh Camat Ciomas,  RM.H.Abdurrachman  Adimenggala dan masih pada bulan februari itu juga arpan bersama kawan – kawannya mengundurkan diri ke pasir paok, dan di sana mereka menolak untuk menyerah kepada tentara pemerintah kolonial. Sebulan sebelum pecahnya pemberontakan Ciomas.

Mohammad Idris seorang petani yang dilahirkan di Ciomas telah mengundurkan diri kelas Gunung Salak. Kemudian pindah dari satu tempat kelas tempat lain, Muhammad idris yang sangat marah kepada tuan tanah beserta bawahannya melakukan propaganda mengajak para petani lainnya untuk melakukan pemberontakan dengan dasar kesamaan kondisi penderitaan.


Akhirnya pada suatu pertemuan, Idris dan pengikutnya merencanakan untuk menyerang Ciomas. Tanggal 19 Mei 1886 sesuai rencana Ciomas Selatan telah di kuasai oleh Muhammad idris dan pengikutnya dan selama menduduki daerah tersebut mereka tidak melakukan perampokan terhadap gudang – gudang di Sukamantri, Gadong, dan Warungloa. Bahkan sebaliknya mereka menyatakan, bahwa serangan yang dilancarkannya itu tidak dimaksudkan untuk merampok kekayaan, tetapi serangan tersebut hanya ditujukan khusus bagi pribadi tuan tanah.

Umumnya gerakan-gerakan yang terjadi di Indonesia merupakan suatu ketidakpuasan terhadap pemerintah terutama pemerintah kolonial, yang sebagian besar mereka bertindak sewenang-wenang terhadap kaum marginal atau petani yang ada di Indonesia, terutama di pulau Jawa. Umumnya para petani yang melakukan gerakan ini mengungkapkan suatu bentuk protes yang mendasar terhadap keadaan hidup yang terjadi di pedesaan.

Hampir dari semua gerakan yang telah terjadi, menunjukkan adanya konsep Ratu Adil. Ciri penting dari pemberontakan Ciomas adalah adanya bentuk perlawanan baik perseorangan maupun kelompok dan hal itu terjadi tanpa diduga-duga.


Ketua KPW – STN Jawa Barat


RRN/WH