Peneliti Salahkan YouTube yang Bikin Bumi Datar Menjamur

Administrator - Jumat,15 Maret 2019 - 12:33:49 wib
Peneliti Salahkan YouTube yang Bikin Bumi Datar Menjamur
Penganut Bumi datar mempertanyakan mengapa horizon tak tampak bengkok. cnni pic

Jakarta: Peneliti menyalahkan situs berbagi video YouTube menjadi penyebab makin menjamurnya penganut teori bumi datar. Kecurigaan ini muncul setelah memantau pertemuan besar tahunan penganut bumi datar di Raleigh, North Carolina, pada tahun 2017, serta di Denver, Colorado, tahun lalu.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap 30 orang, ada pola serupa bagaimana mereka menerima ide bahwa Bumi berbentuk datar. Dua tahun lalu, hampir seluruh responden sebelumnya mempercayai bahwa Bumi berbentuk bulat.

Tapi pendirian mereka berubah setelah mereka menonton video di YouTube. Beberapa bahkan mengatakan awalnya mereka melihat video untuk mencari bukti kesalahan, namun malah ikut terpengaruh.


"Satu-satunya orang dengan cerita berbeda, adalah seorang ayah yang diberitahu oleh anak perempuan serta menantunya yang lebih dahulu melihat video di YouTube," kata Asheley Landrum, pimpinan riset Universitas Teknologi Texas, seperti sitat CNN Indonesia.

Landrum mengumumkan hasil penelitian ini di pertemuan tahunan Asosiasi Amerika untuk Pengembangan Sains, di Washington DC, Amerika Serikat. Wawancara juga mengungkap bahwa lebih dahulu penganut-penganut tersebut menonton video-video konspirasi, dengan alternatif konspirasi peristiwa 9/11, penembakan sekolah Sandy Hook, dan konspirasi pendaratan Bulan palsu oleh NASA.

Algoritma YouTube kemudian bekerja dengan merekomendasikan tontonan mereka ke video bumi datar. Landrum mengatakan salah satu video yang populer adalah "Eric Dubay: 200 Proofs Earth is Not a Spinning Ball". Video berdurasi hampir dua jam tersebut menghadirkan berbagai argumen, dan dinilai menarik dari berbagai pola pikir, dari pembaca kitab suci dan penganut teori konspirasi, hingga kalangan yang lebih ilmiah.


Berbagai pertanyaan yang keluar dari kalangan tersebut adalah "Dimana bengkoknya?" atau "Kenapa horizon selalu ada di level mata?"

Landrum mengatakan bahwa YouTube tidak keseluruhan bersalah atas fenomena ini, namun mereka perlu memperbaiki algoritma mereka untuk menampilkan informasi yang lebih akurat.

"Ada banyak informasi yang berguna di YouTube, tapi juga banyak misinformasi," kata Landrum. "Algoritma mereka mudah membuat orang tersesat dengan menampilkan informasi yang rentan terhadap orang-orang."

"Mempercayai bumi itu datar juga tidak merugikan secara total, namun masalah datang bersama dengan ketidakpercayaan terhadap institusi dan otoritas. Kami ingin orang-orang kritis terhadap informasi, tetapi harus ada keseimbangan," tambahnya lagi.


Landrum memanggil peneliti lain untuk membuat video YouTube tandingan untuk melawan maraknya video konspirasi. Akan tetapi ia mengkhawatirkan bagaimana beberapa penganut bumi datar tidak terpengaruh terhadap penjelasan ilmiah dunia.

Ladrum mencontohkan ketika astrofisikawan Amerika Serikat, Neil deGrasse Tyson menjelaskan soal horizon yang tetap datar. Menurutnya, bagi mahkluk yang sangat kecil sebagian wilayah dari benda bulat akan tetap terlihat datar. Namun, penganut bumi datar meremehkan penjelasan tersebut.

"Akan selalu ada bagian kecil masyarakat yang menolak penjelasan dari pakar sains, namun ada juga yang berada di area abu-abu. Satu-satunya cara melawan misinformasi adalah adalah memberikan informasi benar lebih banyak."


Saat ini, YouTube sendiri tengah mengembangkan fitur dimana topik-topik kontroversial akan dihubungkan ke artikel-artikel yang telah terverifikasi. Sehingga, pencarian topik konspirasi dan kontroversial akan terhubung ke video verifikasi atau topik yang benar.

Cara ini mungkin tidak akan menghentikan pengunggahan video-video konspirasi atau semacamnya, namun Youtube dapat memberi peringatan hoaks dan menghubungkan pada situs yang lebih terpercaya.

Dilansir dari Techradar, jurubicara Youtube mengatakan bahwa fitur ini "Sebagai bagian dari upaya membangun pengalaman pemberitaan Youtube, serta mengembangkan panel informasi yang menghadirkan cek fakta dari pihak terpercaya kepada Youtube."


RRN/CNNI