Kerek Harga, Kemenhub Ingin Karet Dipakai Sektor Transportasi

Administrator - Selasa,26 Februari 2019 - 13:27:58 wib
Kerek Harga, Kemenhub Ingin Karet Dipakai Sektor Transportasi
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkapkan untuk sektor transportasi dapat menyerap produksi karet dalam negeri perlu waktu. cnni pic

Jakarta: Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bakal mengoptimalkan pemanfaatan karet domestik untuk infrastruktur dan sarana sektor transportasi. Hal itu dilakukan sebagai upaya mengerek harga karet yang tertekan.

Berdasarkan data Tokyo Commodity Exchange (TOCOM), harga karet dunia turun 16,27 persen tahun lalu. Pada Senin (25/2) pukul 17.40, waktu Jepang, harga karet RSS3 Rubber ditutup di level 192,9 yen Jepang per kilogram. Padahal, harga karet pada Januari 2017 sempat menyentuh level 351.6 yen Jepang per kilogram.

"Hal yang selama ini impor, lakukan di dalam negeri. Punya karet sendiri, diproduksi di pabrik-pabrik, dikembalikan ke masyarakat," ujar Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi usai menghadiri rapat koordinasi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, seperti sitat CNN Indonesia, Selasa (26//2019).

Budi mengungkapkan untuk sektor transportasi dapat menyerap produksi karet dalam negeri perlu waktu. Pasalnya, pelaku usaha biasanya sudah membuat perencanaan di awal tahun. Selain itu, kemampuan dalam negeri untuk memproduksi peralatan yang diperlukan juga terbatas.


Kendati demikian, Budi memperkirakan optimalisasi penyerapan bisa terwujud dalam setahun ke depan.

Jika diperlukan, Budi tak menutup kemungkinan bakal menerbitkan beleid terkait penggunaan karet dalam negeri di sektor transportasi.

"Kami lihat regulasinya seperti apa sejauh memungkinkan akan kami buat," ujarnya.

Berdasarkan proyeksi Kemenhub, kebutuhan karet alam di sektor transportasi mencapai 460 ribu ton per tahun untuk ban kendaraan bermotor dan 110 ribu ton per tahun untuk ban vulkanisir.
Kemudian karet alam juga digunakan untuk bantalan rel kereta api terdiri dari rubber pad 771.333 kilogram (kg) per 5 tahun, jembatan kereta api 387.602 kg per 5 tahun, jalan layang kereta api 9.405 kg per 5 tahun, stasiun 32.275 kg per 5 tahun, dan sintelis 25 ribu kg per 5 tahun.


Selain itu, karet alam juga digunakan untuk akses jalan keluar dan masuk pelabuhan penyeberangan, perkerasan jalan pabrik, dan perkerasan ada trestel dan causway. Selanjutnya, karet alam juga bisa digunakan untuk perkerasan pada area kendaraan siap muat, traffic cone, serta pagar pengaman jenis roller barrier, water barrier, dan concrete barrier.

"Kami mendorong kepada pelaku industri untuk bisa memproduksi bahan karet untuk kepentingan transportasi darat seperti traffic cone, water barrier, dan roller barrier," ujar Direktur Jenderal Perhubungan Darat Budi Setiyadi di tempat yang sama.

Sebagai informasi, berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi karet tahun lalu mencapai 3,76 juta ton atau 2 persen lebih tinggi dari targetnya 3,68 juta ton.


RRN/CNNI