Pilpres 2019 Demokrasi Zonder Literasi

Administrator - Kamis,31 Januari 2019 - 01:43:55 wib
Pilpres 2019 Demokrasi Zonder Literasi
illustrasi. Pilpres 2019 Demokrasi Zonder Literasi. Foto: Geotimes.co.id

RADARRIAUNET.COM: Ibarat menyaksikan pementasan drama, jalan cerita menuju Pilpres 2019 terasa makin hambar, membosankan, bahkan menjengkelkan. Narasi yang disuguhkan ke hadapan rakyat sebagai pemilih, masih berputar putar pada logika dan semantika dangkal, janggal dan parsial.

Belum menukik pada isu krusial dengan narasi besar berbasis ilmu pengetahuan dan keadaban. Kedua pasang kandidat masih berkutat pada tema-tema emosional dan sentimental untuk menyedot perhatian rakyat dengan sebaran opini yang jauh sekali dari etos pendidikan politik yang ditopang dengan struktur etik dan spirit estetik.

Dengan kata lain, pertunjukan pilpres kali ini larut dalam demokrasi teramat super liberal dan liar tanpa arah dan tujuan. Sehingga, pilpres kali ini hanyalah sebuah pertunjukan demokrasi, zonder atau tanpa pijakan literasi.

Sejak awal kedua pasangan ini mendeklarasikan diri untuk maju dalam kontestasi, baik petahana maupun penantang, genderang opini mulai ditabuh dengan diksi-diksi negatif destruktif. Diawali dengan imajinasi fiksi negara ini akan bubar, tempe setipis kartu ATM, interpretasi tampang dan profesi yang terkesan merendahkan sampai pada negara akan punah. Itulah sebagian diksi atau pilihan semantik dari penantang.

Petahana dan pendukungnya pun tak kalah sengit sehingga terlontarlah; genderuwo, sontoloyo dan pilihan diksi lain yang juga setara ketidakmenarikannya. Diteruskan dengan pembelaan dan apologi dari pendukung kedua pasangan yang terang benderang tanpa berpijak pada nalar sehat dan kewarasan.

Prosesi menuju pencoblosan kurang sembilan puluh hari lagi. Seyogyanya, kedua pasang kandidat berpikir ulang, apakah pertunjukan demokrasi yang tak laik dan tak apik ini akan tetap diteruskan?

Atau akan berubah menjadi orkestrasi demokrasi nan cantik? Jika demikian, sebagai rakyat tentulah kita boleh bergembira, politik tidaklah kumuh dan saling bunuh. Melainkan ekspresi puncak ilmu pengetahuan dan capaian tertinggi seni.Jika harapan baik ini yang dipilih kedua pasangan, skenario dan strategi yang didisain menuju kemenangan, haruslah berangkat dari pijakan literasi, daya cipta dan kreativitas seni.

Segala aspek terkait upaya meraih kuasa, bersandar pada ilmu pengetahuan, sains dan olah rasa estetika. Bukan sekadar opini asalan dengan kebebalan bernalar.Mulai dari visi-misi, tentu haruslah berbasis data kongkret yang bisa dipertanggungjawabkan. Didukung kerangka teoritik-paradigmatik yang saintifik.

Diteruskan pada segala bentuk turunannya berupa program program yang bisa diwujudkan dan masuk akal. Sampai pada bentuk artikulasi, ekspresi, sosialisasi yang mampu menyentuh kedalaman akal budi, dengan daya cipta dan kreativitas seni.Kedua pasangan boleh saja menganggap pertarungan pilpres ini seumpama perang.

Namun perangnya adalah perang otak, intelektual, konseptual, tarung kesabaran, tata kelola emosi dan kesiapan penuh stamina rohani. Bagaikan pertunjukan orkestra, tim pemenangan kedua pasangan mestinya dipimpin seorang konduktor mumpuni, yang amat piawai memandu berbagai lagu dan penuh akurasi memimpin beragam komposisi.

Tak ada salahnya jika petahana menduplikasi Barack Obama melawan Mitt Romney dalam palagannya yang kedua. Penantang silakan saja meniru Trump dalam melawan Hillary. Namun jangan keliru duplikasi. Berupayalah seperti pertunjukan orkestra ala Indonesia yang dimainkan dalam nada indah berirama.

Dan tentu saja berpegang teguh pada sistem nilai dan keadaban bangsa kita.Memang sudah seharusnya, dimulai dari sekarang, demokrasi terutama dalam hal pilpres, berangkat dari epistemologi hingga implementasi nan cantik dan menarik. Jika tidak juga, negeri ini akan terus terperangkap dalam labirin kejumudan dan rakyat sendiri akan terus berkonflik, karena para elite yang berada di puncak terus mempertontonkannya.

Jika tidak ada kesadaran untuk perbaikan, demokrasi di negeri ini akan mengalami bahaya; munculnya antipati, kemuakan dan frustasi terhadap demokrasi. Hingga benarlah apa yang dikatakan Jean Paul Sartre; demokrasi mati dibunuh oleh pengusungnya sendiri. Akankah kita bersetuju negeri ini menuju kematian demokrasi? Atau kita akan berbahagia menikmati kontestasi, orkestrasi demokrasi berbasis literasi. Carpidiem!

 

Penulis: Abel Tasman Jawaher
Sumber : Geotimes.co.id