Kertas Mengikis Komunikasi Lisan

Administrator - Kamis,31 Januari 2019 - 01:37:13 wib
Kertas Mengikis Komunikasi Lisan
Kertas Mengikis Komunikasi Lisan. Foto: Geotimes.co.id

RADARRIAUNET.COM: Mungkin kita sekarang ini harus berterima kasih banyak pada Ts’ai Lun lewat penemuannya. Kertas membuat ilmu pengetahuan menjadi mudah ditransfer pada akhirnya. Sebelumnya kita harus mendatangi sang guru untuk memperoleh ilmu yang ia punya, tapi dengan membaca tulisannya kini kita bisa mempelajari ilmu yang ia punya.

Kebudayaan lisan sedikit terpinggirkan dengan kemunculan kertas karena orang orang lebih suka membaca secara pribadi dan bisa berhenti sekehendak hatinya. Bedakan dengan budaya lisan. Kita tidak bisa menghentikan sang pengkisah untuk menuturkan kisahnya.

Kertas memainkan peran vital menumbuhkan budaya literasi. Ia menstimulasi seseorang untuk menuliskan dan menggambarkan ide ide yang ia punya agar bisa dimaknai dan diartikan oleh orang lain. Apa yang ditulisnya lebih teratur dibandingkan saat ia ceritakan melalui lesan; yang beresiko lupa.

Pada mulanya, ilmu pengetahuan ditransfer dengan diceritakan secara lesan. Untuk medapatkannya kita harus mendatangi lokasi guru tersebut. Dan ditambah lagi kita harus mengingatnya saat proses pembelajaran itu. Sungguh sebuah perjuangan yang tiada tara bagi penuntut ilmu.

Dunia mendadak terkaget kaget dengan ditemukannya  kertas ini, terlebih saat Guttenberg menemukan mesin cetak. Kertas dan mesin cetak seolah kawin dan sepadan  untuk menebarkan ilmu pengetahuan secara dispersal karena cetak memungkinkan penggandaan secara berlebihan dan cepat.

Dengan mesin cetak, kita tidak lagi menulis dengan tangan berkali kali saat hendak menggandakan ide yang kita tuliskan. Kita cukup menuliskan sekali dan akan dikonversi pada mesin cetak untuk diperbanyak sebanyak yang kita butuhkan. Luar biasa.

Ilmu menyebar ke mana mana seiring kertas yang telah dicetak secara banyak. Orang tak lagi ingin mendengar kisah tapi mereka ingin membacanya secara personal. Larut dalam imajinasi saat membaca. Berinteraksi dengan aksara aksara yang tercetak di dalamnya.

Tak ada lagi batas geografis saat budaya tulis mulai menonjol. Melalui tulisan di media kertas  ini, transfer budaya menjadi lebih cepat. Kertas yang mudah dibawa ke mana mana mempercepat berpindahnya pengetahuan dan informasi.

Dunia semakin terbuka karena orang orang bisa membaca informasi yang ditulis  yang di seberang sana. Mereka bisa saling berbagi gambar dalam bercerita. Aspek visual menjadi lebih mudah dengan gambar yang terpambang di media kertas dari pada sekedar lesan belaka.

Berbagai disiplin ilmu dimudahkan dengan adanya kertas. Musik kini bisa dibaca secara teknis saat notasi ditemukan dan  partitur dituliskan di media kertas. Suara bisa direkam melalui tulisan  dan orang orang bisa membacanya serta memainkannya dengan teknik yang sama.

Untuk dunia kedokteran, mempelajari anatomi tidak lagi harus berhadapan dengan mayat. Mereka bisa mempelajarinya via selembar kertas yang telah digambar secara detail tentang anatomi tubuh seseorang.

Aktivitas peristiwa bisa lebih dramatis digambarkan bila hanya sekedar diceritakan saja. Wajah tokoh tokoh zaman dahulu masih bisa kita kenali dengan adanya sketsa sketsa wajah di dalam media kertas.

Produk produk peradaban menjadi mudah diwariskan melalui  tulisan dalam kertas. Resiko kehilangan produk budaya pun menjadi berkurang karena sudah terekam dalam kertas yang praktis untuk disimpan dan dibawa.

Jejak jejak budaya dan peradaban manusia yang terekam dalam kertas tak terhitung lagi jumlahnya. Generasi  berikutnya menjadi lebih praktis menelisik jejak jejak peradaban nenek moyang saat peradaban itu telah direkam dalam kertas,  baik yang berupa tulisan maupun gambar.

Komunikasi tertulis menjadi begitu riuh dengan adanya kertas, setelah sebelumnya harus dituliskan dalam batu, kulit, dan kain. Informasinya menjadi lebih mudah dipercaya karena tulisan tak berubah berbeda saat seseorang menyampaikannya secara lesan.

Dalam komunikasi lesan distorsi informasi tidak bisa dihindari. Informasi yang berpindah secara tutur mempunyai resiko berkurang atau berlebihan. Validitas informasinya menjadi bias. Berbeda dengan informasi yang disampaikan dengan tulisan. Dalam tulisan informasi menjadi lebih mempunyai reliabilitas. Dan orang lebih percaya pada yang tertulis daripada apa yang disampaikan lewat omongan.

Kertas telah mengubah sejarah bukan lagi  mitos yang disampaikan lewat dongeng sebelum tidur. Jejak peradaban itu kini terekam dengan apik. Sejak adanya kertas bukti kegiatan kehidupan sebagai sebuah bangsa menjadi nyata. Dokumen dokumen menjadi saksi kegiatan manusia di masa lampau. Sejarah bercerita sebagaimana adanya dokumen itu tercipta.

Dengan dituliskan,  sejarah bukan lagi bualan para pelakunya. Tulisan telah menghentikan bumbu bumbu informasi  yang kerap muncul saat diobrolkan.

Kebudayaan adalah olah rasa dan karsa yang memperkaya nurani. Kertas memainkan peranan tidak kecil dalam melestarikan peradaban. Karena dengan kertas kita merekam segala olah rasa dan laku kita untuk bisa di baca generasi berikutnya. Jejak jejak informasi pada kertas itulah yang nantinya menelurkan pengetahuan saat dibaca ulang dan diinterpretasikan anak cucu kita kelak.

Kertas telah menjadi juri yang adil bagi tukang cerita. Cerita cerita yang dikisahkannya kini telah ada dalam tulisan. Tulisan menjadi dasar otentisitas sebuah informasi dan menjadikannya abadi. Dan membaca, sekali lagi, lebih berarti dibandingkan mendengar bualan yang tak ada bukti.

 


Penulis: Guslitera
Sumber: Geotimes.co.id