BI: Asumsi Rp14.400/USD di 2019 Sesuai dengan Kondisi Global

Administrator - Senin,20 Agustus 2018 - 23:53:44 wib
BI: Asumsi Rp14.400/USD di 2019 Sesuai dengan Kondisi Global
Ilustrasi. MI/ROMMY PUJIANTO/MTVN/BI

Jakarta: Bank Indonesia (BI) memandang asumsi nilai tukar rupiah dalam Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) 2019 di level Rp14.400 per USD merupakan level yang sesuai dan realistis dengan kondisi saat ini. Hal itu sejalan dengan prediksi ekonomi global masih akan bergejolak dan memengaruhi nilai tukar rupiah.

 

Namun di sisi lain, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan, dalam konteks domestik terdapat berbagai peristiwa besar yang berpeluang mendorong pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut bisa menjadi fondasi yang kuat bagi pergerakan rupiah.

 

"Gambaran kita masih optimistis rupiah stabil di level Rp14.400. Jadi kondisi globalnya dan domestiknya masih bisa kita jaga sampai 2019," kata Dody, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Agustus 2018.

 

Sementara itu, Dody menambahkan, dari sisi pandangan bank sentral juga sudah memperhitungkan dampak kenaikan suku bunga AS dalam menentukan proyeksi rupiah. Ia mengklaim berbagai risiko telah dikalkulasi dalam perhitungan tersebut.

 

Terkait dengan pergerakan rupiah saat ini yang masih bertengger di Rp14.600-an per USD meski BI telah menaikkan suku bunga acuan, Dody mengatakan, lantaran tekanan dari global masih cukup besar. Dampak kenaikan suku bunga tidak bisa langsung membuat rupiah menguat tajam. Hanya saja, dengan kenaikan tersebut memberikan sinyal positif pada pasar keuangan.

 

"Pasar menerima bahkan dari sisi investor pasar apresiasi dengan langkah yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia," jelas dia.

 

Lebih lanjut, Dody tidak menampik, nilai tukar rupiah sekarang ini tidak berada tepat di fundamentalnya. Apalagi, pada perdagangan Kamis, 16 Agustus 2018, dalam kurs tengah BI tercatat rupiah di posisi Rp14.619 per USD. "Kita melihat sekarang masih belum pada fundamentalnya," kata Dody Budi Waluyo.

 

Oleh karena itu, menurut Dody, bank sentral masih perlu melakukan intervensi. Salah satunya dengan menaikkan kembali suku bunga acuan 25 basis poin yang telah dilakukan beberapa hari lalu. Langkah tersebut telah memberikan pengaruh pada pergerakan rupiah yang menguat dibandingkan dengan posisi sebelumnya Rp14.621 per USD.

 

"Kita akan terus jaga yang penting volatilitasnya selalu akan disesuaikan dengan target kita," jelas dia.

 

Pembatasan Impor Berdampak ke Sektor Riil

Di sisi lain, Bank Indonesia menyambut baik langkah pemerintah terkait pembatasan impor untuk menekan defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan yang membengkak. Dody mengatakan kebijakan tersebut berdampak langsung pada sektor riil dibandingkan dengan kebijakan suku bunga yang dipandang memerlukan waktu untuk bisa dirasakan oleh sektor riil.

 

"Untuk kebijakan pemerintah dari penyesuaian impor kita lihat pengaruhnya dalam waktu segera," kata Dody.

 

Dody mengungkapkan tahun ini bank sentral menargetkan defisit neraca transaksi berjalan di bawah level tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan di tahun depan diperkirakan lebih baik dari tahun ini yakni bisa dijaga di 2,5 persen.

 

"Kita akan jaga di level batas aman di bawah tiga persen," jelas Dody.

Adapun defisit transaksi berjalan melebar dari USD5,7 miliar atau 2,2 persen dari PDB di kuartal I menjadi USD8 miliar atau tiga persen dari produk PDB di kuartal II. Peningkatan defisit transaksi berjalan dipengaruhi penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas di tengah kenaikan defisit neraca perdagangan migas.

 

mtvn/abd