BI Sebut Kenaikan Suku Bunga Acuan Demi Pancing Dana Asing

Administrator - Kamis,17 Mei 2018 - 00:02:50 wib
BI Sebut Kenaikan Suku Bunga Acuan Demi Pancing Dana Asing
BI Sebut Kenaikan Suku Bunga Acuan Demi Pancing Dana Asing

Jakarta: Bank Indonesia (BI) mengaku kenaikan suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) sebesar 25 basis poin menjadi 4,5 persen dilakukan guna memancing aliran dana asing masuk kembali ke Indonesia. 

 

Deputi Gubernur Senior Bank Mirza Adityaswara mengatakan dana-dana asing di negara berkembang termasuk Indonesia banyak yang berpindah ke negara maju, terutama Amerika Serikat (AS). Hal ini seiring dengan naiknya suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 1,5 persen-1,75 persen pada Maret lalu.

 

"Karena pada 2018 ada penyesuaian lebih cepat untuk posisi aliran modal asing di negara berkembang, itu yang mengubah aliran modal di negara berkembang," papar Mirza pada media, Kamis (17/5).

 

Tak hanya The Fed, bank sentral China atau The People's Bank of China (PBOC) ikut menaikkan bunga acuannya lima bps menjadi 2,55 persen dari sebelumnya 2,5 persen. 

 

"Maka sebagai bank sentral, kami mengelola ekonomi tetap prudent. Untuk memastikan pendanaan masuk ke Indonesia tetap banyak, maka kami harus menyesuaikan suku bunga," jelas Mirza.

 

Sementara itu, Gubernur BI Agus D.W Martowardojo menyebut kebijakan kenaikan suku bunga acuan ini dilakukan demi menjaga stabilitas keuangan di tengah ketidakpastian pasar keuangan dunia yang cukup tinggi.

 

"Termasuk adanya suatu kondisi rebalancing di dunia maka kami memutuskan untuk mengeluarkan bauran kebijakan terkait kenaikan suku bunga," ungkap Agus.

 

Selain itu, BI juga berharap kebijakan ini dapat menstabilkan kembali nilai tukar rupiah yang kini terus terdepresiasi. Bila dibiarkan, maka depresiasi rupiah juga bisa berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa atau inflasi di dalam negeri.

 

"Kami tidak ingin depresiasi berdampak pada depresiasi, kami yakini kebijakan ini dapat menjaga stabilitas ekonomi di tengah kebijakan global," terang Agus.

 

Pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup menguat 0,28 persen menjadi Rp14.058 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat menyentuh angka Rp14.100 per dolar AS. 

 

agi/cnni