Aktivitas Pasar Modal Dipastikan Normal Usai Bom Surabaya

Administrator - Selasa,15 Mei 2018 - 00:44:39 wib
Aktivitas Pasar Modal Dipastikan Normal Usai Bom Surabaya
Direktur Utama BEI Tito Sulistio memastikan aktivitas perusahaan efek dan emiten, khususnya di Surabaya tetap berjalan normal usai rentetan teror bom di Surabaya. Cnni

Jakarta: Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio memastikan seluruh operasional anggota bursa (AB) atau perusahaan efek dan emiten tetap berjalan normal usai rentetan teror bom di Surabaya pada Minggu (13/5) dan Senin (14/5).

 

"Insya Allah emiten dan AB semua berjalan. Dibuktikan frekuensi saham naik," ungkap Tito, pada media Senin (14/5).

 

Ia memaparkan jumlah transaksi saham tak hanya berpusat di Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi (Jabodetabek). Namun, juga di beberapa daerah, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Lampung.

 

"Jakarta justru turun sekarang transaksi 46 persen, biasanya 55-60 persen. Artinya semakin banyak di daerah, misalnya Jawa Timur sekarang lima persen tadinya empat persen," terang Tito.

 

Selain itu, jumlah rata-rata frekuensi perdagangan per hari naik 20 persen menjadi 386 ribu per hari dibandingkan dengan tahun lalu sebanyak 322 ribu per hari. Kenaikan frekuensi perdagangan itu mengartikan tingkat likuiditas di pasar modal saat ini yang masih tinggi.

 

"Pasar sangat liquid. Itu mencerminkan pasar likuiditas pasar," terang Tito.

 

Kendati demikian, ia tak menapik ketidakpastian di pasar bertambah bagi investor, baik lokal dan asing dari ledakan bom tersebut. Sebelumnya, ketidakpastian datang dari global berupa rencana kenaikan suku bunga The Fed yang mengakibatkan rupiah tertekan.

 

"Memang minus nya, ketidakpastiannya bertambah lagi. Tapi yang saya katakan tidak ada emiten terganggu kelangsungan kerjanya," tutur Tito.

 

Makanya, manajemen BEI menanti pengumuman Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16 Mei-17 Mei 2018 terkait kebijakan BI terhadap penentuan suku bunga acuan, di tengah sikap agresif The Fed tahun ini.

 

"Jadi sekarang turun juga karena ketidakpastian saja, jawaban saya sama. Inti dari seluruhnya rupiah," tegas Tito.

 

Bila BI menaikkan suku bunga acuan, maka nilai tukar rupiah berpeluang stabil karena akan menarik investor kembali berinvestasi di dalam negeri. 

 

agi/cnni