Ada Masalah Daya Beli: Laba Alfamart Anjlok, MAP Kinclong

Administrator - Jumat,13 April 2018 - 23:49:13 wib
Ada Masalah Daya Beli: Laba Alfamart Anjlok, MAP Kinclong
Ilustrasi Allfamart. Hemat.id

Jakarta: Daya beli masyarakat di 2017 mengalami pelemahan. Saat bersamaan kinerja perusahaan ritel juga menggambarkan kondisi serupa.

 

Sepanjang 2017, beberapa gerai retail berguguran, mulai dari gerai Matahari, Ramayana, Lotus hingga Debenhams. Isu pelemahan daya beli pun sempat mencuat.

 

Namun, penutupan lapak beberapa retail malah menjadi kesempatan bagi kelompok masyarakat tertentu. Rini, warga Condet, Jakarta Timur adalah salah satu konsumen yang ingin mengambil kesempatan, ia justru berburu barang murah dan bermerek. Sebelum tutup, gerai seperti Lotus menawarkan barang-barang harga diskon. 

 

“Antrenya melelahkan, karena minimal ada tiga kali berhenti. Mulai dari antrean menuju pintu masuk, lalu antrean naik ke eskalator, dan antrean masuk ke Sports Station,” kata Rini kepada Tirto.

 

Persoalan daya beli sempat menjadi kambing hitam. Sempat dibantah pemerintah karena menilai daya beli tidak melemah, melainkan ada peralihan pola belanja di masyarakat. Namun, data-data di atas kertas menunjukkan daya beli sepanjang 2017 memang melemah apabila dibandingkan dengan daya beli pada 2016, yang dapat dilihat dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

 

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan konsumsi rumah tangga sepanjang 2017 capai 4,95 persen, atau melambat dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada 2016 sebesar 5,01 persen.

 

Mengutip Laporan Perekonomian Indonesia 2017 dari Bank Indonesia, salah satu faktor yang membuat konsumsi rumah tangga belum menguat disebabkan dampak dari kebijakan kenaikan tarif tenaga listrik (TTL). PT PLN (Persero) sudah tiga kali menaikkan tarif listrik bagi rumah tangga dengan penggunaan daya 900 VA sepanjang 2017. Kenaikan tarif berlaku pada 1 Januari, 1 Maret, dan 1 Mei 2017.

 

Daya beli yang melemah juga tampak dari rata-rata pertumbuhan tahunan penjualan riil 2017. Menurut data dari Bank Indonesia, rata-rata pertumbuhan tahunan penjualan riil pada 2017 mencapai 3 persen, lebih lambat ketimbang 2016 yang naik 11 persen.

 

Penjualan riil tersebut mencakup suku cadang dan aksesori; bahan bakar kendaraan bermotor; makanan, minuman dan tembakau; peralatan informasi dan komunikasi; perlengkapan rumah tangga; barang budaya dan rekreasi; barang lainnya; dan sandang.

 

Kondisi daya beli di atas kertas ini ternyata berkesesuian dengan kinerja perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), di antaranya adalah emiten-emiten retail. Meski begitu, dampak daya beli terhadap masing-masing emiten ritel tidaklah sama.

 

Hal ini karena segmen konsumen yang disasar emiten retail bermacam-macam. Beberapa emiten yang menyasar kelas menengah atas, masih dapat membukukan kinerja yang positif. Sementara perusahaan yang menyasar menengah bawah justru agak terpukul.

 

“Daya beli pada masyarakat menengah bawah memang terganggu sepanjang 2017, sehingga konsumsinya menjadi berkurang. Untuk [daya beli] menengah atas, tidak terlalu,” ujar Lana Soelistianingsih, Ekonom Samuel Aset Manajemen kepada Tirto.

 

Laba Alfaria Anjlok
Contoh, kinerja peritel yang menyediakan kebutuhan sehari-hari adalah PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT)—pengelola gerai-gerai Alfamart dan Alfamidi—mencatatkan penjualan Rp61,46 triliun sepanjang 2017, naik 10 persen dari realisasi tahun sebelumnya Rp56,10 triliun.

 

Kinerja positif dari sisi penjualan, ternyata tidak diikuti dari sisi keuntungan. Sumber Alfaria meraup laba bersih sebesar Rp257,73 miliar sepanjang 2017, anjlok 54 persen dari tahun sebelumnya sebesar Rp553,83 miliar.

 

Anjloknya laba Sumber Alfaria disebabkan meningkatnya beban penjualan dan administrasi hingga 16 persen menjadi Rp10,34 triliun dari sebelumnya Rp8,93 triliun. Beban terbesar disumbang dari gaji, upah, dan kesejahteraan karyawan sebesar Rp696,52 miliar.

 

Sedangkan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RALS)—peritel untuk konsumen kelas bawah ini mencatatkan penjualan Rp4,78 triliun turun 6 persen dari sebelumnya Rp5,09 triliun. Laba bersih juga turun tipis 1 persen menjadi Rp406,58 miliar dari Rp408,47 miliar.

 

Menurunnya pendapatan Ramayana disebabkan melemahnya penjualan dari barang swalayan yakni turun 15 persen, menjadi Rp1,83 triliun. Namun, penjualan pakaian dan aksesoris justru tumbuh 0,44 persen menjadi Rp2,95 triliun.

 

PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk. (TELE)—peritel perangkat telekomunikasi—juga ikut terkena dampak dari pelemahan daya beli. Perusahaan membukukan nilai pendapatan sebesar Rp27,91 triliun pada 2017 dari tahun sebelumnya Rp27,31 triliun.

 

Kendati penjualan tumbuh tipis, beban usaha justru naik lebih tinggi. Imbasnya, laba Tiphone tergerus hingga 11 persen menjadi Rp418,16 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp468,87 miliar.

 

Namun, ada juga emiten retail yang mencatatkan kinerja kinclong di tengah melemahnya daya beli. Misalnya, PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) berhasil meraup penjualan Rp16,30 triliun, naik 15 persen dari Rp14,14 triliun pada tahun sebelumnya.

 

Dengan penjualan tersebut, emiten yang memiliki gerai pakaian untuk kelas menengah atas itu membukukan keuntungan sebesar Rp350,08 miliar, naik 68 persen dari tahun sebelumnya senilai Rp208,47 miliar.

 

Seluruh lini pendapatan Mitra Adiperkasa mengalami kenaikan. Mulai dari penjualan eceran yang naik 19 persen menjadi Rp11,25 triliun, departemen store naik 1 persen menjadi Rp2,71 triliun, serta kafe dan restoran yang naik 21 persen menjadi Rp2,11 triliun.

 

Kinerja positif ini juga tidak terlepas dari restrukturisasi yang dilakukan Mitra Adiperkasa, yakni dengan menutup sejumlah gerai yang tidak memberikan keuntungan, serta penyisihan penurunan nilai persediaan dan kerugian penghapusan /penjualan aset tetap.

 

“Perusahaan juga terdorong pertumbuhannya seiring dengan ekspansi gerai di Vietnam dan membuka merek Zara, Massimo Dutti, Pull & Bear dan Stradivarius,” kata Fetty Kwartati, Head of Corporate Communication Mitra Adiperkasa dalam rilisnya.

 

Hasil positif juga ditorehkan PT Ace Hardware Indonesia Tbk. (ACES). Peritel yang menjual perlengkapan dan perkakas rumah tangga ini membukukan penjualan sebesar Rp5,87 triliun atau tumbuh 20 persen dari Rp4,88 triliun.

 

Seluruh lini penjualan mengalami kenaikan yang positif. Untuk penjualan produk perbaikan rumah mencapai Rp3,31 triliun, naik 17 persen. Produk gaya hidup tercatat Rp2,39 triliun naik 25 persen, dan produk mainan sebesar Rp176,20 miliar, naik 36 persen.

 

Dengan hasil penjualan sepanjang 2017 tersebut, Ace Hardware meraup laba bersih sebesar Rp780,68 miliar, naik 11 persen dari realisasi laba bersih tahun sebelumnya yang mencapai Rp706,15 miliar. 

 

Kinerja positif yang ditorehkan emiten retail seperti Ace Hardware dan Mitra Adiperkasa juga didorong dari kemudahan membayar, diskon yang diberikan hingga barang-barang yang dipandang unik. Ini menggambarkan segmen konsumen yang digarap kedua retail ini lebih cenderung menengah atas.

 

“Barang-barang ACES dan MAPI kan bisa dibeli dengan kartu kredit. Cicilannya pun bisa 0 persen. Ini membantu sekali, dan mendorong orang belanja. Selain itu, barang-barang yang ditawarkan juga selalu menarik,” tutur Lana.

 

Ini juga menjelaskan mengapa penjualan barang-barang tahan lama dan pakaian masih tetap dibeli ketimbang bahan-bahan pokok. Daya beli warga menengah atas memang tidak terlalu terganggu ketimbang daya beli warga menengah bawah.

 

Bagaimana kinerja emiten retail di 2018?

Untuk di 2018, kemungkinan besar polanya masih akan sama. Emiten retail dengan konsumen menengah atas masih akan tumbuh lebih tinggi ketimbang emiten yang menyasar konsumen menengah bawah. Namun, kinerja emiten retail yang menyasar konsumen menengah atas maupun menengah bawah pada 2018 ini akan lebih baik ketimbang tahun lalu. Sedikitnya, ada tiga hal yang mendorong kinerja emiten retail lebih baik.

 

Pertama, proyeksi pertumbuhan produksi domestik bruto per kapita masyarakat yang lebih baik pada tahun ini. Kedua, adanya gelaran Pilkada serentak yang memberikan stimulus bagi belanja masyarakat. Ketiga, harga komoditas yang masih kuat.

 

“Untuk tahun ini, kami rekomendasikan LPPF [PT Matahari Department Store Tbk.] dengan target di level Rp13.500 per saham. Pertimbangannya karena PER-nya 14,7. Masih murah,” ujar Alfred Nainggolan, Kepala Riset Koneksi Capital kepada Tirto.

 

Bila melihat kinerja keuangan perusahaan retail, bagi perusahaan yang menggarap segmen menengah atas masih bisa cerah pada tahun lalu. Ini perlu jadi catatan bagi perusahaan retail lainnya.

 

tirto.id - Bisnis