Boediono tak Percaya Siklus Krisis Terjadi di 2018

Administrator - Kamis,29 Maret 2018 - 01:39:26 wib
Boediono tak Percaya Siklus Krisis Terjadi di 2018
Boediono dalam acara peluncuran laporan perekonomian Indonesia 2017 di kantor Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu, 28 Maret 2018. Medcom/Suci/Mtvn

Jakarta: Mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono tak percaya dengan anggapan adanya siklus krisis 10 tahunan bakal kembali menimpa Indonesia di 2018.

 

"Kalau 10 tahunan saya tidak percaya, itu agak klenik," kata Boediono pada awak media dalam acara peluncuran laporan perekonomian Indonesia 2017 di kantor Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu, 28 Maret 2018.

 

Mantan Wakil Presiden ke-11 RI ini mengatakan memang Indonesia pernah mengalami krisis 10 tahun lalu dan 20 tahun lalu yakni 2008 dan 1998. Namun, tak bisa dibilang hal tersebut akan berulang.

 

Dirinya menjalaskan pada krisis 1998 tak ada yang menduga akan terjadi, pada saat itu diakui Boediono Indonesia tidak siap menghadapi krisis Asia tersebut terutama industri keuangan dan sistem pembayaran yang macet ikut meruntuhkan ekonomi Indonesia. Ditambah lagi pada saat itu keinginan melakukan reformasi ikut memperparah keadaan.

 

"Pada waktu itu kita enggak sadar ada el nino datang, dan membuat kekeringan luar biasa, ini menambah beban kita," ujar Boediono.

 

Kemudian untuk krisis di 2008, dirinya menilai skalanya lebih besar dibanding krisis 1998, karena kali ini lingkupnya lebih besar yakni secara global. Ada pembalikan arus modal yang luar biasa. Namun pada krisis tersebut, Boediono menilai Indonesia lebih bisa menghadapinya.

 

"Tapi Alhamdulillah kita bisa belajar dari sebelumnya, jangan sampai sistemik krisis ini terjadi dalam waktu yang lama, itu akan merusak segala-galanya," tutur ekonom UGM ini.

 

Sebenarnya, kata Boediono, sebelum adanya dua krisis tersebut, Indonesia sudah lebih dahulu menghadapi krisis besar di 1960 di mana saat itu inflasi sangat tinggi yang tak bagus bagi ekonomi.

 

Krisis kedua terjadi di 1980-an, hal ini disebabkan karena penurunan harga minyak yang ikut serta mengacaukan sisi fiskal dan moneter Indonesia, sebab penerimaan sangat bergantung dari minyak. Ketika harga minya anjlok ke level USD10 per barel, maka imbasnya ke penerimaan negara. Namun, kata Boediono, Indonesia berhasil melewatinya dengan mengurangi ketergantungan minyak dari struktur ekonomi.

 

Lebih jauh, Boediono menambahkan apabila kembali terjadi krisis, maka harus dilihat indikatornya. Namun dia meyakini krisis 10 tahunan tak akan terjadi lagi. "Kalau 2018 terjadi krisis, itu bukan karena 10 tahunan. Itu karena perilaku manusia, bukan alam. Barangkali ini yang perlu diperhatikan," jelas dia.

 

Mtvn/RRN