Mengenal Hari Darmawan, Bos Matahari Yang Tewas di Ciliwung

Administrator - Sabtu,10 Maret 2018 - 23:10:46 wib
Mengenal Hari Darmawan, Bos Matahari Yang Tewas di Ciliwung
Bos Matahari Departement Store ditemukan tewas di Sungai Ciliwung. Dok. Polsek Cisarua/cnni

Jakarta: Pemilik Taman Wisata Matahari (TWM), Hari Darmawan, meninggal dunia pada Sabtu (10/3). Sebelum meninggal dunia, pengusaha ini dilaporkan hilang.

 

Dari keterangan yang diberikan oleh Kapolres Bogor AKBP Andi Mochammad Dicky, pada Jumat (9/3), Hari Darmawan mengatakan kepada karyawannya ingin mengunjungi vila yang berada di dekat sungai kawasan Taman Wisata Matahari, Puncak, Bogor.

 

Karyawannya mengantar Hari Darmawan ke sana, lalu meminta izin mengambil air minum. Ketika kembali, sang karyawan tak menemukannya lagi. Pihak Taman Wisata Matahari lalu menghubungi Kepolisian Bogor untuk melakukan pencarian. 

 

Bersama tim SAR, jenazah Hari Darmawan ditemukan oleh warga sekitar pada pukul 06.30 WIB di sungai Ciliwung. Dengan terkejut, mereka menemukan jenazah Hari Darmawan yang telungkup dan tersangkut batu sejauh 100 meter dari lokasi hilangnya korban.

 

Nama Matahari Departement Store dikenal sebagai salah satu perusahaan ritel dengan jaringan yang tersebar di seluruh tanah. 

 

Dikutip dari berbagai sumber, saat ini Matahari Department Store berada dibawah naungan Lippo Group milik James Riady. Namun sebelum diakuisisi oleh Lippo Group, Matahari Department Store dimiliki oleh Hari Darmawan.

 

Hari Darmawan lahir pada tanggal 27 Mei 1940 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Hari Darmawan tumbuh di tengah keluarga besar. Ayahnya bernama Tan A Siong yang dikenal sebagai pengusaha keturunan Tionghoa di Makassar yang banyak berkecimpung dalam usaha produk pertanian.

 

Saat Hari Darmawan berusia lima tahun, ia sudah melihat usaha keluarganya bangkrut. 

 

Setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas, dia merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Dia bertemu dan menikahi putri dari pemilik 'Mickey Mouse', sebuah toko serba ada berukuran kecil di Pasar Baru, yang pada saat itu merupakan sebuah distrik perbelanjaan terkenal di Jakarta.

 

Ayah mertua Hari Darmawan kemudian menjual toko serba ada tersebut kepadanya. Di bawah pengelolaannya, toko berkembang pesat.

 

Pada tahun 1968, dia membeli toko serba ada terbesar di Pasar Baru waktu itu yang bernama "Toko De Zon" (dari bahasa Belanda yang berarti The Sun atau Matahari dalam bahasa Indonesia). 

 

Hari pun mengganti namanya menjadi 'Matahari' dan gerai pertama dibuka pada tanggal 24 Oktober 1958 yang menempati gedung dua lantai seluas 150 meter persegi di Pasar Baru, Jakarta. 

 

Pada tahun 1980-an, 'Matahari' membuka cabang-cabangnya di hampir semua kota besar di Indonesia dan toko tersebut terkenal sebagai toko jaringan ritel terbesar di Indonesia.

 

Pengusaha itu pun pernah terpilih sebagai Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Semasa krisis moneter tahun 1997, bisnis Darmawan terkena dampaknya dan menanggung kerugian besar. Akhirnya, bisnisnya dibeli oleh Lippo Group. 

 

Dia sendiri kemudian mendirikan perusahaan baru bernama "Pasar Swalayan Hari-Hari". 

 

Dal/asa/cnni