EDUKASI KEUANGAN

Instrumen Investasi Menjanjikan di Tengah Rupiah Loyo

Administrator - Sabtu,03 Maret 2018 - 14:49:41 wib
Instrumen Investasi Menjanjikan di Tengah Rupiah Loyo
Dalam kurun dua bulan terakhir nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat bak wahana Roller Coaster yang naik turun dengan cepat. Cnni

Jakarta: Dalam kurun dua bulan terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bak wahana roller coaster yang naik dan turun dengan sangat cepat.

 

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), di awal rupiah bertengger di posisi Rp13.542 per dolar AS dan menguat jadi Rp13.290 di akhir Januari.

 

Hanya saja di minggu terakhir Februari, kurs rupiah terus menanjak hingga mencapai Rp13.707 per dolar AS di hari Rabu (28/2) kemarin.

 

Lalu, bagaimana dari sisi investasi, mengingat nilai tukar rupiah yang terus turun ini? Instrumen investasi apa saja yang paling moncer?

 

Vice President Research Artha Sekuritas Indonesia Frederik Rasali mengatakan, investasi di mata uang asing bisa menjadi pilihan jangka pendek.

 

Frederik menilai, pembelian mata uang lain yang stabil akan membuat investor terhindar dari risiko pelemahan rupiah. Hanya saja investasi ini bersifat jangka pendek, yakni hingga pergerakan rupiah kembali stabil.

 

Frederik berujar, dolar AS, dolar Singapura, dolar Hong Kong dan yen Jepang menjadi beberapa mata uang pilihan.

 

"Jadi kalau beli dolar AS, saya rasa dua pekan lagi baru bisa jual," tutur Frederik saat dihubungi media.

 

Pasalnya, ada beberapa hal dari Gubernur Bank Sentral AS atau The Federal Reserve Jerome Powel, yakni data non-farm payroll (NFP) AS yang dicemaskan investor. 

 

Ia memprediksi, penguatan nilai tukar mungkin sudah tak terjadi, dan akan stagnan dahulu setelah dua pekan.

 

Di sisi lain, Ekonom Institue for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, penguatan dolar AS dinilai akan bertahan hingga bulan Maret mendatang saat The Fed menaikkan suku bunga yang diprediksi naik 25 basis poin.

 

Ia menilai, dengan penguatan dolar AS ini, biasanya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan terkoreksi. Kemarin saja, Rabu (28/2), harga saham ditutup turun 1,7 poin (0.02 persen) ke level 6.597.

 

Dengan koreksi di IHSG karena pelemahan rupiah, menurut Bhima, merupakan waktu yang tepat untuk membeli beberapa saham dengan Price Earning Ratio (PER) yang wajar.

 

"Investor akan mencari PER yang wajar tidak kemahalan saham itu yang akan dibeli," terang dia.

 

Menurut Bhima, saham-saham emiten yang bergerak di sektor komoditas dan tambang karena tren harga komoditas yang sedang bagus.

 

Bhima melanjutkan saham-saham aneka industri atau manufaktur juga dirasa bagus menilik dari nilai ekspor pemerintah yang tumbuh sebesar 16,2 persen.

 

"Karena sekarang permintaan global semakin bagus ekspor Indonesia juga makin bagus termasuk ekspor barang jadi," imbuhnya.

 

Investasi saham di tengah pelemahan rupiah ini dinilai Bhima sebagai investasi jangka pendek. Paling Investor bisa memarkirkan uangnya di pasar saham selama dua sampai empat bulan kedepan.

 

Bhima menambahkan, deposito juga menjadi pilihan investasi yang cukup moncer. Bhima menilai, Indonesia saat ini akan masuk ke suku bunga tinggi.

 

Hal itu terlihat dari rencana The Fed menaikkan suku bunga acuan sebanyak empat kali di tahun ini dan otomatis, kata Bhima Bank Indonesia (BI) akan ikut menaikkan suku bunga acuan (Seven Days Reverse Repo Rate/7DRR). Investasi deposito ditujukan untuk jangka panjang selama satu hingga dua tahun.

 

"Pengetatan moneter efeknya ke bunga depositonya makin menarik. Simpanan berjangkanya bisa di atas tujuh sampai 7,5 persen akan terjadi kenaikan bunga akibat pengetatan moneter," tutur dia.

 

Sementara itu, Perencana Keuangan Budi Rahardjo mengatakan, logam mulia atau emas bisa menjadi salah satu pilihan investasi di tengah Rupiah yang sedang turun ini.

 

Menurut Budi, dengan investasi emas, secara tidak langsung investor juga mengamankan uangnya dari penguatan dolar AS terhadap rupiah. Untuk meminimalisir fluktuasi harga, Budi menyarankan agar melakukan investasi emas dalam jangka panjang paling tidak lima tahun.

 

"Semakin panjang sebuah investasi risikonya akan semakin kecil. Buat orang awam juga harus memperhatikan portofolionya secara total," kata Budi.

 

Sementara itu, Frederik menilai, masyarakat tidak disarankan berinvestasi emas untuk jangka pendek. Menurutnya, pergerakan harga emas selalu berbanding terbalik dengan nilai tukar dolar AS.

 

"Sehingga selama dolar AS menguat, maka harga emas akan masih tertekan," pungkasnya. 

 

lav/cnni